Berita
Daerah
Humaniora
Inspirasi
Nasional
Refleksi
Gereja St. Petrus Palembang Rayakan Kekayaan Liturgi Melalui Misa Inkulturasi Flores-Timor
PALEMBANG, Katolik Terkini – Suasana khidmat bercampur semarak budaya mewarnai Gereja Katolik Santo Petrus Kenten, Palembang, pada Minggu pagi (3/5). Memasuki Bulan Maria, Gereja menyelenggarakan Perayaan Ekaristi Inkulturasi budaya Flores dan Timor sebagai simbol nyata perpaduan harmonis antara iman Katolik dan kekayaan tradisi Nusantara.
Perayaan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dihadiri oleh sekitar 1.000 umat. Identitas budaya Nusa Tenggara Timur (NTT) terpancar kuat melalui balutan kain tenun ikat berwarna-warni dan aksesori adat yang dikenakan oleh komunitas Flores serta Timor.
Liturgi yang Berakar pada Budaya
Rangkaian ibadah diawali dengan devosi Rosario di pendopo gereja. Menariknya, doa Salam Maria didaraskan secara bergantian dalam berbagai bahasa daerah, mulai dari Bahasa Dawan, Lamaholot, Bajawa, Sikka, hingga Manggarai. Keberagaman bahasa ini disatukan dengan jawaban doa Santa Maria dalam Bahasa Indonesia, melambangkan kesatuan umat dalam satu iman.
Puncak prosesi budaya terlihat saat patung Bunda Maria yang berhiaskan kain adat diarak menuju altar. Perarakan diiringi nyanyian devosional khas NTT dan tarian tradisional Lamaholot dari Flores Timur yang menyambut para imam serta petugas liturgi.
Misa dipimpin oleh Rm. Gregorius Wahyu Wurdiyanto, SCJ, didampingi oleh Rm. Florentinus, SCJ, serta jajaran imam asal NTT: Rm. Titus Jatra Kelana, Rm. Ongko, Rm. Damian, dan Rm. Lucio, O.Carm.
Pesan Persaudaraan dalam Keberagaman
Dalam homilinya, Rm. Wahyu menekankan peran Bunda Maria sebagai Ibu Gereja yang senantiasa mendampingi perjalanan hidup umat. Ia mengajak umat meneladani ketaatan Maria terhadap karya agung Allah.
"Komunitas Flores dan Timor sungguh hadir secara nyata di tengah kita. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan peristiwa iman yang luar biasa," ujar Rm. Wahyu memberikan apresiasi kepada komunitas NTT di Palembang.
Ia juga berharap agar misa inkulturasi ini semakin memperkuat persatuan Gereja yang bersifat universal, di mana keberagaman tidak dilihat sebagai perbedaan, melainkan kekayaan yang memperindah pewartaan iman.
Sukacita Budaya di Akhir Perayaan
Sisi dinamis budaya NTT semakin terasa pasca-misa. Para imam dan umat diantar keluar gereja dengan iringan Tarian Hegong (Maumere) dan Tarian Ja’i (Bajawa). Suasana mencapai puncak kegembiraan saat umat berkumpul di halaman pastoran untuk menarikan Tarian Caci (Manggarai) bersama-sama.
Kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan makan bersama, mempertegas semangat solidaritas serta persaudaraan antarumat di tengah keberagaman etnis yang ada di Palembang. Acara ini merupakan wujud nyata Gereja yang terbuka terhadap kearifan lokal. Inkulturasi dipandang sebagai sarana untuk memperdalam pemahaman iman melalui ekspresi budaya yang autentik.
Kontributor Palembang : Andreas Daris Awalistyo
Via
Berita




Posting Komentar