Hardiknas 2026, Yayasan Fransiskus Jakarta dan Penerbit OBOR Luncurkan Buku Pedagogi Persaudaraan
Acara ini menjadi momentum penting untuk merefleksikan arah pendidikan Indonesia di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, terutama di era digital dan kecerdasan buatan (AI). Buku tersebut menawarkan perspektif pendidikan berbasis kasih, persaudaraan, dan kemanusiaan yang berakar pada spiritualitas Fransiskan.
Sebagai pembicara utama hadir Dr. Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik sekaligus anggota Dewan Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Dasar. Ia juga dikenal sebagai Ketua Forum Pendidikan dan Persekolahan Fransiskan se-Indonesia.
![]() |
| Dr. Vinsensius Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik sekaligus anggota Dewan Pendidikan Tinggi dan Pendidikan Dasar, hadir sebagai pembicara |
Dalam ulasannya, Pater Darmin menilai buku karya RP. Agustinus L. Nggame OFM sebagai refleksi kritis yang berangkat dari akar tradisi spiritualitas Fransiskan untuk membaca dan menjawab krisis relasi dalam dunia pendidikan modern maupun pascamodern.
Menurutnya, pendidikan sejati tidak cukup dipahami sebagai proses transfer pengetahuan semata, tetapi harus berakar pada pengalaman kasih persaudaraan, relasi setara, penuh penghormatan terhadap martabat manusia, serta keterbukaan terhadap sesama dan ciptaan.
“Kekuatan buku ini terletak pada kedalaman visi antropologis dan spiritualnya yang mampu mengoreksi pendekatan pedagogi yang terlalu teknis,” jelasnya.
Pendidikan sebagai Relasi, Bukan Sekadar Sistem
Pater Darmin menegaskan bahwa di tengah maraknya model pendidikan yang semakin teknokratis, birokratis, dan berbasis algoritma, buku ini justru menghadirkan koreksi mendasar.
Ia menyebut, era AI berisiko mereduksi manusia menjadi sekadar kumpulan data yang dapat diukur, namun kehilangan kedalaman rasa, empati, dan relasi. Karena itu, Pedagogi Kasih Persaudaraan hadir sebagai jangkar kemanusiaan.
“Inti pendidikan bukan efisiensi pengetahuan, melainkan pembentukan manusia secara holistik yang mampu mencintai, berempati, dan hidup dalam relasi yang menghidupkan,” tegasnya.
Menurutnya, ketika mesin mampu menjawab pertanyaan lebih cepat daripada guru, pertanyaan paling mendasar tentang “manusia seperti apa yang hendak dibentuk” tetap hanya bisa dijawab melalui perjumpaan antarmanusia.
Dalam pemaparannya, Pater Darmin menilai buku tersebut memiliki fokus yang jelas dan alur sistematis. Buku dibangun melalui beberapa bagian penting, yakni: Pedagogi umum dan pedagogi Fransiskan, Konsep manusia dalam pemikiran Fransiskan, Nilai-nilai yang ditanamkan dalam pendidikan Fransiskan, Cinta kasih sebagai jiwa pendidikan Fransiskan, Guru ideal dalam perspektif Fransiskan.
Pater Darmin menggambarkan buku ini sebagai “ziarah batin” yang menuntun pembaca dari pemahaman dasar pedagogi menuju taman rohani pendidikan Fransiskan yang berakar pada pengalaman hidup Santo Fransiskus dari Asisi.
Di dalamnya, manusia dipahami bukan sekadar makhluk rasional, tetapi pribadi yang rapuh sekaligus terbuka pada rahmat, serta dipanggil hidup sebagai saudara bagi seluruh ciptaan.
Salah satu gagasan penting dalam buku ini ialah figur guru ideal. Dalam perspektif Fransiskan, guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, melainkan sahabat perjalanan yang menuntun peserta didik dengan cinta, keteladanan, dan kehadiran yang menyembuhkan.
Guru dipanggil menjadi pribadi yang lembut dalam sikap, teguh dalam nilai, sabar, setia, terbuka, serta mampu mengampuni demi memulihkan relasi.
“Guru bukan sekadar mengajarkan kebaikan, tetapi menghidupinya dalam integritas moral sehari-hari,” ungkap Pater Darmin.
Sekolah Sebagai Ruang Perjumpaan
Lebih jauh, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik ini, menegaskan bahwa “Sekolah Fransiskus” menempatkan Pedagogi Kasih Persaudaraan bukan sekadar metode pembelajaran, tetapi jalan hidup pendidikan.
Dalam pendekatan ini, sekolah menjadi ruang perjumpaan sejati, tempat setiap murid dipusatkan pada Yesus Kristus sebagai sumber kasih yang mempersatukan. Proses belajar tidak berhenti pada pengetahuan, melainkan menjadi transformasi hati dan pembentukan manusia utuh dalam relasi dengan Allah, sesama, dan seluruh ciptaan.
![]() |
| buku Pedagogi Persaudaraan: Menggali Konsep Pendidikan dalam Tradisi Fransiskan, karya RP. Agustinus L. Nggame OFM, Provinsial OFM Indonesia |
Menariknya, konsep Pedagogi Kasih Persaudaraan juga dinilai selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia dan semangat Pancasila.
Kasih yang menghormati martabat manusia sejalan dengan sila kedua, sementara semangat persaudaraan yang merangkul keberagaman mencerminkan persatuan Indonesia. Dalam praktik pendidikan, nilai itu hidup dalam gotong royong, dialog, dan penghargaan terhadap kebijaksanaan lokal.
"Dengan demikian, pedagogi ini bukan hanya relevan bagi sekolah Katolik, tetapi juga memberi kontribusi bagi pembangunan peradaban bangsa yang damai, adil, dan berbudaya," tegasnya lagi.
Catatan Kritis
Meski sangat kaya secara reflektif dan inspiratif, Pater Darmin juga memberi catatan bahwa buku ini masih membuka ruang pengembangan lebih konkret dalam aspek implementasi praktis di ruang kelas yang kompleks dan terdigitalisasi.
Selain itu, pembaca dituntut aktif merumuskan sendiri kata-kata kunci untuk menangkap keseluruhan peta konsep yang tersebar dalam uraian mendalam. Ia juga menilai desain sampul depan buku belum sepenuhnya merepresentasikan keluasan isi yang mencakup dimensi pedagogis, spiritual, antropologis, dan praksis pendidikan Fransiskan.
Menutup pemaparannya, Pater Darmin menyebut buku Pedagogi Persaudaraan sebagai bacaan penting bagi yayasan pendidikan, guru, dan siswa, karena menawarkan fondasi pendidikan yang menumbuhkan kasih, keadilan, dan persaudaraan sebagai inti peradaban bangsa.
“Tanpa menghidupi nilai-nilai ini, sulit membangun masyarakat damai dan menjaga keutuhan ciptaan secara berkelanjutan,” tegasnya.
Peluncuran buku ini menjadi pesan kuat pada Hardiknas 2026 bahwa pendidikan masa depan tidak cukup hanya cerdas secara teknologi, tetapi harus tetap berakar pada kasih, kemanusiaan, dan persaudaraan.(AD)



Posting Komentar