Dua Imam Tunarungu di Korea Selatan Wujudkan Gereja Inklusif bagi Penyandang Disabilitas
Katolik Terkini - Dua imam Katolik penyandang tunarungu di Korea Selatan, Pastor Park Min-seo dan Pastor Kim Dong-jun, terus berupaya membantu penyandang disabilitas agar dapat berbaur secara alami dalam komunitas Gereja serta mengambil bagian aktif dalam kehidupan menggereja.
Pastor Park Min-seo, yang ditahbiskan pada tahun 2007, tercatat sebagai imam Katolik pertama di Korea Selatan yang merupakan penyandang tunarungu. Dalam pelayanannya, ia mendampingi umat Katolik dengan kondisi serupa, membantu mereka mengikuti Misa Kudus, memahami liturgi, serta berkomunikasi melalui bahasa isyarat.
Menurut Pastor Park, bahasa isyarat bukan sekadar rangkaian gerakan, melainkan bahasa ibu yang mengekspresikan pikiran dan emosi penyandang tunarungu.
“Bagi penyandang tunarungu, bahasa isyarat bukan sekadar serangkaian gerakan, tetapi bahasa ibu yang mewujudkan pikiran dan emosi mereka,” ungkap Pastor Park seperti dikutip dari UCAnews.
Ia menambahkan, umat Katolik tunarungu dapat mendengar Firman Tuhan dengan melihat imam yang memimpin perayaan liturgi.
Pastor Park menegaskan bahwa liturgi dalam bahasa isyarat di paroki telah mengembalikan martabat pribadi dan otonomi keagamaan komunitas tunarungu. Ia mengenang, sekitar 20 tahun lalu, umat Katolik tunarungu di banyak paroki masih dipandang sebagai objek pelayanan pastoral semata.
Namun, berkat inisiatif penyelenggaraan liturgi bahasa isyarat, umat tunarungu kini semakin aktif berpartisipasi dalam perayaan liturgi maupun dalam komite pastoral paroki. Hal ini dinilai turut meningkatkan semangat inklusivitas dalam Gereja.
Penahbisan Pastor Park juga membawa dampak besar bagi komunitas tunarungu di Korea Selatan. Kehadirannya menjadi tanda bahwa penyandang tunarungu pun mampu memberikan kesaksian iman dalam bahasa mereka sendiri.
Sementara itu, Pastor Kim Dong-jun, imam tunarungu kedua yang ditahbiskan di Korea Selatan, mengaku terinspirasi oleh teladan Pastor Park untuk menanggapi panggilan imamat.
Pastor Kim kini membantu pelayanan Pastor Park di Paroki Efata. Ia menyebut Pastor Park berperan penting dalam membantu komunitas tunarungu di seluruh negeri agar semakin berakar dalam Gereja.
Nama Paroki Efata sendiri diambil dari Kitab Suci. Kata “Efata” berarti “terbukalah,” yakni kata yang diucapkan Yesus saat menyembuhkan seorang pria tunarungu.
Pastor Kim juga mengungkapkan bahwa sebelum memutuskan masuk seminari, ia terlebih dahulu berkonsultasi dengan Pastor Park, yang kemudian mendukung dan mendorongnya hingga akhirnya ditahbiskan sebagai imam.(AD)

Posting Komentar