Magnificat Anima Mea: Perjalanan Iman Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM
![]() |
| Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM |
Katolik Terkini - Bagi banyak orang, perjalanan adalah perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Namun bagi Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM, perjalanan adalah cara Tuhan membentuk manusia. Di setiap langkah, ada pelajaran, perjumpaan, dan pengalaman iman yang memperkaya hidup.
Dalam refleksi yang dibagikannya kepada Katolik Terkini, Mgr. Paskalis mengajak umat beriman untuk melihat hidup sebagai sebuah perjalanan yang terus bergerak dan bertumbuh.
"Hidup itu perlu diisi dengan perjalanan-perjalanan," tulisnya mengawali refleksi.
Pandangan tersebut lahir dari permenungannya atas kisah para tokoh besar Gereja. Ia mencontoh Rasul Paulus yang setelah pertobatannya menjalani tiga perjalanan misi besar untuk mewartakan Injil ke berbagai tempat. Hidup Paulus dipenuhi oleh gerak, perjumpaan, dan kesediaan untuk melangkah bersama orang lain.
"Patut dicatat bahwa bukan saja tujuan akhir dari perjalanan itu yang dipentingkan, tetapi terutama dengan siapa kita melakukan perjalanan itu. Paulus berjalan bersama Barnabas; kemudian ada Silas; ada Timotius dan lain-lainnya. Dia mengikuti Yesus dari Nazareth, sang Gurunya yang berjalan bersama para murid-Nya yang setia," ungkap Mgr. Paskalis.
Baginya, perjalanan hidup tidak pernah dijalani seorang diri. Selalu ada sahabat, guru, keluarga, dan sesama peziarah yang menemani langkah seseorang menuju tujuan yang lebih besar.
Meneladani Jejak Santo Fransiskus
Inspirasi lain yang sangat membekas dalam hidup Mgr. Paskalis datang dari Santo Fransiskus dari Assisi. Pendiri Ordo Fransiskan itu dikenal sebagai seorang peziarah yang tidak pernah berhenti berjalan mengikuti kehendak Tuhan.
"Saya ingat St. Fransiskus dari Assisi melakukan perjalanan setelah pertobatannya mulai dari Assisi ke seluruh Italia bahkan perjalanannya yang terjauh ke Damietta untuk bertemu Sultan serta ke Tanah Suci," kenangnya.
Semangat yang sama kemudian menggerakkan dirinya untuk melakukan berbagai perjalanan yang bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan batin.
"Dalam semangat dan mengikuti cara hidup mereka itulah, saya melakukan perjalanan-perjalanan. Perjalanan itu mempunyai temanya yang khusus: perjalanan menuju tanah kelahiran Ranggu boleh disebut perjalanan menggali nilai-nilai yang kuterima dari ayah-ibu, guru-guru SD serta teman-teman dahulu," tuturnya.
Bagi Mgr. Paskalis, pulang ke Ranggu berarti kembali menyentuh akar kehidupan yang membentuk dirinya sejak kecil. Di sanalah ia menemukan kembali nilai-nilai sederhana yang menjadi fondasi perjalanan hidupnya.
![]() |
| Napak tilas Mgr Paskalis ke Ranggu, Kisol dan Pagal, Manggarai |
Sementara itu, perjalanan menuju Seminari Kisol membawanya kembali pada masa-masa awal panggilan hidupnya.
"Perjalanan ke Seminari Kisol merupakan perjalanan menemukan kembali semangat awal cita-cita menjadi imam; perjalanan menuju Pagal – tempat saya menempuh masa Postulat OFM – adalah perjalanan menggali kembali semangat awal petualangan penuh pesona akan cara hidup St. Fransiskus dari Assisi," katanya.
Di Lembah Pagal, kenangan masa muda dan semangat awal sebagai Fransiskan kembali hidup.
"Di Lembah Pagal, keterpesonaan akan cara hidup sebagai Fransiskan diwujudkan dengan penuh semangat muda dan berkobar-kobar," tulisnya.
Bersukacita Bersama Generasi Fransiskan Muda
Semangat peziarah itu terus berlanjut hingga sekarang. Pada akhir Mei lalu, Mgr. Paskalis melakukan perjalanan ke Manila, Filipina.
"Lompatan panjang perjalanan saya lakukan pada tanggal 29 Mei hingga 31 Mei menuju Manila – Filipina," ceritanya.
Perjalanan tersebut memiliki makna khusus. Ia hadir untuk berbagi sukacita bersama lima frater OFM yang mengucapkan Kaul Kekal pada 30 Mei.
"Tujuan utama perjalanan ini adalah ikut bersukacita bersama 5 OFM muda yang mengucapkan Kaul Kekal mereka pada tanggal 30 Mei. Dengan semangat berkobar-kobar, mereka menyerahkan hidup mereka sebagai Fransiskan dalam Provinsi OFM," ungkapnya.
![]() |
| Mgr Paskalis mengikut perayaan Kaul Kekal lima Frater Fransiskan di Filipina |
Momen itu menjadi pengingat bahwa panggilan hidup religius terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi baru.
"Mereka mengharapkan agar saya boleh menikmati sukacita mereka; mereka adalah teman-teman seperjalanan yang kujumpai dalam petualangan hidup bersama Yesus dalam semangat St. Fransiskus Assisi," lanjutnya.
Dari Manila, perjalanan diteruskan menuju Tagaytay untuk mengunjungi Eco-Farm Laudato Si milik Kongregasi SVD, sebuah tempat yang menjadi wujud nyata kepedulian Gereja terhadap kelestarian alam ciptaan.
Bersama Bunda Maria dalam Setiap Langkah
Dalam setiap perjalanan, ada satu sosok yang selalu hadir menemani hidup Mgr. Paskalis: Bunda Maria.
"Teman perjalananku kali ini ialah Bapak Rafael. Secara intensional, perjalanan saya selalu diisi dengan peristiwa menjumpai Bunda Maria, melalui doa-doa di hadapan patung Bunda Maria," tulisnya.
Bagi Mgr. Paskalis, doa menjadi kekuatan yang menjaga seseorang tetap teguh di tengah berbagai perjalanan hidup.
"Bagiku, doa merupakan amunisi penting agar kita tidak lelah dan tak merasa sendiri dalam perjalanan hidup, sebab Bunda Maria selalu datang menemani kita seperti yang terjadi di Fatima," katanya.
Karena itu, setiap perjalanan selalu berujung pada rasa syukur yang mendalam kepada Tuhan. Bersama Maria, ia terus melantunkan kidung pujian yang telah bergema sepanjang sejarah Gereja.
"Karena itu bersama Bunda Maria, aku selalu bernyanyi 'Magnificat Anima Mea'."
Kalimat itu seakan menjadi rangkuman seluruh perjalanan hidup Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM: sebuah ziarah yang dijalani dengan iman, ditemani sahabat-sahabat seperjalanan, diterangi teladan Santo Fransiskus, dan selalu disandarkan pada doa bersama Bunda Maria.(AD)




Posting Komentar