Berita
Daerah
Nasional
Pelayanan Sosial
Hadapi Tantangan Modern, DPP St. Yoseph Palembang Bentuk Tim Konseling dan Bekali Pendamping Keluarga
PALEMBANG, Katolik Terkini – Keluarga Kristiani di era modern saat ini
dihadapkan pada tantangan moral, sosial, dan spiritual yang kian kompleks.
Menanggapi fenomena tersebut, Bidang Persekutuan Seksi Kerasulan Keluarga Dewan
Pastoral Paroki (DPP) Santo Yoseph Palembang menggelar "Pembekalan Pendamping
Keluarga Counseling Consultation".
Kegiatan yang berlangsung pada Senin
(1/6/2026) di Aula Pastoran Paroki Santo Yoseph Palembang ini diikuti oleh 30
peserta.
Pembekalan ini menghadirkan dua narasumber yang berkompeten di
bidangnya, yaitu Sr. M. Fransita, FCh dan Romo Albertus Bayu Christanto, SCJ.
Acara ini turut dihadiri oleh Ketua DPP St. Yoseph Palembang Frans de Sales
Billy Jaya, Koordinator Bidang Liturgi Yohanes Suwarto, serta Harlim dari Bidang
Persekutuan dan Dewan Inti DPP.
Ketua DPP St. Yoseph Palembang, Frans de Sales
Billy Jaya, dalam sambutannya menyoroti dinamika masyarakat perkotaan yang
berdampak langsung pada ketahanan keluarga.
"Kesibukan duniawi dan pengaruh
materialisme, terutama di kota besar metropolitan seperti Palembang ini, membuat
ibadah dan perenungan Firman Tuhan terabaikan. Pendampingan sangat diperlukan
untuk mengembalikan mezbah doa dalam keluarga," ujar Billy.
Ia menambahkan bahwa
angka perceraian dan konflik rumah tangga terus meningkat akibat buruknya
komunikasi dan memudarnya komitmen pernikahan. Selain itu, di era digital, orang
tua kerap mengalami disorientasi pengasuhan anak yang memicu kenakalan remaja
dan kecanduan gawai (gadget).
"Anak-anak dari keluarga yang bercerai (broken
home) membutuhkan perlindungan dan kasih sayang. Oleh karena itu, DPP St. Yoseph
Palembang bergerak cepat dengan membentuk tim konseling keluarga," tegasnya.
Seni Mendengarkan dan Pentingnya Empati Profesional
Pada sesi pertama, Sr. M.Fransita, FCh memaparkan esensi menjadi seorang konselor yang efektif.
Menurutnya, langkah awal yang paling krusial adalah belajar mendengarkan dengan
sungguh-sungguh.
"Menjadi konselor berarti harus mampu melepaskan 'kebisingan'
di dalam kepala kita sendiri terlebih dahulu. Tenangkan pikiran, fokus seutuhnya
pada orang lain, dan dengarkan dengan seluruh keberadaan kita, termasuk dari
diri kita yang paling dalam," jelas Sr. Fransita.
Beliau juga mengingatkan pentingnya membedakan antara empati dan simpati dalam pelayanan konseling guna
menghindari kelelahan mental (burnout).
"Empati adalah memahami pengalaman
seseorang dengan turut merasakannya sembari tetap menjaga jarak profesional,
sehingga memungkinkan klien melangkah lebih dalam. Sementara simpati cenderung
menyamakan diri dengan cerita orang lain hingga ikut terhanyut dalam keadaan
subjektif mereka. Ini bisa melanggar batasan profesional," paparnya.
Gereja Rumah Tangga dan Batasan Pendampingan
Sementara itu, Romo Albertus Bayu
Christanto, SCJ menegaskan bahwa Seksi Kerasulan Keluarga (SKK) merupakan
perpanjangan tangan pastor paroki untuk merangkul, mendidik, dan memulihkan
hubungan keluarga. Ia menggarisbawahi bahwa sifat kewenangan SKK adalah pastoral
dan edukatif, bukan bersifat hukum (yuridis).
Romo Bayu juga mengingatkan para pendamping yang mayoritas adalah sukarelawan awam untuk memahami batasan diri.
"Untuk kasus-kasus khusus dan berat seperti gangguan kejiwaan, kecanduan/adiksi,
dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), pendamping wajib merujuk kasus tersebut
ke psikolog, psikiater, Lembaga Bantuan Hukum (LBH), atau pastor paroki. Bukan
menanganinya sendiri tanpa keahlian khusus," tegas Romo Bayu.
Mengutip Seruan Apostolik Paus Fransiskus, Amoris Laetitia (AL 1), Romo Bayu mengingatkan bahwa
pewartaan tentang keluarga adalah kabar yang menggembirakan. Keluarga adalah
Ecclesia Domestica atau "Gereja Rumah Tangga", tempat iman pertama kali disemai.
Tugas pendamping bukanlah mendikte teori, melainkan berjalan bersama menghidupi
panggilan perkawinan melingkupi tiga ranah: pendampingan pra-nikah, selama
pernikahan (terutama pasutri muda 0-5 tahun), serta pendampingan kasus khusus.
Rekomendasi Langkah Pastoral Konkret Dalam pembekalan ini, dipetakan sejumlah
tantangan nyata keluarga masa kini, mulai dari krisis komunikasi akibat gawai,
tekanan ekonomi akibat judi online dan pinjaman online (pinjol), ancaman
perpisahan, hingga minimnya waktu berkualitas. Sebagai solusi, Romo Bayu
mengajak para peserta menerapkan fondasi kerahiman—mendekati umat tanpa
menghakimi, menjadi teman berjalan yang personal, dan mendorong pertumbuhan iman
secara bertahap.
Beberapa langkah pastoral konkret yang direkomendasikan antara
lain:
- Program Rekoleksi Pasutri dan Perayaan Syukur Hari Ulang Tahun Perkawinan (HUP) untuk menyegarkan kembali janji setia di altar.
- Penguatan rohani melalui kehadiran rutin dalam Misa Kudus dan tradisi doa harian keluarga.
- Penerapan No-Gadget Time, yaitu kesepakatan waktu kebersamaan di rumah tanpa gawai demi membangun komunikasi yang intens.
"Keluarga yang ideal bukanlah
keluarga yang bebas dari masalah. Keluarga Kudus Nazaret pun mengalami krisis
ketika harus mengungsi.
Namun, kunci kebahagiaan mereka adalah hidup dalam kasih
yang tulus, selalu bersehati, dan terbuka pada rencana serta kehendak Allah,"
pungkas Romo Bayu menutup pemaparannya.
Kontributor Palembang : Andreas Daris Awalistyo
Via
Berita




Posting Komentar