Yasukmabar Luncurkan Peta Jalan Pendidikan 2026–2031, Perkuat Arah Pendidikan Katolik di Labuan Bajo
Labuan Bajo - Katolik Terkini - Yayasan Sekolah Umat Katolik Manggarai Barat (Yasukmabar) resmi meluncurkan Peta Jalan Penyelenggaraan Pendidikan Katolik Yasukmabar 2026–2031 sebagai arah baru pengembangan pendidikan Katolik di Keuskupan Labuan Bajo.
Peluncuran dokumen strategis tersebut berlangsung dalam rangkaian Misa Pembukaan Tahun Ajaran 2026/2027 di Gereja Santo Petrus Sernaru, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Sabtu (18/7/2026), yang dipimpin langsung oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus.
Perayaan Ekaristi tersebut dihadiri jajaran imam Keuskupan Labuan Bajo, di antaranya Vikaris Jenderal Romo Richardus Manggu, Pr., Sekretaris Jenderal Romo Fransiskus Nala Kartijo Udu, Pr., Ekonom Keuskupan Romo Martinus Wiliam, Pr., Vikaris Episkopal Labuan Bajo Romo Yuvensius Rugi, Pr., Pastor Paroki Katedral Roh Kudus Labuan Bajo Romo Laurensius Sopang, Pr., Pastor Paroki Bunda Segala Bangsa Wae Kesambi Romo Risno Maden, Pr., serta para imam lainnya.
Mengusung tema "Membangun Komunitas Pendidikan yang Adil, Berbela Rasa, dan Berpengharapan", misa diikuti sekitar 2.000 peserta yang terdiri atas kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa dari sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Yasukmabar, yakni SDK Wae Medu, SMP St. Ignatius Loyola, SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II, SMAS Santa Familia Wae Nakeng, dan SMKS Stella Maris Labuan Bajo. Paduan suara dalam misa dipersembahkan oleh para siswa SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II.
Sekolah adalah ladang pendidikan
Dalam homilinya, Mgr. Maksimus Regus menegaskan bahwa sekolah merupakan "ladang" tempat para guru, siswa, dan seluruh pemangku kepentingan menjalankan panggilan mereka sebagai murid Kristus.
Merujuk pada bacaan Kitab Nabi Mikha, ia mengajak seluruh warga sekolah untuk memelihara "ladang" tersebut dengan penuh tanggung jawab melalui ketaatan pada aturan, tata krama, dan etika kehidupan bersama.
Menurutnya, ada tiga prinsip utama untuk merawat ladang pendidikan.
Pertama, bertindak adil. Keadilan, katanya, berarti memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya. Keadilan juga dimulai dari diri sendiri dengan memahami secara seimbang hak dan kewajiban masing-masing.
Kedua, menghidupi bela rasa. Ia mengutip Injil Matius 12:20 yang menyatakan bahwa "buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan", sebagai semangat untuk saling menopang, bukan saling menjatuhkan.
"Banyak orang berada dalam situasi yang rapuh. Tugas kita bukan mematahkan mereka, melainkan membantu dan menguatkan," ujarnya.
Ketiga, merawat harapan. Menurut Mgr. Maksimus, sekolah merupakan ruang untuk menumbuhkan cita-cita dan masa depan generasi muda.
"Kita punya sekolah tak ada artinya kalau tidak ada harapan yang mau dituju. Orang tua, masyarakat, Gereja, dan kamu sendiri memiliki harapan. Ada yang bercita-cita menjadi pastor, suster, tentara, polisi, atau profesi lainnya. Komunitas pendidikan Katolik memiliki makna karena memelihara harapan yang bernilai jangka panjang. Karena itu, kita harus menjaga harapan dalam setiap proses pendidikan di sekolah," katanya.
Tonggak sejarah baru Yasukmabar
Momentum pembukaan tahun ajaran juga menjadi tonggak penting bagi perjalanan Yasukmabar dengan diluncurkannya dua dokumen fundamental, yakni Peta Jalan Penyelenggaraan Pendidikan Katolik Yasukmabar 2026–2031 dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Yayasan.
Peluncuran ditandai dengan penandatanganan dokumen oleh Mgr. Maksimus Regus, yang kemudian diserahkan kepada para kepala sekolah dan perwakilan organ Yasukmabar.
Selain itu, dilakukan pula serah terima jabatan Pelaksana Tugas Kepala SMKS Stella Maris Labuan Bajo dari Romo Ignasius A. Viares, Pr., kepada Vinsensius Patno, S.Ag., Gr. Pada kesempatan yang sama, Yasukmabar dan Universitas Katolik (Unika) St. Paulus Ruteng juga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) sebagai bentuk kerja sama dalam pengembangan pendidikan Katolik ke depan.
Fondasi baru pengembangan pendidikan
Ketua Yasukmabar, Romo Yohanes F. Selman, Pr., mengatakan peluncuran kedua dokumen tersebut merupakan tonggak sejarah baru bagi yayasan yang pada 17 Juni 2026 genap berusia enam tahun.
Menurutnya, enam tahun menjadi masa penting untuk belajar, berefleksi, sekaligus meneguhkan arah pengembangan lembaga.
Selama perjalanan tersebut, kata Romo Yohanes, Yasukmabar menyadari masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam membangun tata kelola yang kuat, memiliki arah pengembangan yang jelas, serta memperkuat landasan hukum dan konstitusional bagi seluruh pelayanan pendidikan.
"Pada kesempatan yang berbahagia ini kita meluncurkan dua dokumen fundamental yakni Peta Jalan Penyelenggaraan Pendidikan Katolik Yasukmabar Tahun 2026–2031 dan Anggaran Dasar serta Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Yasukmabar. Kedua dokumen ini menjadi fondasi baru yang akan mengarahkan perjalanan yayasan dalam membangun pendidikan Katolik di Keuskupan Labuan Bajo," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dokumen tersebut lahir dari kesadaran bahwa pendidikan merupakan bagian integral dari misi Gereja dalam menghadirkan keselamatan, membangun martabat manusia, serta mempersiapkan generasi yang mampu menjadi garam dan terang bagi masyarakat.
Melalui peta jalan tersebut, Yasukmabar menegaskan identitasnya sebagai lembaga pendidikan Katolik yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk manusia seutuhnya yang beriman, berkarakter, berintegritas, cerdas, peduli terhadap sesama, serta mampu menjawab tantangan zaman.
Seluruh arah pengembangan itu, lanjutnya, berpijak pada semangat pastoral Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, dengan motto "Ut Mundus Salvetur Per Ipsum" (Supaya Dunia Diselamatkan oleh-Nya) yang diambil dari Yohanes 3:17.
Menaungi 94 sekolah
Saat ini Yasukmabar menaungi 94 sekolah yang terdiri atas 82 Sekolah Dasar Katolik (SDK), tujuh SMP Katolik, empat SMA Katolik, dan satu SMK Katolik di wilayah Keuskupan Labuan Bajo.
Dari jumlah tersebut, enam sekolah dikelola secara langsung oleh yayasan, yakni SDK Wae Medu, SMPK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo, SMPK Sadar Ranggu, SMAK Sanctissima Trinitas Ranggu, SMAS St. Familia Wae Nakeng, dan SMKS Stella Maris Labuan Bajo.
Berdasarkan data Tahun Ajaran 2025/2026, jaringan sekolah Yasukmabar melayani sekitar 12.000 siswa dengan didukung sekitar 1.000 guru. Dengan peluncuran Peta Jalan Pendidikan 2026–2031, Yasukmabar berharap memiliki arah pengembangan yang lebih terukur, tata kelola yang semakin profesional, serta mampu memperkuat kualitas pendidikan Katolik yang berakar pada nilai-nilai Injil sekaligus relevan dengan tantangan zaman.(AD)
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar