-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Artikel Berita Humaniora Inspirasi Lifestyle Sosok Lembah Ranggu, Tempat Senyum Mgr. Paskalis Bertumbuh
Artikel Berita Humaniora Inspirasi Lifestyle Sosok

Lembah Ranggu, Tempat Senyum Mgr. Paskalis Bertumbuh

Katolik terkini
Katolik terkini
01 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Mgr. Paskalis berbagi kegembiraan bersama para murid di lapangan sekolah (Kredit foto: Fransiska Romana)
Katolik Terkini -Wajah penuh senyum. Begitu kesan yang membekas di benak umat Keuskupan Bogor terhadap Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM. Senyum, sebagai perlambang keindahan wajah, telah terbentuk sejak masa kecilnya di Lembah Ranggu, tempat ia lahir dan bertumbuh.

Tanah kelahiran Mgr. Paskalis adalah Kampung Bea Kalo, Ranggu, Kecamatan Kuwus Barat, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ia lahir pada 17 Mei 1965. Bea Kalo merupakan sebuah kampung yang terletak di Lembah Ranggu. Layaknya dasar sebuah wajan, Ranggu dikelilingi gunung dan bukit yang menjulang tinggi. Bukan hanya satu, melainkan empat, yaitu Poco Kuwus, Golo Ru'u, Golo Pua, dan Golo Buru.

Poco dan golo sama-sama menggambarkan gunung atau bukit, tetapi memiliki perbedaan makna dalam bahasa Manggarai. Poco merujuk pada hutan yang berada di kawasan perbukitan atau pegunungan, sedangkan golo lebih mengacu pada bukit, gunung, atau dataran tinggi. 

“Waktu kecil, setiap pagi saya menikmati terbitnya sinar matahari dan hawa sejuk. Sungguh indah,” ujar Mgr. Paskalis sembari memandang matahari yang perlahan muncul pada Rabu pagi, 20 Mei 2026.

Keindahan alam Lembah Ranggu pada saat matahari terbit (Kredit foto: Fransiska Romana) 

Sepak Bola

Seiring matahari terbit, pepohonan yang semula tampak gelap dari kejauhan mulai terlihat jelas di lereng gunung dan bukit. Ketika sang surya semakin tinggi, hamparan sawah pun mulai menampakkan keindahannya. Pelukis aliran naturalisme tentu akan tergoda untuk mengabadikan panorama alam yang menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Lembah Ranggu.

Udara Lembah Ranggu sungguh menyejukkan. Dingin pagi tidak sepenuhnya hilang saat siang tiba. Kesejukan tetap terasa meski matahari telah berada tepat di atas kepala. Keindahan dan kesejukan Lembah Ranggu itu seakan terpatri dalam senyum dan keramahan Mgr. Paskalis sepanjang perjalanan hidupnya.

Mgr. Paskalis menjalani masa kecil di Lembah Ranggu sejak lahir hingga menyelesaikan pendidikan di SDK Ranggu 1 pada tahun 1974. Selama masa itu, anak kedua dari sepuluh bersaudara tersebut tinggal bersama kedua orang tuanya, Yohanes Dani dan Hilaria Kambaria.

Yohanes Dani adalah seorang guru di SMPK Ranggu. Karena berasal dari Sokrutung, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, ia menempati rumah dinas guru di Ranggu. Di depan rumah mereka terbentang lapangan sepak bola yang luas. 

“Dulu gawangnya tepat di depan pintu rumah kami,” ujar Mgr. Paskalis sambil menunjukkan letak rumah masa kecilnya yang kini telah dipugar dan dibangun menjadi aula.

Siswa SDK Ranggu 1 menikmati permainan sepak bola di depan sekolah (Kredit foto: Fransiska Romana)

Lapangan itu bukan satu-satunya. Di depan SDK Ranggu 1 juga terdapat lapangan yang lebih kecil. Kedua lapangan tersebut menjadi tempat anak-anak SDK Ranggu 1 bermain sepak bola, kasti, dan berbagai permainan lainnya.

Salah satu anak yang paling sering bermain sepak bola di lapangan itu adalah Mgr. Paskalis. 

“Dulu belum ada bola seperti sekarang yang terbuat dari karet atau plastik. Kami membuat bola dari kertas yang diikat hingga bundar atau dari isi pohon pakis yang dibentuk menjadi bola. Bolanya kecil, tidak seperti bola sepak sekarang,” kenang Mgr. Paskalis.

Salah satu saksi kepiawaian Mgr. Paskalis bermain bola adalah Gaudens Suhardi. Adik kelasnya di SDK Ranggu 1 itu kerap menyaksikan permainan Mgr. Paskalis dan teman-temannya. Kelincahan serta kemampuan mereka sering membawa SDK Ranggu 1 meraih juara dalam pertandingan antarsekolah dasar di wilayah sekitar.

Gaudens masih mengingat bahwa Pastor Frans Meszaros, SVD, Pastor Paroki Ranggu saat itu, sering mengadakan turnamen sepak bola antarsekolah pada masa Paskah. 

“Bapak Uskup termasuk salah satu pemain sepak bola yang bagus sejak SD. Sampai di Seminari Kisol pun beliau tetap menjadi pemain bola. Dia selalu tampil sebagai pemain. Termasuk adiknya, Dion, juga pemain sepak bola,” kata Gaudens, yang merupakan teman seangkatan Yohanes Dion, adik Mgr. Paskalis.

Pada masa itu, SDK Ranggu 1 hanya diperuntukkan bagi siswa laki-laki. Lokasinya hanya sepelemparan batu dari rumah orang tua Mgr. Paskalis. Sekolah ini telah melahirkan tiga uskup dan sekitar dua puluh imam. 

Ketiga uskup tersebut adalah Mgr. Donatus Djagom SVD, Mgr. Michael Cosmas Angkur OFM, dan Mgr. Paskalis. Sementara itu, anak-anak perempuan menempuh pendidikan di SDK Ranggu 2 yang terletak sedikit lebih jauh.

Lapangan sepak bola bukan satu-satunya tempat Mgr. Paskalis dan teman-temannya menikmati kegembiraan. Sungai, hutan, dan sawah menjadi ruang bermain yang menghadirkan banyak kenangan indah. 

“Kami biasa ke hutan mencari kayu bakar dan memetik buah jambu liar. Kami juga berenang di sungai,” kata Mgr. Paskalis.

Hutan yang dimaksud adalah Poco Kuwus. Di kawasan hutan tersebut terdapat Watu Pengang, sebuah batu raksasa yang mampu memantulkan suara teriakan.

Beberapa sungai yang menjadi tempat bermain Mgr. Paskalis dan teman-temannya antara lain Wae Mawu, Wae Luh, dan Wae Impor. Dari ketiganya, Wae Impor merupakan yang terbesar. Di sungai itu terdapat beberapa bagian yang disebut tiwu (kolam), yaitu area dengan sedikit bebatuan dan air yang relatif lebih dalam. Beberapa di antaranya adalah Tiwu Kolang, Tiwu Peka, dan Tiwu Pari.

Tidak Istirahat

Selama menempuh pendidikan di SDK Ranggu 1, Mgr. Paskalis dan teman-temannya tidak mengenal istilah jam istirahat. Sebab pada masa itu, waktu jeda antarpelajaran disebut sebagai "jam bersenang". 

“Seharusnya istilah itu digunakan kembali di sekolah-sekolah karena maknanya berbeda,” ucap Mgr. Paskalis.

Istilah jam istirahat mengandung makna waktu jeda untuk memulihkan fisik setelah melakukan aktivitas. Sementara itu, "jam bersenang" mengandung semangat sukacita, kegembiraan, dan kebersamaan.

Begitu bel berbunyi, Mgr. Paskalis dan murid-murid lainnya segera berhamburan keluar kelas. Baju yang basah oleh keringat dan kaki yang kotor bukanlah penghalang untuk kembali mengikuti pelajaran berikutnya.

Bagi Mgr. Paskalis, "jam bersenang" merupakan waktu yang paling dinantikan, meskipun menguras tenaga. 

“Masa kecil saya sungguh indah bersama teman-teman, orang tua, dan saudara-saudara,” ujarnya.

Kenangan indah itu dibagikan Mgr. Paskalis kepada para murid dan guru SDK Ranggu 1 saat melakukan napak tilas kehidupan. Sukacita dan kegembiraan yang pernah ia alami di Lembah Ranggu terasa hidup kembali di tengah masyarakat sederhana yang menyambutnya dengan tulus.

Mgr. Paskalis berbagi kegembiraan bersama para murid di lapangan sekolah (Kredit foto: Fransiska Romana)

Tentang alam dan senyum, M.A.W. Brouwer OFM pernah menulis, “Tanah Sunda diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum.” Senyum Sang Uskup Emeritus Tanah Sunda itu pun tampaknya lahir dari keindahan Lembah Ranggu, tanah kelahirannya.

Oleh: A. Bobby Pr.


Via Artikel
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Hadapi Tantangan Modern, DPP St. Yoseph Palembang Bentuk Tim Konseling dan Bekali Pendamping Keluarga

Andreas Daris Awalistyo, S.Pd., M.I.Kom- Juni 01, 2026 0
Hadapi Tantangan Modern, DPP St. Yoseph Palembang Bentuk Tim Konseling dan Bekali Pendamping Keluarga
PALEMBANG, Katolik Terkini – Keluarga Kristiani di era modern saat ini dihadapkan pada tantangan moral, sosial, dan spiritual yang kian kompleks. Menangga…

Most Popular

Napak Tilas ke SDK Ranggu I, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Mengenang Sekolah sebagai “Medan Kegembiraan”

Napak Tilas ke SDK Ranggu I, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Mengenang Sekolah sebagai “Medan Kegembiraan”

Mei 26, 2026
Menghidupi Tahun Devosional: Ratusan OMK Se-KAPal Alami Penyembuhan Batin dalam KRK Pentakosta 2026

Menghidupi Tahun Devosional: Ratusan OMK Se-KAPal Alami Penyembuhan Batin dalam KRK Pentakosta 2026

Mei 29, 2026
Semangat Persaudaraan Warnai Penyambutan Peserta PKSN XIII di Pontianak

Semangat Persaudaraan Warnai Penyambutan Peserta PKSN XIII di Pontianak

Mei 26, 2026
Tutup Bulan Maria, KBG St. Rafael Berbagi Kasih dengan Anak-anak SLB Negeri Labuan Bajo

Tutup Bulan Maria, KBG St. Rafael Berbagi Kasih dengan Anak-anak SLB Negeri Labuan Bajo

Mei 30, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026

Popular Post

Napak Tilas ke SDK Ranggu I, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Mengenang Sekolah sebagai “Medan Kegembiraan”

Napak Tilas ke SDK Ranggu I, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Mengenang Sekolah sebagai “Medan Kegembiraan”

Mei 26, 2026
Menghidupi Tahun Devosional: Ratusan OMK Se-KAPal Alami Penyembuhan Batin dalam KRK Pentakosta 2026

Menghidupi Tahun Devosional: Ratusan OMK Se-KAPal Alami Penyembuhan Batin dalam KRK Pentakosta 2026

Mei 29, 2026
Semangat Persaudaraan Warnai Penyambutan Peserta PKSN XIII di Pontianak

Semangat Persaudaraan Warnai Penyambutan Peserta PKSN XIII di Pontianak

Mei 26, 2026
Tutup Bulan Maria, KBG St. Rafael Berbagi Kasih dengan Anak-anak SLB Negeri Labuan Bajo

Tutup Bulan Maria, KBG St. Rafael Berbagi Kasih dengan Anak-anak SLB Negeri Labuan Bajo

Mei 30, 2026

Populart Categoris

  • Berita919
  • Cerpen7
  • Doa87
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional365
  • Jelajah115
  • Lifestyle206
  • Nasional151
  • Pelayanan Sosial134
  • Puisi2
  • Refleksi380
  • Sosok322
  • Teologi72
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini