Bersama Bunda Maria, Umat Stasi Sirimese Perbarui Semangat Doa dan Persaudaraan
![]() |
| Perarakan Arca Bunda Maria dimulai dari Komunitas Basis Gerejani (KBG) Santo Yohanes dan diikuti oleh umat dari enam KBG yang berada di wilayah Stasi Sirimese (sumber foti dari Sdr.Jastin Garus) |
Katolik Terkini - Suasana penuh iman dan kekhidmatan mewarnai penutupan Bulan Maria di Kapela Maria Ratu Para Malaikat, Stasi Sirimese, Paroki Santo Fransiskus Assisi Tentang, Manggarai Barat, Sabtu (30/5/2026).
Sejak pukul 18.00 WITA, umat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, berkumpul untuk mengikuti perarakan penghantaran Arca Bunda Maria menuju kapela stasi.
Perarakan tahun ini dimulai dari Komunitas Basis Gerejani (KBG) Santo Yohanes dan diikuti oleh umat dari enam KBG yang berada di wilayah Stasi Sirimese. Hadir dalam kesempatan tersebut Pastor Paroki Santo Fransiskus Asisi Tentang, Pater Leonardus Hendradus, OFM, yang turut mendampingi umat dalam seluruh rangkaian perayaan.
Dalam ritus penyerahan Arca Bunda Maria kepada Stasi Sirimese, Tokoh Umat KBG Santo Yohanes, Frans Warut, menyampaikan doa dan harapannya kepada Bunda Maria.
“Semoga dengan kedatangan-Mu, Bunda Maria, dapat mengusir segala kegelapan dalam hati kami umat di KBG ini. Pada malam ini kami memohon kepada-Mu, Bunda, agar kiranya belas kasih Tuhan dapat kami terima,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Stasi Sirimese, Karolus Jemada, dalam kesempatan yang sama menyampaikan ungkapan syukur dan permohonan kepada Bunda Maria atas penyertaan yang telah dirasakan umat selama Bulan Maria berlangsung.
“Ya Bunda Maria, Engkau telah berjalan bersama kami di enam KBG di Stasi Sirimese ini. Engkau telah mendengarkan keluh kesah, doa, dan harapan anak-anak-Mu. Kami percaya bahwa Engkaulah penghantar doa-doa kami kepada Putra-Mu, Tuhan Yesus Kristus. Di depan altar-Mu ini, melalui perayaan kudus yang dipimpin Pastor Paroki kami, kami menyerahkan semuanya dalam doa,” tuturnya.
Usai perarakan, kegiatan dilanjutkan dengan Misa Penutupan Bulan Maria yang dipimpin oleh Pater Hendra OFM. Dalam homilinya, ia mengajak umat untuk terus memelihara semangat doa yang telah dibangun sepanjang Bulan Maria.
“Sepanjang bulan ini kita telah berjalan bersama dalam doa dan harapan. Semoga doa-doa yang dipanjatkan di setiap keluarga didengarkan oleh Tuhan dan berbuah dalam kehidupan kita. Kita juga mendoakan keluarga-keluarga yang telah dipanggil Tuhan agar melalui perantaraan Bunda Maria mereka memperoleh kebahagiaan kekal dan menjadi pendoa bagi kita yang masih berziarah di dunia,” ujarnya.
Pada perayaan yang sama, Gereja Katolik sejagat merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus dengan tema ‘Allah adalah Kasih yang Bersekutu’. Pater Hendra menjelaskan bahwa misteri Tritunggal Mahakudus merupakan inti iman Kristiani.
“Misteri terbesar iman kita adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus: tiga Pribadi dalam satu Allah. Ini bukan rumus matematika, melainkan kasih yang hidup dan mengalir,” jelasnya.
Mengacu pada Bacaan Kedua dari 2 Korintus 13:11-13 dan Injil Yohanes 3:16-18, Pater Hendra menegaskan bahwa kasih Allah nyata melalui karya keselamatan yang digenapi oleh Yesus Kristus dan terus dihadirkan melalui Roh Kudus.
Menurutnya, benang merah dari misteri Tritunggal adalah bahwa Bapa merencanakan keselamatan, Putra melaksanakannya melalui pengorbanan-Nya, dan Roh Kudus senantiasa menyertai umat beriman.
“Misteri ini mengajak kita untuk hidup dalam kesatuan dan kasih. Jika Allah sendiri hidup dalam persekutuan kasih, maka kita pun dipanggil untuk menjaga kerukunan dan persaudaraan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Pater Hendra juga mengingatkan bahwa tanggal 31 Mei bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria Mengunjungi Elisabet. Maria menjadi teladan yang bergegas membawa Yesus kepada sesama.
“Marilah kita datang kepada Bunda Maria sebagai Bunda Penghantar Doa-Doa kita,” ajaknya mengakhiri homili.
Perayaan Ekaristi berlangsung semakin meriah karena seluruh petugas liturgi dan umat, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mengenakan pakaian adat Manggarai. Kehadiran busana tradisional tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap budaya lokal sekaligus memperlihatkan perpaduan harmonis antara iman Katolik dan kekayaan budaya Manggarai.(AD)
Oleh: Bemediktus Jebabun

Posting Komentar