-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Berita Nasional Pendidikan Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta
Berita Nasional Pendidikan

Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta

Katolik terkini
Katolik terkini
11 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Katolik bersama Pengawas Pendidikan Agama Katolik menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Guru Agama Katolik dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)

Katolik Terkini - Dalam upaya meningkatkan kompetensi dan profesionalisme Guru Pendidikan Agama Katolik di Provinsi DKI Jakarta, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Katolik bersama Pengawas Pendidikan Agama Katolik menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Guru Agama Katolik dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). 

Kegiatan ini berlangsung di Aula SMA Kolese Kanisius, Jakarta Pusat, Kamis (11/6/2026), dan dihadiri para guru agama Katolik jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK se-DKI Jakarta.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pembingan Masyarakat (Pembimas) Katolik, Pengawas Pendidikan Agama Katolik, serta para Guru Agama Katolik di wilayah DKI Jakarta. Selain menjadi wadah pembinaan profesional, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta yang tengah dikembangkan Kementerian Agama.

Ketua Panitia, Bapak Kornelis Ruben, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun profesionalisme guru agama Katolik melalui peningkatan kompetensi, memperkenalkan Kurikulum Berbasis Cinta, memperkuat kolaborasi pewartaan iman antara pemerintah, Gereja, dan guru agama Katolik, serta meneguhkan panggilan sebagai pendidik melalui Perayaan Ekaristi bersama.

“Melalui kegiatan ini kami ingin membangun sinergi yang semakin kuat antara pemerintah, Gereja, dan para guru agama Katolik dalam menjalankan tugas pewartaan iman dan pendidikan karakter bagi peserta didik,” ujar Bapak Kornelius.

Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat partisipasi guru dalam kegiatan ini mencapai sekitar 63 persen dari total 384 guru agama Katolik yang berkarya di wilayah DKI Jakarta.

Pentingnya Pembinaan Guru Agama Katolik

Pada sesi pembukaan, Pembina dari Pembimas Katolik, Bapak Antonius Sinaga, SS., MM., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengaku telah lama merindukan pertemuan langsung dengan para guru agama Katolik setelah dalam dua tahun terakhir belum ada kegiatan pembinaan serupa.

“Saya rindu bertemu dengan bapak-ibu guru semua. Sudah dua tahun kita tidak ada pembinaan. Memang situasi negara sedang dalam masa efisiensi, tetapi menurut saya pembinaan seperti ini sangat penting untuk menyampaikan berbagai hal yang perlu diketahui dan dipahami bersama,” ungkap Bapak Antonius.

Menurutnya, guru agama memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kehidupan spiritual peserta didik di tengah berbagai tantangan zaman yang terus berkembang.

Ibu Meli Sova Br. Saragih, S.Ag. memeparkan materi tentang implementasi kurikulum berbasis cinta

Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Fondasi Pendidikan Humanis

Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan mengenai Kurikulum Berbasis Cinta oleh Ibu Prisca Wasini, M.Pd., Pengawas Sekolah Ahli Madya Kementerian Agama Kota Jakarta Timur. Ia menjelaskan bahwa materi sosialisasi mencakup kebijakan Kurikulum Berbasis Cinta di lingkungan Kementerian Agama, konsep Panca Cinta, implementasi KBC di sekolah, serta penyusunan program pelaksanaannya.

“Fokus implementasinya berada pada perubahan mindset, kepemimpinan, budaya sekolah, proses pembelajaran, dan manajemen kelas,” tegas Ibu Prisca.

Menurutnya, Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya menjadi pendekatan pendidikan baru, tetapi juga sebuah gerakan budaya yang menempatkan nilai kasih sebagai fondasi dalam seluruh proses pendidikan.

Pandangan tersebut diperkuat oleh Bapak Bernadus Jebatu, S.Ag., Ketua Bidang Kurikulum MGMP Lintas Agama Provinsi DKI Jakarta periode 2024–2027. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta merupakan respons strategis terhadap tantangan dehumanisasi dan kekosongan spiritual yang muncul di era digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Pendidikan harus kembali menempatkan cinta kasih yang bersumber dari hati manusia sebagai inti pembentukan manusia seutuhnya, yang berpikir kritis, berempati, dan bertindak penuh kasih,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti, Kurikulum Berbasis Cinta menjadi bagian dari upaya membangun peradaban kasih yang menghargai sesama, menjaga alam semesta, dan memuliakan Allah sebagai sumber kasih.

“Teknologi dan AI bukan ancaman, tetapi alat yang harus digunakan secara bijaksana untuk melayani kemanusiaan dan mewujudkan dunia yang lebih adil, damai, dan bermakna,” tambahnya.

Penulis buku Oase di Balik Seragam tersebut juga menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta memiliki 12 indikator utama, yaitu kesadaran spiritual terhadap Tuhan, penghargaan terhadap martabat manusia, empati terhadap penderitaan sesama, welas asih dalam tindakan nyata, kemampuan mengampuni dan memulihkan hubungan, tanggung jawab moral terhadap sesama dan lingkungan, kepekaan terhadap ketidakadilan, rasa syukur atas kehidupan, penghormatan terhadap keberagaman, kehadiran penuh dalam relasi sosial, kemampuan mencintai diri sendiri, serta keterlibatan dalam perdamaian dan solidaritas global.

Implementasi KBC dalam Kehidupan Sekolah

Materi mengenai implementasi Kurikulum Berbasis Cinta disampaikan oleh Ibu Meli Sova Br.  Saragih, S.Ag. Ia menegaskan bahwa KBC bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum yang telah ada, melainkan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam seluruh proses pembelajaran.

“KBC bukanlah pengganti kurikulum yang ada, melainkan sebuah insersi nilai-nilai cinta ke dalam proses pembelajaran yang sedang berjalan,” jelasnya.

Menurut ibu Meli, nilai-nilai cinta harus diwujudkan secara nyata dalam sikap dan perilaku peserta didik sehari-hari, bukan sekadar diajarkan secara teoritis di ruang kelas.

“Kurikulum Berbasis Cinta dibangun di atas nilai-nilai utama yang harus ditanamkan kepada peserta didik. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diajarkan, tetapi harus tampak dalam tindakan dan perilaku sehari-hari anak,” katanya.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta tidak hanya diukur melalui nilai akademik atau hasil ulangan, tetapi terutama dari perubahan karakter, sikap, dan perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Foto bersama para guru agama katolik setelah misa penutupan

Perkuat Kolaborasi Gereja dan Sekolah

Pada sesi kedua, para peserta mengikuti dialog bersama RD Carolus Putranto dari Komisi Kateketik Keuskupan Agung Jakarta (Komkat KAJ) dan RD Charles A.C. Javlean dari Komisi Pendidikan Keuskupan Agung Jakarta (Komdik KAJ).

Dialog tersebut membahas harapan dan rencana pengembangan berbagai kegiatan kolaboratif antara Komkat KAJ, Komdik KAJ, Pembimas Katolik, serta para guru agama Katolik, khususnya yang bertugas di sekolah negeri. Kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat pewartaan iman kepada para peserta didik yang menjadi garda terdepan misi Gereja di tengah masyarakat.

Kedua narasumber menegaskan bahwa pembinaan iman anak-anak dan remaja memerlukan sinergi yang kuat antara keluarga, sekolah, dan Gereja agar nilai-nilai Kristiani dapat tumbuh secara utuh dalam kehidupan peserta didik.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dilaksanakan di Kapela Kolese Kanisius. Perayaan syukur tersebut menjadi puncak acara sekaligus momentum peneguhan panggilan bagi para guru agama Katolik dalam menjalankan tugas pendidikan dan pewartaan iman di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks.

Melalui kegiatan pembinaan dan sosialisasi ini, para guru agama Katolik di DKI Jakarta diharapkan semakin siap menjadi pendidik yang profesional, berintegritas, dan mampu menghadirkan nilai-nilai kasih dalam setiap proses pembelajaran demi membentuk generasi yang beriman, berkarakter, dan humanis. (AD)

Via Berita
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta

Katolik terkini- Juni 11, 2026 0
Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Katolik bersama Pengawas Pendidikan Agama Katolik menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Guru Agama Katolik…

Most Popular

Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta

Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta

Juni 11, 2026
Magnificat Anima Mea: Perjalanan Iman Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM

Magnificat Anima Mea: Perjalanan Iman Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM

Juni 02, 2026
Romo Albertus Bayu Christanto SCJ Siap Mengemban Misi sebagai Sekretaris Baru Keuskupan Agung Palembang

Romo Albertus Bayu Christanto SCJ Siap Mengemban Misi sebagai Sekretaris Baru Keuskupan Agung Palembang

Maret 18, 2026
Lembah Ranggu, Tempat Senyum Mgr. Paskalis Bertumbuh

Lembah Ranggu, Tempat Senyum Mgr. Paskalis Bertumbuh

Juni 01, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026

Popular Post

Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta

Tingkatkan Kompetensi dan Profesionalisme, Guru Agama Katolik DKI Jakarta Ikut Pembinaan dan Sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta

Juni 11, 2026
Magnificat Anima Mea: Perjalanan Iman Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM

Magnificat Anima Mea: Perjalanan Iman Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM

Juni 02, 2026
Romo Albertus Bayu Christanto SCJ Siap Mengemban Misi sebagai Sekretaris Baru Keuskupan Agung Palembang

Romo Albertus Bayu Christanto SCJ Siap Mengemban Misi sebagai Sekretaris Baru Keuskupan Agung Palembang

Maret 18, 2026
Lembah Ranggu, Tempat Senyum Mgr. Paskalis Bertumbuh

Lembah Ranggu, Tempat Senyum Mgr. Paskalis Bertumbuh

Juni 01, 2026

Populart Categoris

  • Berita921
  • Cerpen7
  • Doa87
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional365
  • Jelajah115
  • Lifestyle206
  • Nasional152
  • Pelayanan Sosial134
  • Puisi2
  • Refleksi380
  • Sosok323
  • Teologi72
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini