Para Imam: Jangan Menulis Kotbah Menggunakan AI
Katolik Terkini - Juni 2024 di hadapan para uskup Italia, Paus Fransiskus menyampaikan sebuah peringatan yang singkat namun berat: jangan menulis kotbah menggunakan kecerdasan buatan. Kalimat itu tidak panjang. Tidak memerlukan silogisme teologis yang rumit. Namun bobotnya seperti batu yang dijatuhkan ke kolam tenang riak-riak pertanyaannya menyebar jauh ke seluruh Gereja.
Dua tahun kemudian, Paus Leo XIV dalam pertemuan tertutup
dengan para imam Keuskupan Roma pada tanggal 19 Februari 2026, dan dilaporkan
secara luas pada 24-27 Februari 2026 kembali memperingatkan dan meminta para
imam menahan diri untuk menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) seperti
ChatGPT untuk menulis khotbah atau homili.
Mengapa Paus merasa perlu mengatakannya? Karena
rupanya, fenomena itu sudah nyata. Di berbagai penjuru dunia, termasuk di
Indonesia, ada imam yang membuka laptop atau bahkan sekadar smartphone mengetik beberapa kata kunci, lalu
menyalin hasil generate AI menjadi kotbah Minggu. Cepat. Rapi.
Terstruktur. Dan jujur saja terasa hampa.
Ketika Kemalasan Rohani Bertemu Teknologi Canggih
Mari kita berbicara jujur tentang sesuatu yang jarang
diucapkan secara terbuka di lingkungan pastoral: ada imam yang malas
mempersiapkan kotbah. Ini bukan tuduhan, melainkan kenyataan yang diakui dalam
berbagai forum formasi imam. Jadwal padat, paroki yang luas, administrasi yang
menumpuk, pelayanan sakramen yang tak putus, semua itu nyata dan melelahkan.
Namun kelelahan tidak boleh menjadi alasan untuk mendelegasikan tugas yang
paling sakral kepada mesin.
Yang terjadi ketika persiapan kotbah diabaikan adalah serangkaian masalah yang saling bertumpuk: kotbah menjadi spontan tanpa arah, mengulang tema yang sama setiap Minggu, melompat-lompat tanpa benang merah, atau yang lebih memprihatinkan diisi dengan celotehan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan bacaan liturgi.
Ketika AI hadir sebagai solusi instan, ia
seolah menjawab semua persoalan itu sekaligus. Teks menjadi rapi, referensi
Kitab Suci tersusun, pesan moral tersampaikan. Dari luar, kotbah terlihat
layak. Namun umat yang duduk di bangku gereja itu merasakan sesuatu yang
tidak bisa mereka namakan dengan tepat: tidak ada yang hadir di sana.
Homili Adalah Tubuh, Bukan Hanya Teks
Konsili Vatikan II menegaskan dalam Sacrosanctum
Concilium bahwa homili adalah bagian dari liturgi itu sendiri bukan
selingan, bukan pengumuman panjang, bukan ceramah motivasi. Ia adalah momen di
mana Sabda Allah yang baru saja dibacakan bertemu dengan kehidupan konkret umat
yang duduk di hadapan imam. Pertemuan itu hanya bisa terjadi jika sang imam
benar-benar hadir: hadir dalam doanya, hadir dalam perjumpaannya dengan
umat, hadir dalam pergumulannya sendiri dengan teks suci.
Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium
menggambarkan kotbah yang baik seperti percakapan seorang ibu dengan anaknya
hangat, mengenal, tahu persis bagian mana yang perlu disentuh. Seorang ibu
tidak membaca script ketika berbicara kepada anaknya yang sedang
menangis. Ia hadir. Ia mendengarkan sebelum berbicara. Ia membawa dalam dirinya
seluruh sejarah hubungan itu.
AI tidak memiliki sejarah bersama umat. AI tidak duduk
menemani orang sakit di Puskesmas terpencil. AI tidak tahu bahwa ada keluarga
di pojok kiri gereja yang minggu ini baru saja bertengkar hebat. AI tidak tahu
bahwa pemuda di baris ketiga sedang bimbang meninggalkan imannya. Hanya imam
yang tahu dan hanya kotbah yang lahir
dari pengetahuan itu yang bisa menyentuh.
Pesan Khusus untuk Para Imam di Pedalaman
Ada kategori imam yang justru paling rentan terhadap
godaan AI, sekaligus paling tidak boleh menyerah kepadanya: para imam yang
bertugas di pedalaman, di pulau-pulau terpencil, di perbatasan negeri, jauh
dari hiruk-pikuk kota besar dan pusat kebudayaan.
Mereka melayani dengan keterbatasan yang nyata: sinyal internet pun sering tidak ada, perpustakaan paroki mungkin hanya rak kayu berisi beberapa buku lusuh. Namun justru di sanalah kotbah paling bernilai lahir.
Karena imam yang tinggal bersama umatnya yang makan sagu, jagung titi,
singkong bakar bersama, yang menyeberangi sungai deras untuk mengunjungi orang
sakit, yang hadir dalam suka-duka tanpa batas jabatan imam seperti itu membawa ke mimbar sesuatu
yang tidak bisa dibeli, diunduh, atau di-generate: kedekatan yang
menjadi otoritas.
Umat di pedalaman tidak membutuhkan kotbah yang
sempurna secara retorika. Mereka butuh imam yang tahu nama mereka, yang tahu
kesulitan mereka, yang tahu Injil karena ia menghidupinya bukan karena ia menyalinnya dari layar. Di
situlah eu-angelion, kabar gembira itu, menjadi benar-benar kabar:
segar, hidup, dan nyata.
Refleksi: Modal yang Tidak Bisa Diganti
Maka persoalannya bukan pada teknologi AI itu sendiri adalah alat yang netral. Persoalannya adalah kebiasaan refleksi yang semakin terkikis. Imam dipanggil untuk menjadi manusia yang merenung. Lectio Divina, pembacaan Kitab Suci yang meditatif bukan sekadar tradisi saleh, melainkan metode persiapan kotbah yang paling organik.
Dari sana lahir
pertanyaan-pertanyaan yang hidup: Apa yang teks ini katakan kepada saya hari
ini? Wajah jemaat manakah yang muncul ketika saya membacanya? Di mana kabar
gembira ini paling dibutuhkan di tengah umatku?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak bisa di-outsource. Ia harus dikerjakan dalam kesunyian, dalam doa, dalam perjumpaan yang tulus dengan Allah sebelum perjumpaan dengan umat. Imam yang tidak punya waktu untuk itu perlu bertanya kepada dirinya sendiri: mengapa saya begitu sibuk sehingga bagian terpenting dari pelayanan saya tidak lagi saya kerjakan sendiri?
Batas yang Bijak: AI sebagai Asisten, Bukan Pengkotbah
Gereja tidak melarang imam menggunakan teknologi. Mencari referensi tafsiran Kitab Suci secara digital, menggunakan aplikasi liturgi, bahkan meminta AI membantu memeriksa alur logika sebuah argumen itu semua sah dan bijak.
Yang tidak boleh
adalah menyerahkan jiwa kotbah kepada mesin: pesan inti, ilustrasi dari
kehidupan nyata, pergumulan teologis yang personal, dan terutama momen jujur di mana imam berbicara sebagai
manusia yang juga sedang belajar beriman.
Paus Fransiskus tidak menolak teknologi. Ia menolak kehadiran
yang digantikan oleh efisiensi. Dua hal itu berbeda secara mendasar.
Penutup: Mimbar Bukan Panggung, Melainkan Perjanjian
Setiap Minggu, umat duduk dengan membawa beban yang
tidak terlihat. Doa mereka yang tidak terucap. Pertanyaan iman yang belum
terjawab. Luka yang masih terbuka. Mereka datang bukan untuk mendengar teks
yang sempurna mereka datang untuk
bertemu dengan seseorang yang bisa berkata: "Saya tahu. Saya juga
pernah di sana. Dan inilah yang Injil katakan kepada kita berdua."
Tidak ada AI yang bisa berkata demikian. Hanya imam
yang lemah, yang lelah, yang terus belajar, yang tinggal bersama umatnya yang
mampu mengucapkan kalimat itu dengan jujur dan meyakinkan.
Itulah kotbah yang sesungguhnya.
Referensi:
- Paus
Fransiskus, Pesan kepada Para Uskup Italia, Juni 2024
- Paus
Fransiskus, Evangelii Gaudium, Art. 135–144 (2013)
- Konsili Vatikan
II, Sacrosanctum Concilium, Art. 52 (1963)
- Kitab Hukum
Kanonik, Kan. 767–769
- Henri Nouwen, The
Wounded Healer (1972)

Posting Komentar