Pertemuan Tak Terduga di Kampus Florida Mengantar Seorang Mahasiswa Taiwan Masuk Gereja Katolik
FLORIDA – Katolik Terkini – Perjalanan iman seseorang kadang dimulai dari tempat yang tidak terduga. Bagi Tzu Ping Liu, mahasiswa internasional asal Taiwan di University of Florida, seperti diansir dari EWTN News, perjalanan masuk Gereja Katolik justru bermula dari sebuah unggahan sederhana di Facebook Marketplace saat ia mencari teman di negeri yang baru baginya.
Liu, yang lebih akrab dipanggil Davis, adalah mahasiswa pascasarjana tahun kedua berusia 30 tahun yang sedang menempuh studi teknik kedirgantaraan di University of Florida. Ia datang ke Amerika Serikat bersama istrinya sebagai bagian dari pendidikannya, sembari tetap menjadi anggota militer Taiwan.
Seperti banyak mahasiswa internasional lainnya, awal-awalnya Liu di Amerika tidak mudah. Jauh dari keluarga dan lingkungan yang dikenal, ia merasa membutuhkan teman untuk membangun relasi baru. Alih-alih menggunakan media sosial untuk hiburan, Liu justru memanfaatkan Facebook Marketplace, platform yang biasanya digunakan untuk jual beli barang, untuk membuat sebuah unggahan sederhana, yaitu mencari teman.
Unggahan yang tidak biasa itu kemudian menarik perhatian seorang mahasiswa lain di kampus yang sama.
Robert Manoogian, mahasiswa teknik mesin berusia 20 tahun di University of Florida, menemukan postingan Liu tersebut. Tanpa banyak pertimbangan, ia memutuskan untuk menghubungi Liu dan mengundangnya menghadiri sebuah kegiatan komunitas mahasiswa Katolik di kampus yang dikenal sebagai Catholic Gators.
Acara itu bernama “Mass and Meal", sebuah kegiatan sederhana yang menggabungkan perayaan Misa dengan makan bersama. Awalnya, Liu hanya datang untuk bagian makan bersama.
“Ia datang hanya untuk bagian makan pada dua pertemuan pertama,” kenang Manoogian dalam wawancaranya dengan EWTN News. Namun perlahan sesuatu mulai berubah. Rasa ingin tahu Liu mulai tumbuh.
Ia mulai memberikan pertanyaan sederhana yang kemudian menjadi pintu masuk bagi perjalanan spiritualnya: siapa sebenarnya Yesus?
Sejak saat itu Liu mulai mengikuti Misa bersama Manoogian. Bahkan untuk membantu dirinya memahami perayaan liturgi yang masih asing baginya, ia mencetak sendiri pamflet tata perayaan Misa dalam bahasa Mandarin dan bahasa Inggris.
“Saya mencoba memahami prosesnya, seluruh Misa itu, apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan,” kata Liu.
Perjalanan Liu menuju iman Kristen tidak bisa dilepaskan dari latar belakang religius tempat ia dibesarkan. Di Taiwan, agama yang dominan adalah Buddhisme dan Taoisme. Karena itu, Liu mengaku hampir tidak pernah bersentuhan dengan Kekristenan sebelum datang ke Amerika Serikat.
Namun pengalaman pertamanya mengikuti Misa meninggalkan kesan mendalam.
“Saya sangat terkejut ketika pertama kali pergi Misa bersama Robbie,” kenangnya. “Yang saya lihat adalah para mahasiswa berdoa dengan sangat mendalam. Saya tidak pernah melihat hal seperti ini di Taiwan.”
Pengalaman itu menimbulkan rasa ingin tahu yang besar dalam dirinya. Liu mulai mencari tahu lebih banyak tentang iman Kristen melalui internet. Rasa penasaran itu kemudian semakin berkembang ketika ia membaca buku tentang sejarah keselamatan yang diberikan Manoogian kepadanya.
Bagi Liu, kisah iman Kristen terasa sangat berbeda dibandingkan dengan sistem religius yang ia kenal sebelumnya.
“Di Taiwan ada banyak dewa dan setiap dewa memiliki kisahnya sendiri-sendiri yang tidak saling terhubung. Itu menjadi sangat membingungkan, seperti kekacauan,” jelasnya.
Sebaliknya, ketika ia membaca Alkitab, ia menemukan sebuah alur yang menurutnya masuk akal.
“Dalam Kitab Kejadian, Tuhan menciptakan manusia. Lalu ada kisah para nabi, dan kemudian Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia. Semua terasa logis. Itu membuat saya semakin penasaran dengan cerita ini.”
Meski demikian, keputusan untuk menjadi Katolik tidak datang dengan mudah. Liu mengaku sempat mengalami pergulatan batin, terutama ketika mulai mempertimbangkan untuk menerima baptisan.
Keraguan itu memuncak saat liburan musim dingin. Ia bertanya-tanya apakah benar ia siap mengambil langkah besar untuk masuk ke dalam Gereja.
Jawaban yang ia cari datang secara tak terduga. Pada hari Minggu sebelum perkuliahan dimulai kembali, Liu menghadiri Misa. Bacaan Injil hari itu berbicara tentang pembaptisan Yesus.
Dalam homilinya, imam yang memimpin Misa menjelaskan bahwa meskipun Yesus tidak berdosa, Ia memilih untuk berdiri bersama para pendosa. Penjelasan itu menyentuh hati Liu secara mendalam.
“Romo menjelaskan bahwa Yesus memilih berjalan di jalan ketaatan untuk memberi teladan bagi kita,” kata Liu. “Hal itu benar-benar menyentuh hati saya.”
Baginya, momen itu terasa seperti sebuah jawaban langsung dari Tuhan atas pergulatan batin yang ia alami.
“Ini seperti mukjizat yang tidak bisa saya jelaskan. Rasanya seperti Tuhan berbicara langsung kepada saya.”
Setelah pengalaman itu, Liu mengambil keputusan untuk melangkah lebih jauh. Kini ia mengikuti proses katekumenat melalui OCIA (Order of Christian Initiation of Adults), sebuah program pembinaan bagi orang dewasa yang ingin masuk ke dalam Gereja Katolik.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, Liu akan menerima baptisan pada perayaan Paskah mendatang. Manoogian, sahabat yang pertama kali mengundangnya ikut Misa, akan berdiri di sisinya sebagai yang mendukung.
Perjalanan iman Liu juga mulai memberi dampak bagi orang lain. Dalam kegiatan makan malam mahasiswa yang diadakan setiap Kamis, ia kini kerap membagikan kisah imannya kepada mahasiswa lain yang berbahasa Mandarin dan belum pernah mengenal Kekristenan.
Bagi Manoogian, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Ia menggambarkan relasi mereka seperti hubungan kakak dan adik.
“Dalam iman saya seperti kakaknya, karena saya menjadi sponsornya,” katanya. “Tetapi dalam kelas teknik yang sama, justru dia lebih maju daripada saya.”
Dinamika yang unik itu justru mempererat persahabatan mereka. Lebih dari itu, pengalaman mendampingi Liu justru memperdalam iman Manoogian sendiri. Ia menyadari bahwa evangelisasi tidak selalu membutuhkan strategi yang rumit.
“Orang sering bertanya bagaimana saya membuat Davis tertarik pada iman,” katanya. “Padahal saya sebenarnya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya memberitahunya siapa Yesus. Selebihnya Tuhan yang bekerja.”
Bagi Manoogian, pengalaman ini meneguhkan kita bahwa pewartaan Injil bisa terjadi dalam cara-cara yang sangat sederhana.
Bahkan, sebuah undangan kecil, seperti mengajak seseorang ke gereja atau makan bersama, dapat mengubah arah hidup seseorang.
“Allah bisa menggunakan apa saja: tempat, peristiwa, bahkan sesuatu yang sederhana seperti Facebook Marketplace,” katanya. “Dan kadang sebuah undangan kecil kepada orang yang belum kita kenal bisa mengubah seluruh perjalanan hidupnya.”

Posting Komentar