Serangan Bom di Lebanon Selatan Tewaskan Pastor Pierre El-Rahi Saat Menolong Warga Terluka
![]() |
| Pastor Pierre El-Rahi, imam paroki Maronit yang tewas dalam serangan bom di desa Qlayaa, Lebanon selatan |
VATIKAN - Katolik Terkini - Vatikan menyatakan duka mendalam atas meninggalnya Pastor Pierre El-Rahi, imam paroki Maronit yang tewas dalam serangan bom di desa Qlayaa, Lebanon selatan.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Pers Takhta Suci, Paus Leo XIV menyampaikan belasungkawa kepada seluruh korban pemboman yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa Paus mengikuti perkembangan konflik dengan penuh keprihatinan dan mendoakan agar semua aksi permusuhan segera berakhir. Duka Vatikan secara khusus ditujukan kepada mereka yang menjadi korban serangan, termasuk anak-anak dan para relawan yang berupaya menolong korban luka.
Menurut kesaksian Pastor Toufic Bou Merhi, seorang imam Fransiskan dari Kustodi Tanah Suci yang berbicara kepada media Vatikan, Pastor El-Rahi tewas saat berusaha menolong seorang umat parokinya yang terluka akibat serangan sebelumnya.
Serangan pertama dilaporkan menghantam sebuah rumah yang berada tidak jauh dari gereja tempat El-Rahi melayani. Salah satu warga yang tinggal di rumah tersebut mengalami luka-luka. Mendengar kabar itu, Pastor El-Rahi segera menuju lokasi bersama puluhan pemuda setempat untuk memberikan bantuan.
Namun ketika mereka masih berada di lokasi, serangan kedua terjadi dan menghantam rumah yang sama. Ledakan tersebut melukai sang imam secara fatal.
El-Rahi segera dilarikan ke rumah sakit terdekat, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan. Ia meninggal dunia tidak lama setelah tiba di fasilitas medis tersebut.
Yayasan kepausan Aid to the Church in Need (ACN) mengonfirmasi kabar tersebut dan menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ancaman terhadap warga sipil di Lebanon selatan.
Dalam pernyataannya, organisasi tersebut menyebut bahwa Pastor El-Rahi sedang melayani umat yang tengah berduka ketika wilayah desa Qlayaa diserang.
Organisasi Katolik Prancis L’Euvre d’Orient juga mengecam keras serangan tersebut. Mereka menilai tindakan militer tersebut berpotensi memperburuk ketidakstabilan di seluruh wilayah Lebanon serta meningkatkan risiko korban sipil.
“Serangan ini merupakan tindakan perang yang mengancam stabilitas Lebanon dan menewaskan warga sipil tak bersalah. Kematian seorang imam yang menolak meninggalkan parokinya menunjukkan eskalasi kekerasan yang semakin tidak masuk akal,” demikian pernyataan organisasi tersebut.
Serangan yang menewaskan Pastor El-Rahi terjadi sekitar pukul 14.00 waktu setempat di Beirut. Insiden ini berlangsung tepat satu minggu setelah meningkatnya intensitas pemboman Israel di wilayah selatan Lebanon.
Menurut laporan Lebanese National News Agency (NNA), situasi keamanan di wilayah perbatasan semakin memburuk. Kelompok militan bersenjata dilaporkan telah memasuki kawasan Qlayaa–Marjayoun serta beberapa desa di sekitarnya seperti Rmeish, Debel, dan Ain Ebel. Kehadiran kelompok bersenjata ini memperbesar ancaman terhadap komunitas yang sebelumnya relatif aman, termasuk desa-desa dengan populasi Kristen.
Kematian Pastor El-Rahi memberikan dampak psikologis yang mendalam bagi komunitas Katolik di wilayah tersebut. Pastor Toufic Bou Merhi mengatakan bahwa banyak warga kini diliputi rasa takut.
Menurutnya, selama ini masyarakat di desa-desa Kristen cenderung bertahan dan enggan meninggalkan rumah mereka meskipun konflik terus meningkat. Namun situasi terbaru membuat banyak orang mulai mempertimbangkan untuk mengungsi demi keselamatan.
“Orang-orang menangis karena tragedi ini dan pada saat yang sama mereka sangat ketakutan,” ujarnya.
Namun keputusan untuk meninggalkan rumah bukanlah pilihan mudah. Banyak keluarga tidak memiliki sumber daya untuk menyewa tempat tinggal baru atau memulai kehidupan di tempat lain. Dalam banyak kasus, meninggalkan desa berarti hidup tanpa kepastian.
Di tengah konflik yang memburuk, Lebanon juga menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin serius. Pastor Bou Merhi melaporkan bahwa sebuah biara Fransiskan di kota Tyre saat ini menampung sekitar 200 orang pengungsi yang melarikan diri dari wilayah konflik.
Menariknya, seluruh pengungsi yang saat ini berlindung di biara tersebut merupakan warga Muslim. Para biarawan membuka pintu bagi siapa pun yang membutuhkan perlindungan tanpa memandang latar belakang agama.
“Kami menerima mereka karena dalam situasi seperti ini, mereka tidak punya tempat lain untuk pergi,” kata Bou Merhi.
Data terbaru menunjukkan bahwa gelombang pengungsian terus meningkat. Di Beirut saja, jumlah pengungsi diperkirakan mencapai hampir 500.000 orang. Sementara itu, sekitar 300.000 orang lainnya telah meninggalkan wilayah Lebanon selatan dan ribuan lainnya melarikan diri dari Lembah Bekaa.
Banyak dari mereka meninggalkan rumah, harta benda, dan sejarah hidup yang mereka bangun selama bertahun-tahun. Namun yang paling menyulitkan adalah ketidakpastian mengenai masa depan mereka.
“Banyak orang tidur di mobil mereka atau di jalanan,” kata Bou Merhi.
Ia menambahkan bahwa lembaga-lembaga kemanusiaan dan komunitas lokal tidak siap menghadapi jumlah pengungsi yang begitu besar. Hampir seperempat populasi negara kini terdampak langsung oleh konflik.
Di tengah situasi yang semakin sulit, komunitas Kristen di Lebanon selatan berusaha mempertahankan harapan. Para pemimpin gereja terus mengajak umat untuk tidak kehilangan iman meskipun kekerasan terus berlangsung.
“Kami selalu mengatakan bahwa hal terakhir yang tidak boleh mati dalam diri kami adalah harapan kepada Tuhan,” kata Bou Merhi.
Ia juga mengutip pesan Paus yang menegaskan bahwa senjata tidak akan pernah membawa perdamaian.
“Senjata hanya membawa pembantaian dan kebencian. Yang kami inginkan hanyalah hidup dengan sedikit martabat,” ujarnya.
Kematian Pastor Pierre El-Rahi kini menjadi simbol tragis dari risiko yang dihadapi para pemimpin agama dan relawan kemanusiaan di wilayah konflik, orang-orang yang memilih tetap tinggal bersama komunitas mereka ketika kekerasan semakin mendekat.(AD)
Sumber : Vatican News

Posting Komentar