Kisah Suster Donovan: Dari Mimpi Menjadi Istri Petani hingga Mendedikasikan Hidup bagi Perempuan yang Terluka
![]() |
| Mother Mary Agnes Donovan |
Katolik Terkini - Menjelang peringatan Hari Perempuan Internasional, sosok Mother Mary Agnes Donovan menjadi sorotan. Suster dari komunitas religius Sisters of Life ini dikenal luas karena dedikasinya selama lebih dari tiga dekade mendampingi perempuan, khususnya mereka yang menghadapi kehamilan tak terduga dan pergulatan hidup yang berat.
Atas kontribusi tersebut, organisasi nirlaba GIVEN Institute baru-baru ini mengumumkan bahwa Donovan akan menerima GIVEN Fiat Award 2026, sebuah penghargaan yang diberikan kepada perempuan yang dinilai memberi kesaksian kuat tentang martabat perempuan dan nilai kehidupan manusia.
Namun di balik penghargaan itu, perjalanan hidup Donovan dan karya komunitas Sisters of Life menyimpan kisah panjang tentang panggilan hidup, pergulatan iman, serta upaya konkret mendampingi perempuan yang berada dalam situasi rentan.
Dari calon istri petani menjadi suster
Donovan tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berakhir di biara. Ia lahir dan besar di wilayah pedesaan pertanian di Pennsylvania, Amerika Serikat, dan sejak kecil membayangkan masa depannya sederhana.
“Saya selalu berpikir akan menjadi istri seorang petani dan memiliki enam anak,” katanya dalam wawancara dengan jurnalis EWTN News, Colm Flynn, yang ditayangkan dalam program “EWTN News Nightly.”
Ketertarikannya pada hidup manusia kemudian membawanya mempelajari psikologi. Ia mengambil studi psikologi pendidikan dan meraih gelar doktor dari University of North Carolina at Chapel Hill. Setelah menyelesaikan pendidikan, ia mulai mengajar di Columbia University di New York.
Pada masa itu, Donovan mengira karier akademis adalah masa depannya.
“Saya pikir itulah hidup saya selamanya,” katanya.
Namun titik balik datang ketika ia mengikuti retret Ignasian selama delapan hari. Dalam retret yang dilakukan dalam keheningan itu, Donovan mengalami pengalaman spiritual yang ia gambarkan sebagai perjumpaan mendalam dengan kasih Allah.
“Pertemuan dengan kasih Allah itu membalikkan hidup saya,” katanya.
Pengalaman tersebut membuatnya merasa dipanggil untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.
Awal berdirinya Sisters of Life
Pada tahun 1991, ketika Kardinal John O’Connor mendirikan komunitas religius Sisters of Life, Donovan memutuskan untuk bergabung. Dua tahun kemudian ia mengucapkan kaul biara dan resmi menjadi suster.
Meski banyak orang menyebutnya sebagai salah satu pendiri komunitas tersebut, Donovan menolak label itu.
Menurutnya, Kardinal O’Connorlah yang menerima karunia rohani yang menjadi dasar berdirinya komunitas tersebut. Ia sendiri menjadi pemimpin pertama komunitas dan memegang posisi itu dalam waktu yang cukup lama.
“Saya rasa lima puluh suster pertama semuanya adalah suster-suster yang membangun dasar komunitas ini. Kami membangun misi dan kehidupan bersama secara kolektif,” katanya.
Saat ini komunitas tersebut memiliki sekitar 145 suster dan terus bertambah, sesuatu yang cukup jarang terjadi di tengah menurunnya jumlah panggilan hidup religius di banyak negara Barat.
Misi utama mendampingi perempuan
Sejak awal berdiri, Sisters of Life memiliki fokus pelayanan yang jelas: mendampingi perempuan yang mengalami kehamilan tak terduga atau berada dalam krisis kehidupan.
Donovan mengatakan banyak perempuan yang datang kepada mereka sedang berada dalam kebingungan besar tentang masa depan mereka.
“Banyak perempuan yang menghubungi kami karena mereka ingin memahami semua pilihan yang ada sebelum membuat keputusan,” katanya.
Menurut Donovan, sebagian perempuan yang datang mungkin tidak aktif menjalankan iman, tetapi masih memiliki kesadaran spiritual dalam diri mereka.
“Mereka tahu bahwa ini adalah keputusan penting dan mereka tidak ingin mengabaikannya,” katanya.
Pendampingan yang diberikan para suster tidak bersifat memaksa. Mereka lebih menekankan proses mendengarkan secara mendalam.
“Tugas kami adalah membantu mereka memperlambat langkah, sehingga mereka bisa merenungkan dengan hati apa yang sebenarnya mereka hadapi dan pilihan apa yang tersedia,” katanya.
Pengalaman perempuan setelah aborsi
Dalam pelayanan mereka, para suster juga mendampingi perempuan yang pernah mengalami aborsi. Banyak dari mereka datang dalam kondisi emosional yang rapuh.
Donovan mengatakan sebagian besar dari mereka mengambil keputusan tersebut secara cepat karena tekanan situasi.
“Mereka mengatakan bahwa pengalaman aborsi tidak seperti yang sering digambarkan,” katanya.
Menurutnya, banyak perempuan kemudian merasakan luka emosional yang mendalam setelahnya.
Karena itu, komunitas Sisters of Life juga menyediakan program retret, doa, dan pertemuan kelompok untuk membantu para perempuan tersebut memproses pengalaman hidup mereka.
“Kadang mereka datang beberapa minggu setelah aborsi, kadang beberapa bulan, bahkan puluhan tahun kemudian,” katanya.
Anak-anak yang kini sudah dewasa
Setelah lebih dari 35 tahun pelayanan, dampak karya komunitas ini mulai terlihat secara nyata.
Banyak anak yang dulu lahir dari perempuan yang didampingi para suster kini telah dewasa. Sebagian dari mereka bahkan kembali untuk menjadi relawan.
“Beberapa dari mereka melakukan jam pelayanan sakramen krisma bersama kami,” kata Donovan.
Ia mengatakan momen yang paling menyentuh adalah saat perayaan Natal komunitas.
“Ketika kami melihat semua anak itu berkumpul, kami sering berpikir bahwa mungkin tidak satu pun dari mereka akan hidup hari ini,” katanya.
Tantangan perempuan beriman di zaman modern dan misi yang terus berkembang
Selain soal pelayanan sosial, Donovan juga menyoroti tantangan yang dihadapi perempuan beriman di dunia modern.
Menurutnya, perempuan yang menjalani hidup berdasarkan iman sering merasa tidak cocok dengan budaya dominan.
“Jika Anda seorang perempuan beriman, Anda hidup dengan cara yang bertentangan dengan budaya yang umum,” katanya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya komunitas yang saling mendukung.
“Sering kali orang lainlah yang pertama melihat karunia dalam diri kita dan membantu kita menyadarinya,” katanya.
Di tengah menurunnya jumlah panggilan hidup religius di banyak tempat, Sisters of Life justru terus berkembang.
Donovan melihat hal ini sebagai tanda bahwa pelayanan mereka masih sangat dibutuhkan.
“Kami hidup di zaman ketika banyak orang mempertanyakan makna hidup mereka,” katanya.
Misi komunitas ini, menurutnya, adalah menjawab kegelisahan itu dengan pesan sederhana: setiap manusia memiliki nilai yang tak terbatas dan tujuan hidup yang unik.
“Tuhan telah memberkati kami dengan banyak panggilan,” katanya, “namun kami masih membutuhkan lebih banyak lagi.” (AD)

Posting Komentar