Kardinal Parolin: Nunsius Apostolik Dipanggil Membawa Damai dan Persatuan di Tengah Perpecahan
Katolik Tekini - Sekretaris Negara Vatikan, Pietro Parolin, menegaskan bahwa seorang Nunsius Apostolik dipanggil untuk menjadi pembawa damai, persatuan, dan kebenaran di tengah dunia yang sering diliputi perpecahan. Hal itu disampaikannya dalam homili saat menahbiskan Relwende Kisito Ouedraogo sebagai uskup agung pada Sabtu (7/3/2026), di Basilika Minor Notre-Dame di Yagma.
Dalam homilinya, seperti dilansir dari Vatican News, Kardinal Parolin mengenang masa panjang kebersamaannya dengan Uskup Agung Ouedraogo selama bertahun-tahun bekerja di Roma. Ia mengatakan bahwa mereka telah berbagi berbagai pengalaman dalam pelayanan kepada Gereja universal.
“Kami dapat berbagi pekerjaan yang selalu sangat intens, beserta kelelahan yang menyertainya, tetapi juga sukacita dan kepuasan karena menjadi rekan sekerja dalam pelayanan universal Paus,” ungkapnya.
Menurut Parolin, pengalaman panjang tersebut menjadi persiapan bagi misi baru yang kini dipercayakan kepada Ouedraogo sebagai wakil kepausan. Ia menyebut bahwa sang uskup agung kini kembali ke Afrika, sebuah benua yang selalu dekat dengan hatinya dan yang selama ini diwakilinya dengan baik di Roma.
Dipanggil menghadapi tugas baru
Dalam kesempatan itu, Parolin juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas kerja sama dan bantuan yang selama ini diberikan oleh Uskup Agung Ouedraogo dalam pelayanannya di Vatikan. Ia mengakui bahwa pengabdian tersebut sering kali menuntut pengorbanan besar.
Pada saat yang sama, Parolin mendorongnya untuk menghadapi tugas barunya dengan ketenangan dan kepercayaan yang besar.
Semangat tersebut, menurutnya, tercermin dalam moto episkopal yang dipilih Ouedraogo dari Injil Yohanes 2:5: “Lakukanlah apa yang Ia katakan kepadamu.”
Kata-kata yang diucapkan oleh Perawan Maria pada pesta perkawinan di Kana itu, jelas Parolin, menjadi pedoman penting bagi perjalanan pelayanan seorang gembala.
Ia menambahkan bahwa dalam perjalanan pelayanan Gereja, kesulitan dan tantangan pasti akan muncul. Namun, seseorang akan menemukan ketenangan dan damai dalam hati ketika selalu berusaha melakukan kehendak Allah.
Membawa terang di tengah perpecahan
Lebih lanjut, Parolin menegaskan bahwa misi seorang Nunsius Apostolik bukan hanya tugas diplomatik, tetapi juga panggilan untuk membawa terang Injil.
Menurutnya, wakil kepausan dipanggil untuk “membawa kebenaran dan terang, damai dan persatuan di tengah kegelapan dosa, perpecahan, dan kebohongan.”
Ia juga memperingatkan tentang bahaya munculnya “nabi-nabi palsu” yang dapat menyesatkan umat dengan ajaran yang keliru dan memecah belah Gereja.
Karena itu, seorang nunsius harus menjadi pewarta kebenaran dan gembala yang berkenan di hati Kristus. Ia harus siap memberikan hidupnya bagi umat, sebagaimana Kristus sendiri telah melakukannya bagi manusia.
Pewarta Injil yang setia
Dalam homilinya, Parolin juga menyinggung makna kata nunsius. Ia menjelaskan bahwa seorang nunsius adalah pembawa pesan.
Sebagai uskup, ia membawa pesan Kristus. Sementara dalam tugas diplomatiknya, ia juga membawa pesan Bapa Suci kepada Gereja dan masyarakat.
Karena itu, Parolin mendorong Uskup Agung Ouedraogo untuk mewartakan Injil dengan setia dan tanpa henti kepada semua orang. Pewartaan tersebut, katanya, harus tercermin tidak hanya dalam kata-kata tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Membangun jembatan dan membawa penghiburan
Kardinal Parolin juga menekankan bahwa seorang wakil kepausan dipanggil untuk menjadi pembangun relasi dan jembatan, terutama di tempat-tempat yang penuh tantangan.
Dalam menjalankan misi diplomatiknya, seorang nunsius harus mampu membawa kata-kata penyembuhan dan penghiburan atas nama Paus. Dengan demikian, semua orang dapat merasakan bahwa Gereja selalu siap bertindak karena kasih.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam tugas menjaga kesatuan Gereja, seorang nunsius tidak pernah berjalan sendirian. Ia selalu bertindak sub umbra Petri, di bawah bayang-bayang Petrus, dalam persekutuan dengan Paus sebagai penerus Santo Petrus.
Pelayanan yang berakar pada doa
Di bagian akhir homilinya, Kardinal Parolin menegaskan pentingnya kehidupan doa bagi seorang gembala Gereja. Menurutnya, melalui doa yang tekun seorang nunsius dapat menjadi perantara antara Allah dan umat manusia.
Dengan doa dan pelayanan yang setia, ia diharapkan membantu umat beriman bertumbuh dalam iman, meneguhkan kesetiaan mereka, serta memperdalam kasih kepada Allah.
Kardinal Parolin kemudian menutup refleksinya dengan mempercayakan pelayanan Uskup Agung Ouedraogo kepada perlindungan Bunda Maria dan teladan para martir Uganda, yang menjadi saksi iman bagi Gereja hingga akhir hayat mereka.(AD)

Posting Komentar