Gereja Katolik Filipina Perkuat Peran Paroki dalam Pencegahan Perdagangan Manusia
Katolik Terkini - Menjelang peringatan Hari Doa dan Kesadaran Internasional Melawan Perdagangan Manusia (International Day of Prayer and Awareness Against Human Trafficking), Gereja Katolik di Filipina kembali menegaskan komitmennya untuk melawan perdagangan manusia.
Uskup Socrates Mesiona dari Keuskupan Puerta Princesa menyerukan agar paroki-paroki menjadi ruang kewaspadaan, pendidikan, dan perlindungan bagi kelompok rentan.
“Perdamaian berawal dari martabat,” tegas Uskup Mesiona dalam pernyataan resmi yang dirilis pada 1 Februari.
Ia mengingatkan bahwa perdagangan manusia masih menjadi ancaman serius di Filipina, terutama bagi para migran, perempuan, dan anak-anak.
Sebagai Ketua Komisi Konferensi Waligereja Filipina untuk Pelayanan Pastoral bagi Para Migran dan Masyarakat Berpindah, Uskup Mesiona menyoroti sejumlah faktor yang memperparah kerentanan masyarakat, seperti tingginya angka kemiskinan, maraknya kekerasan dan pelecehan daring, serta praktik perekrutan tenaga kerja yang menipu.
Dalam pernyataannya, seperti dilansir dari media Aleteia, Uskup Mesiona mendorong Gereja untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan perdagangan manusia, baik di tingkat keuskupan maupun paroki. Hingga saat ini, tercatat 12 keuskupan di Filipina telah membentuk Komite Keuskupan Melawan Perdagangan Manusia (Diocesan Committees Against Human Trafficking atau DCAHT).
Ia mengajak keuskupan-keuskupan lain yang belum memiliki komite serupa untuk segera membentuknya, serta meminta agar DCAHT yang sudah ada diperkuat. Menurutnya, koordinasi yang lebih baik akan memungkinkan Gereja menanggapi kasus perdagangan manusia secara lebih cepat, efektif, dan kolaboratif.
Paroki di Garda Terdepan
Uskup Mesiona menekankan bahwa perdagangan manusia tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga menghancurkan keluarga dan komunitas. Karena itu, tindakan konkret harus dimulai dari tempat orang hidup sehari-hari, yakni paroki.
Ia menyerukan agar paroki-paroki mengambil peran terdepan dalam pencegahan dengan menjadi ruang aman untuk pembelajaran, kewaspadaan, dan perlindungan bagi mereka yang rentan. Kesadaran akan bahaya perdagangan manusia, katanya, perlu diintegrasikan dalam katekese, program pendampingan kaum muda, serta pembinaan keluarga.
“Tanggapan umat Katolik terhadap perdagangan manusia harus berakar pada doa,” ujar Uskup Mesiona. Namun, ia menegaskan bahwa doa saja tidak cukup. “Kesadaran harus mendorong kita pada tanggung jawab, dan iman harus menuntun kita pada tindakan.”
Hari Doa dan Kesadaran
Pernyataan tersebut dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Doa dan Kesadaran Nasional Melawan Perdagangan Manusia di Filipina yang jatuh pada Minggu, 1 Februari. Sementara itu, Hari Doa dan Kesadaran Internasional Melawan Perdagangan Manusia akan diperingati pada Minggu, 8 Februari.
Peringatan internasional ini digerakan oleh International Union of Superiors General (UISG) dan Union of Superiors General (USG), dan bertepatan dengan pesta Santa Yosefina Bakhita. Santa Bakhita adalah seorang biarawati asal Sudan yang diculik dan diperbudak sejak kecil, dan kini dihormati sebagai simbol perjuangan Gereja melawan perdagangan manusia dan segala bentuk perbudakan modern.
Berbagai kegiatan pada hari tersebut dikoordinasikan oleh Talitha Kum, sebuah jaringan internasional anti-perdagangan manusia yang didirikan oleh UISG. Nama Talitha Kum berasal dari bahasa Aram yang berarti “Hai anak perempuan, bangunlah,” melambangkan harapan, pemulihan, dan pembebasan bagi para korban.
Di seluruh dunia, para suster religius berada di garis depan dalam upaya menghentikan perdagangan manusia. Mereka terlibat langsung dalam pencegahan, penyelamatan korban, pendampingan pastoral, serta proses pemulihan dan penyembuhan para penyintas.(AD)

Posting Komentar