Pengosongan Diri Seorang Gembala: Refleksi Kritis atas Pengunduran Diri Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM
![]() |
| Foto bersama Mgr. Paskalis OFM setelah mengikuti konferensi Pers dalam rangka persiapan menyambut kunjungan Paus Fransiskus pada tahun 2024 |
Oleh: Albertus Dino
Katolik Terkini - Pengunduran diri Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM sebagai Uskup Bogor datang seperti petir di siang bolong. Bagi banyak umat, termasuk saya yang cukup mengenal beliau, berita itu tidak hanya mengejutkan, tetapi juga mengguncang kesadaran iman. Sebuah pesan singkat di grup WhatsApp, disertai video singkat, membuka tabir peristiwa yang segera memunculkan beragam spekulasi: "Breaking News: Mgr Paskalis Bruno Syukur Mundur dari Uskup Bogor."
Reaksi awal saya adalah ketidakpercayaan. Konfirmasi dari seorang saudara Fransiskan justru mempertegas kenyataan itu. Di titik ini, pertanyaan reflektif muncul dalam benak saya: apa yang sesungguhnya sedang terjadi di balik pengunduran diri Mgr Paskalis? Apakah ini sekadar keputusan administratif Gereja, atau justru sebuah peristiwa rohani yang menyimpan makna lebih dalam?
Sikap Simbolik yang Berbicara: Jubah Fransiskan dan Bahasa Tubuh Spiritualitas
Hal pertama yang patut dicermati secara kritis sekaligus reflektif adalah sikap simbolik Mgr Paskalis ketika menyampaikan pesan perpisahannya. Ia tidak tampil dengan jubah kebesaran uskup, simbol otoritas hierarkis, melainkan mengenakan jubah coklat sederhana Ordo Saudara Dina (OFM). Pilihan ini, menurut saya, bukan tanpa alasan melainkan ini adalah bahasa simbolik yang kuat.
Dalam tradisi Gereja, simbol bukan sekadar ornamen, melainkan sarana pewartaan. Dengan mengenakan jubah Fransiskan, Mgr Paskalis seolah menegaskan kembali identitas terdalamnya: bukan pertama-tama sebagai pejabat gerejawi, melainkan sebagai Saudara Dina yang dipanggil untuk hidup dalam kemiskinan, ketaatan, dan kerendahan hati. Di tengah budaya Gereja yang sering kali masih sangat hierarkis dan berjarak, gestur ini merupakan kritik diam terhadap kecenderungan klerikalisme.
Puncak refleksi spiritual Mgr Paskalis terungkap ketika ia mengutip peristiwa dalam hidup Santo Fransiskus dari Assisi: saat Fransiskus menanggalkan jubah duniawinya di hadapan Uskup Asisi dan menyatakan hanya Allah sebagai Bapanya. Dengan merujuk pada momen itu, Mgr Paskalis tidak sedang melakukan romantisasi spiritual, melainkan menawarkan sebuah hermeneutika iman atas keputusannya.
"Hari ini saya pun melakukan hal yang sama. Saya menerima keputusan Paus dan menanggalkan jabatan sebagai uskup bukan dengan rasa kehilangan, melainkan dengan kebebasan hati."
Ungkapan ini menyingkap sebuah pemahaman mendalam bahwa jabatan dalam Gereja bukanlah milik pribadi, melainkan sarana pelayanan yang sewaktu-waktu dapat dan harus dilepaskan. Dalam terang spiritualitas Fransiskan, pengunduran diri ini bukan kekalahan, tetapi pengosongan diri.
Di Balik Keheningan: Intrik, Tekanan, dan Luka Struktural
Namun refleksi iman tidak boleh menutup mata terhadap realitas konkret. Dalam pesannya, Mgr Paskalis secara terbuka mengakui adanya tekanan dan situasi sulit yang mengiringi pelayanannya. Ia menyebut empat isu utama: misi di Lebak dan keberadaan Suster SFS, stabilitas keuangan keuskupan, tuduhan relasi personal, serta dinamika presbyterium dan kuria.
Pengakuan ini mematahkan ilusi bahwa Gereja adalah ruang steril dari konflik dan ambisi. Justru sebaliknya, Gereja kerap menjadi arena tarik-menarik kepentingan. Yang menarik, semua tuduhan tersebut sudah diselidiki melalui visitasi apostolik dan dinyatakan tidak terbukti. Integritas pelayanan Mgr Paskalis ditegaskan tetap terjaga.
Di titik inilah kritik reflektif perlu diarahkan bukan pada pribadi Mgr Paskalis, melainkan pada sistem dan budaya internal Gereja yang memungkinkan gosip, fitnah, dan tekanan struktural berkembang tanpa mekanisme koreksi yang sehat.
Penjelasan Mgr Paskalis mengenai isu misi di Lebak dan Suster SFS memperlihatkan jurang antara fakta dan persepsi publik. Tuduhan pengusiran dan kesalahpahaman misi Gereja menunjukkan betapa rapuhnya komunikasi internal Gereja. Demikian pula isu kebangkrutan keuskupan dan penyalahgunaan dana yang terbukti tidak berdasar, namun telanjur mencederai kepercayaan.
Di sini muncul pertanyaan reflektif yang lebih luas: sejauh mana Gereja serius membangun budaya transparansi dan literasi informasi di tengah umatnya sendiri? Sebab kebenaran yang tidak dikomunikasikan dengan baik akan kalah oleh kebohongan yang disebarkan dengan masif.
Kepemimpinan yang Sunyi dan Salib Seorang Gembala
Pengakuan Mgr Paskalis bahwa kepemimpinan sering kali menjadi jalan yang sunyi adalah kesaksian yang jujur dan menyentuh. Ia berbicara tentang rasa bekerja sendiri, minim dukungan, dan resistensi terhadap pembaruan struktural. Ini bukan sekadar curahan pribadi, tetapi cermin dari krisis kepemimpinan Gereja kita saat ini.
Seorang uskup dituntut menjadi bapak, gembala, dan nabi sekaligus, sering tanpa ekosistem pendukung yang memadai. Ketika pembaruan ditafsir sebagai ancaman, maka yang tersisa bagi pemimpin adalah kesepian.
Keputusan Mgr Paskalis untuk mundur, meski integritasnya dinyatakan utuh, menantang logika kita. Ia memilih mengalah demi persatuan Gereja. Dalam terang iman, ini adalah tindakan profetis. Ia menghidupi sabda Kristus yang memilih diam, serta spiritualitas Paulus: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik."
Pengunduran diri ini bukan tanda bahwa ia kalah, melainkan bahwa ia bebas, bebas dari keterikatan jabatan, bebas untuk kembali ke akar panggilan sebagai seorang Fransiskan.
Gereja Belajar dari Sebuah Pengosongan Diri
Peristiwa pengunduran diri Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM seharusnya tidak berhenti sebagai polemik atau sensasi. Ia adalah cermin bagi Gereja Indonesia: tentang kepemimpinan, ketaatan, konflik, dan kemurnian niat pelayanan.
Jubah coklat yang ia kenakan dan kata-kata Santo Fransiskus Assisi yang ia kutip adalah kritik diam sekaligus ajakan profetis, bahwa Gereja akan tetap setia pada Kristus hanya sejauh ia berani melepaskan ambisi duniawinya. Dalam pengosongan diri seorang gembala, kita justru menemukan kepenuhan makna pelayanan iman kita.***

Posting Komentar