Skisma Katolik–Ortodoks 1054: Fakta Sejarah dan Refleksi Teologis
![]() |
| Sumber foto dari Vatican News |
Katolik Terkini - Enam puluh tahun setelah Deklarasi Bersama Paus Santo Paulus VI dan Patriark Athenagoras I tahun 1965, relasi antara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks kembali direfleksikan secara mendalam.
Sebuah konferensi,seperi dilansir dari Vatican News, di Roma dalam satu pekan ini, yang memperingati apa yang populer disebut sebagai “pencabutan anathema”, bukan hanya menghadirkan kilas balik sejarah, tetapi juga mengajak umat Kristiani untuk meninjau ulang narasi lama tentang skisma 1054, narasi yang selama berabad-abad membentuk kesadaran kolektif umat.
Dalam ingatan kita, tahun 1054 kerap dipahami sebagai momen pasti dan final terjadinya perpecahan antara Gereja Timur dan Barat. Kisahnya sederhana: dua Gereja besar saling mengutuk dan sejak itu berjalan di jalur yang terpisah.
Namun, refleksi para teolog dan sejarawan yang disuarakan kembali dalam konferensi ini menunjukkan bahwa sejarah Gereja tidak sesederhana itu. Bahkan, bisa dikatakan bahwa narasi “skisma 1054” lebih merupakan konstruksi belakangan daripada kenyataan historis yang utuh.
1054: Retaknya Persekutuan, Bukan Skisma Definitif
Kardinal Kurt Koch dan Metropolitan Job dari Pisidia menggarisbawahi satu hal penting: peristiwa tahun 1054 tidak dapat begitu saja disebut sebagai skisma antara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks. Yang terjadi kala itu adalah ekskomunikasi yang bersifat personal dan terbatas, bukan pemutusan relasi gerejawi secara total.
Bulla ekskomunikasi yang disampaikan oleh para utusan Latin di Konstantinopel tidak ditujukan kepada seluruh Gereja Timur, melainkan kepada beberapa individu, termasuk Patriark Mikhael Kerularius. Respons dari pihak Patriarkat Konstantinopel pun serupa: ekskomunikasi terbatas kepada para utusan Paus. Bahkan, secara kanonik, tindakan para legatus tersebut problematik, sebab Paus Leo IX, yang mengutus mereka, telah wafat beberapa bulan sebelumnya.
Penegasan ini penting, karena membongkar anggapan bahwa sejak 1054 Gereja Katolik dan Ortodoks secara resmi dan sadar memilih jalan perpecahan. Yang lebih tepat adalah berbicara tentang “retaknya persekutuan” yang semakin membesar seiring waktu, diperparah oleh faktor politik, budaya, bahasa, dan teologis.
1965: Dari Mengutuk Menuju Mengingat dan Menyembuhkan
Di sinilah makna Deklarasi Bersama tahun 1965 menjadi sangat penting. Paus Paulus VI dan Patriark Athenagoras I tidak “mencabut” sesuatu yang secara formal berlaku atas seluruh Gereja, melainkan melakukan tindakan simbolis dan profetis: menyerahkan ekskomunikasi masa lalu kepada “kelupaan”. Bahasa ini kuat, bukan karena menghapus sejarah, tetapi karena mengubah cara Gereja mengingat sejarah.
Deklarasi tersebut menandai pergeseran besar dalam relasi Katolik–Ortodoks: dari saling curiga menuju saling mengakui. Kardinal Koch menyebutnya sebagai lahirnya “eklesiologi Gereja-Gereja saudari”, sebuah cara pandang yang mengakui bahwa masing-masing Gereja adalah Gereja sejati, dengan tradisi, sakramen, dan warisan iman yang sah.
Namun, penting dicatat: Deklarasi 1965 bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal. Kesatuan penuh, termasuk persekutuan Ekaristi, belum terwujud. Tetapi arah sudah ditetapkan, dan arah itu adalah dialog, bukan konfrontasi.
Kemajuan Teologis dan Tantangan Penerimaan
Metropolitan Job dari Pisidia mengingatkan bahwa dalam enam dekade terakhir, kemajuan teologis yang signifikan telah dicapai, terutama dalam dialog mengenai sinodalitas dan primasi. Isu-isu yang dulu dianggap sebagai tembok pemisah kini menjadi medan dialog yang serius dan jujur.
Salah satu tanda paling simbolis adalah keputusan para Paus untuk tidak melafalkan klausul filioque dalam Syahadat pada perayaan-perayaan ekumenis. Tindakan Paus Leo XIV yang kembali menghilangkan klausul tersebut dalam ibadat vesper ekumenis baru-baru ini dibaca sebagai sinyal harapan, bahwa kesatuan tidak dibangun dengan memaksakan formula, melainkan dengan saling menghormati tradisi iman.
Namun, Metropolitan Job juga menegaskan tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada tingkat institusional, melainkan pada tingkat penerimaan. Dialog teologis elit tidak akan menghasilkan kesatuan sejati jika tidak dihidupi oleh para imam, biarawan-biarawati, dan umat awam. Kesatuan Gereja tidak bisa hanya menjadi proyek hierarki; ia harus menjadi kerinduan seluruh umat Allah.
Kesatuan Dimulai dari Cara Kita Mengingat
Peringatan 60 tahun “pencabutan anathema” mengajak kita untuk bertanya: bagaimana kita mengingat sejarah Gereja? Apakah kita terus memelihara ingatan yang melukai, atau berani melakukan apa yang dilakukan Paus dan Patriark pada tahun 1965, menyembuhkan ingatan demi masa depan?
Dalam konteks dunia yang terfragmentasi oleh konflik identitas, kesaksian Gereja tentang rekonsiliasi menjadi semakin relevan. Dialog Katolik–Ortodoks menunjukkan bahwa kesatuan tidak menuntut keseragaman, dan bahwa perbedaan tidak harus berakhir pada perpecahan.
Enam puluh tahun setelah deklarasi bersejarah itu, jalan menuju kesatuan memang masih panjang. Namun satu hal yang jelas: ketika Gereja memilih untuk belajar satu sama lain sebagai Gereja-Gereja saudari, harapan akan kesatuan Kristiani tidak lagi menjadi utopia, melainkan sebuah panggilan yang perlahan, namun nyata, sedang diwujudkan.(AD)
Disadur dari Vatican News

Posting Komentar