Dari Muslim, Protestan, hingga Katolik: Jalan Iman yang Mengantar Sr. Evelyn ke Biara
Katolik Terkini - Keputusan Sr. Evelyn del Nino Jesus menjadi biarawati Katolik bukanlah langkah yang lahir dalam semalam. Pilihan itu merupakan puncak dari perjalanan iman yang panjang, berliku, dan penuh pergulatan batin.
Perempuan asal Singapura ini sebelumnya dibesarkan dalam tradisi Islam. Dalam perjalanan hidupnya, ia kemudian dibaptis dalam Gereja Protestan. Namun pencariannya tidak berhenti di sana. Ia mengaku terus merasakan adanya kerinduan akan kebenaran yang lebih utuh, sebuah rasa “kurang” yang tidak terjawab meski secara lahiriah ia telah memiliki kehidupan mapan dan menjanjikan sebagai pramugari di salah satu maskapai besar di negaranya.
Seperti ikutip dari media Aleteia, Sr. Evelyn menuturkan bahwa meskipun ia menikmati kehidupan yang nyaman dan mewah, hatinya tetap gelisah. Ia merasa dipanggil untuk memberikan hidupnya secara total kepada Tuhan, bukan sekadar melakukan kebaikan atau karya amal.
Titik baliknya terjadi ketika ia mengenal iman Katolik lebih dalam melalui seorang teman. Dari sana, ia menemukan pemahaman tentang penyerahan diri sepenuhnya dalam persatuan dengan Yesus, sesuatu yang ia rasakan menjawab dahaga rohaninya.
Pilihannya menjadi Katolik bukan sekadar perpindahan denominasi, melainkan transformasi spiritual. Ia tidak hanya mengubah identitas iman, tetapi juga arah hidup. Dari seorang profesional yang aktif dan kosmopolitan, ia mulai mempertimbangkan hidup religius yang tersembunyi dan kontemplatif.
Awalnya, ia sempat berpikir untuk menjadi biarawati Karmelit. Namun melalui refleksi yang cukup lama, ia akhirnya masuk ke Ordo Dominikan dan bergabung dengan Biara Para Suster Dominikan Santo Domingo el Real di Segovia, Spanyol. Di sana, setelah 30 tahun tanpa panggilan baru, ia mengikrarkan kaul kekalnya; sebuah komitmen seumur hidup dalam doa, kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan pada 2 Juli 2021.
Tidak semua pihak langsung menerima keputusannya. Keluarga sempat menolak, sulit membayangkan ia meninggalkan karier, stabilitas finansial, dan kenyamanan demi hidup klosur yang tersembunyi dari dunia. Namun seiring waktu, mereka melihat kebahagiaan yang terpancar dari pilihannya. Penolakan perlahan berubah menjadi penerimaan.
Bagi Sr. Evelyn, menjadi Katolik membuka jalan menuju panggilan yang lebih radikal: menjadi biarawati kontemplatif. Ia meyakini bahwa hidup tersembunyi dalam doa bukanlah pelarian, melainkan bentuk kesaksian iman yang mendalam. Ia menggambarkan biarawati kontemplatif seperti jantung dalam tubuh; tidak terlihat, tetapi menentukan kehidupan.
Kisahnya menunjukkan bahwa pindah agama dan panggilan hidup religius sering kali berakar pada pencarian yang jujur. Dalam dinamika batin yang tak selalu mudah, Sr. Evelyn menemukan arah yang baginya paling sejati: menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan.(AD)

Posting Komentar