Di Balik Dekret Paus Leo XIV: Kisah Martir Guatemala dan Mukjizat yang Diakui Vatikan
![]() |
| Romo Augusto Rafael Ramirez Monasterio, OFM, imam martir asal Guatemala |
Katolik Terkini - Paus Leo XIV secara resmi menyetujui sejumlah dekret penting terkait proses kanonisasi di Gereja Katolik.
Keputusan ini membuka jalan bagi beatifikasi dua tokoh iman, yakni imam martir asal Guatemala Romo Augusto Rafael Ramirez Monasterio, OFM, dan pendiri Kongregasi Ursulin Hati Kudus Yesus dari Asola, Bunda Maria Ignazia Isacchi.
Selain itu, empat tokoh lain dinyatakan memiliki kebajikan heroik dan menyandang gelar Venerabilis.
Keputusan tersebut diumumkan setelah audiensi Paus Leo XIV dengan Kardinal Marcello Semeraro, Prefek Dikasteri untuk Perkara Orang Kudus, pada Kamis (22/1/2026).
Dekret Vatikan: Dua Beato Baru dan Empat Venerabilis
Dalam dekret yang dipromulgasikan, Takhta Suci:
- Mengakui kemartiran Romo Augusto Rafael Ramirez Monasterio yang wafat karena kebencian terhadap iman.
- Mengakui satu mukjizat melalui perantaraan Bunda Maria Ignazia Isacchi.
- Mengakui kebajikan heroik empat tokoh lain: Nerino Cobianchi, Suster Crocifissa Militerni, Suster Maria Giselda Villela, dan Suster Maria Tecla Antonia Relucenti.
Dengan pengakuan tersebut, Romo Ramirez Monasterio dan Bunda Maria Ignazia Isacchi akan segera diproklamasikan sebagai Beato dan Beata.
Martir di Tengah Perang Saudara Guatemala
Romo Augusto Rafael Ramirez Monasterio lahir di Kota Guatemala pada 5 November 1937 dari keluarga Katolik yang taat. Setelah menjalani novisiat Fransiskan di Spanyol dan menyelesaikan studi filsafat serta teologi, ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1967.
Pada akhir 1970-an, Guatemala berada dalam situasi konflik bersenjata internal yang brutal. Sebagai pastor paroki San Francisco el Grande di Antigua, Romo Ramirez dikenal karena keberpihakannya pada kaum miskin, tertindas, dan mereka yang tak bersuara.
Investigasi Gereja menunjukkan bahwa pelayanan pastoralnya membuat ia diawasi aparat keamanan. Ia ditangkap dan disiksa pada Juni 1983, kemudian dibebaskan, namun terus menerima ancaman pembunuhan.
Pada 7 November 1983, ia kembali ditangkap oleh tentara dan dibunuh saat dipindahkan ke luar kota. Vatikan menegaskan bahwa kematiannya merupakan martirium in odium fidei, dibunuh karena kebencian terhadap iman Katolik.
Mukjizat Kesembuhan yang Diakui Vatikan
Bunda Maria Ignazia Isacchi lahir pada 8 Mei 1857 di Stezzano, Italia, dengan nama Angela Caterina. Ia dikenal sebagai pemimpin rohani yang tangguh dan organisator ulung dalam Kongregasi Ursulin Somasca.
Mukjizat yang diakui Vatikan terjadi pada tahun 1950, ketika Suster Maria Assunta Zappella mengalami kesembuhan total dari penyakit enterokolitis berat yang diduga tuberkulosis.
Dokumentasi medis menunjukkan bahwa kesembuhan terjadi secara mendadak dan tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, tepat setelah doa novena yang dipanjatkan melalui perantaraan Bunda Maria Ignazia. Para dokter mencatat pemulihan cepat dan sempurna, yang kemudian menjadi dasar pengakuan mukjizat.
Empat Venerabilis: Kesaksian Iman dari Italia dan Brasil
Vatikan juga menetapkan empat tokoh sebagai Venerabilis, gelar bagi mereka yang diakui memiliki kebajikan heroik.
Nerino Cobianchi (Italia)
Seorang awam Katolik yang hidupnya ditandai oleh pelayanan sosial, doa, dan karya amal lintas negara, termasuk di wilayah Sahel. Meski menderita kanker pankreas, ia tetap aktif melayani hingga wafat pada 1998.
Suster Crocifissa Militerni (Italia)
Sejak muda mendedikasikan hidupnya bagi pendidikan, kaum miskin, dan orang sakit. Ia dikenal rendah hati dan tabah menghadapi penderitaan fisik hingga wafat pada 1925.
Suster Maria Giselda Villela (Brasil)
Seorang priores Karmel yang dijuluki Mãezinha karena kelembutan dan kebijaksanaannya. Meski hidup dalam klausura, ia menjadi rujukan rohani bagi banyak umat.
Maria Tecla Antonia Relucenti (Italia)
Pendiri Kongregasi Suster Pekerja Saleh Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Ia berperan besar dalam pendidikan dan pembinaan iman pada abad ke-18.
Makna Beatifikasi bagi Gereja Universal
Keputusan Paus Leo XIV ini menegaskan kembali bahwa kekudusan tidak terbatas pada imam atau religius, tetapi juga mencakup kaum awam dan mereka yang hidup dalam konteks sosial-politik yang sulit.
Beatifikasi Romo Ramirez Monasterio juga mengingatkan kita akan martir modern, yang gugur bukan di masa kuno, melainkan di tengah konflik politik dan ketidakadilan struktural.
Dengan dekret ini, Gereja Katolik tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menghadirkan teladan iman yang relevan bagi dunia saat ini, iman yang berani, penuh kasih, dan setia hingga akhir.
Sumber : Vatican News

Posting Komentar