Klarifikasi Resmi Pater Marsel Agot SVD Bantah Tuduhan Pimpin Massa Bersenjata Parang di Labuan Bajo
![]() |
| Pater Marsel Agot, SVD |
Katolik Terkini - Pater Marsel Agot, SVD, menyampaikan klarifikasi resmi sekaligus bantahan keras terhadap pemberitaan media daring BAJO PEDIA tertanggal 27 Januari 2026 berjudul “Pater Marsel Agot pimpin masa bawa parang, anak buah Alo Oba ketakutan dan memilih pulang”. Ia menilai isi berita tersebut tidak sesuai fakta, menyesatkan publik, serta mengarah pada fitnah dan pencemaran nama baik.
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikan di Labuan Bajo, Sabtu (31/1/2026), Pater Marsel menegaskan tidak pernah terjadi aksi intimidasi, ancaman, apalagi kekerasan seperti yang digambarkan dalam pemberitaan itu.
Aktivitas kerja di lahan milik yayasan
Menurut Pater Marsel, pada Selasa, 27 Januari 2026 sekitar pukul 16.00 WITA, ia bersama 16 karyawan Yayasan Prundi datang ke lahan milik yayasan untuk melakukan pekerjaan menanam pilar dan membuat pagar batas tanah.
“Kehadiran kami murni untuk bekerja. Tidak ada niat konfrontasi, intimidasi, atau kekerasan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, dari 16 orang yang hadir hanya dua orang yang membawa parang, itupun sebagai alat kerja kebun yang lazim digunakan. Selebihnya membawa peralatan seperti pilar, sekop, dan satu buah linggis.
“Tidak ada satu pun yang dipersiapkan untuk tujuan kekerasan,” ujarnya.
Tidak terjadi konfrontasi di lapangan
Di lokasi tersebut, rombongan Yayasan Prundi bertemu dua orang, Jhon Jeriki dan Mansur, yang mengaku sebagai penjaga lahan yang diklaim milik Alo Oba. Dalam percakapan, Jhon Jeriki menyampaikan bahwa Alo Oba berencana menguasai lahan dengan memasang baliho.
Menanggapi hal itu, Pater Marsel menyatakan dirinya justru menyampaikan nasihat secara tenang dengan merujuk pada filosofi budaya Manggarai agar semua pihak berhati-hati dan tidak terjebak konflik karena persoalan tanah.
Sekitar pukul 17.30 WITA, saat rombongan beristirahat di sisi lain lahan, Mansur kembali mendatangi Pater Marsel dan staf Yayasan Prundi. Ia mengingatkan agar berhati-hati karena akan ada pemasangan baliho dan pilar di lahan yang disebutnya milik yayasan.
Menurut Pater Marsel, situasi tersebut tetap berlangsung tenang tanpa emosi.
“Tidak pernah terjadi konfrontasi, ancaman, intimidasi, atau ajakan perang. Semua aktivitas berlangsung sesuai tujuan awal, yakni menanam pilar dan membuat pagar batas tanah,” katanya.
Keberatan atas judul dan framing berita
Pater Marsel mengaku terkejut ketika sekitar 20 menit setelah percakapan itu muncul pemberitaan yang menyebut dirinya memimpin massa bersenjata parang. Ia menilai judul dan cara pemberitaan tersebut menyerang kehormatan dan martabatnya, baik sebagai pribadi, anggota keluarga, maupun sebagai imam Katolik.
“Penyematan narasi perang dan kekerasan berpotensi memprovokasi publik, menciptakan stigma, serta menimbulkan keresahan bagi masyarakat, tarekat SVD, keluarga, dan umat,” ujarnya.
Ajukan ultimatum permintaan maaf
Atas pemberitaan tersebut, Pater Marsel secara terbuka meminta Mansur, Alo Oba, oknum wartawan BAJO PEDIA yang menulis berita, serta pihak-pihak lain yang terlibat, untuk menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dalam waktu 3 x 24 jam sejak klarifikasi ini diterbitkan.
“Apabila permintaan tersebut tidak dipenuhi, saya akan menggunakan hak-hak hukum yang tersedia guna memulihkan martabat dan nama baik saya,” tegasnya.
Ia menambahkan, klarifikasi ini disampaikan untuk meluruskan fakta, menghadirkan keseimbangan informasi di ruang publik, serta mencegah masyarakat dibentuk oleh satu narasi yang keliru.
Pater Marsel berharap media menjalankan fungsi jurnalistik secara bertanggung jawab dan memberi ruang yang adil bagi kebenaran.
“Semoga masyarakat tidak mudah terprovokasi dan kita semua selalu berada dalam perlindungan Tuhan,” pungkasnya.
.png)
Posting Komentar