Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda
Oleh Nofrida Liarni
Opini, Katolik Terkini - Ada orang yang begitu yakin bahwa agamanya adalah agama yang paling benar. Keyakinan itu sendiri bukan persoalan. Setiap orang tentu berhak meyakini agamanya, menjalankan imannya, dan menganggap ajaran yang dianutnya sebagai kebenaran yang harus dihidupi.
Persoalan muncul ketika keyakinan akan kebenaran berubah menjadi ketakutan terhadap orang yang berbeda.
Ketika agama lain mulai dipandang sebagai ancaman, pemeluknya dicurigai sebagai musuh, dan perbedaan keyakinan dianggap sebagai alasan untuk membenci, kita tidak lagi sedang berbicara tentang iman semata. Kita sedang berhadapan dengan prasangka, kecemasan, bahkan radikalisme.
Takut pada yang Berbeda
Mengapa seseorang bisa begitu takut kepada orang yang berbeda agama? Salah satu jawabannya adalah karena manusia memang memiliki kecenderungan psikologis untuk merasa lebih nyaman dengan kelompoknya sendiri. Sebaliknya, kelompok yang tidak dikenal dapat menimbulkan kecemasan dan kecurigaan. Ketidaktahuan tentang kehidupan, keyakinan, dan cara berpikir orang lain sering kali membuat perbedaan terlihat jauh lebih menakutkan daripada kenyataannya.
Masalah menjadi lebih serius ketika rasa takut itu diberi pembenaran keagamaan atau dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Orang kemudian tidak lagi melihat tetangganya sebagai manusia yang memiliki keluarga, harapan, pergumulan, dan martabat yang sama. Ia melihatnya terutama sebagai "orang dari kelompok lain".
Dari sinilah sebuah proses kebencian dapat dimulai. Ingat ketidaktahuan melahirkan prasangka, prasangka melahirkan ketakutan, dan ketakutan dapat berubah menjadi kebencian.
Dalam situasi tertentu, kebencian itu bahkan dapat dipoles menjadi seolah-olah sebuah bentuk kesetiaan kepada agama.
Benarkah Iman Harus Membuat Kita Takut?
Pertanyaan ini penting terutama bagi orang beriman, apakah mempertahankan iman mengharuskan kita membenci atau menjauhi orang yang berbeda?
Bagi umat Katolik, jawabannya jelas: tidak. Yesus justru berkali-kali memperluas batas kasih manusia. Dalam Perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati (Lukas 10:25-37), tokoh yang pada konteks zamannya berasal dari kelompok yang memiliki hubungan permusuhan dengan orang Yahudi justru ditampilkan sebagai teladan dalam mengasihi sesama.
Pesannya sederhana tetapi radikal, yaitu ukuran kasih tidak boleh berhenti pada batas kelompok kita sendiri. Yesus bahkan mengatakan, "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Mat 5:44).
Perintah ini jauh lebih sulit daripada sekadar mencintai orang yang sepemikiran atau seagama dengan kita. Kasih kita sebagai orang kristiani justru diuji ketika berhadapan dengan orang yang berbeda, bahkan dengan mereka yang kita anggap sebagai lawan.
Karena itu, seorang Katolik tidak perlu kehilangan imannya hanya karena menghormati orang yang berbeda agama. Sebaliknya, penghormatan kepada yang lain merupakan bagian dari kesaksian iman itu sendiri.
Mengakui Kebenaran Tanpa Merendahkan yang Berbeda
Ada perbedaan penting antara meyakini kebenaran iman sendiri dan menganggap orang lain tidak memiliki martabat atau tidak mempunyai sesuatu yang baik dalam keyakinannya.
Seseorang dapat berkata, "Saya sungguh percaya bahwa iman saya benar," tanpa harus mengatakan, "Karena itu semua orang yang berbeda dari saya adalah ancaman."
Keduanya bukan hal yang sama. Gereja Katolik sendiri memberikan dasar yang kuat untuk sikap tersebut melalui Nostra Aetate dari Konsili Vatikan II pada tahun 1965. Dokumen ini menyatakan bahwa Gereja tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama-agama lain.
Ini bukan berarti semua agama dianggap sama dalam setiap ajarannya. Nostra Aetate tidak meminta umat Katolik meninggalkan identitas atau keyakinan Kristiani. Yang ditekankan adalah sikap hormat, dialog, dan kesediaan mengakui adanya unsur-unsur kebenaran dan kebaikan di luar komunitas iman sendiri.
Dengan kata lain, keteguhan iman tidak harus berjalan bersama dengan kebencian terhadap perbedaan. Justru iman yang matang mampu membedakan antara kesetiaan pada keyakinan dan permusuhan terhadap manusia.
Pernyataan bahwa "agama saya paling benar" dapat memiliki makna yang berbeda.
Dalam pengertian iman, pernyataan tersebut bisa merupakan ungkapan keyakinan pribadi yang tulus. Namun, pernyataan yang sama dapat menjadi berbahaya ketika dipakai untuk membenarkan penghinaan, diskriminasi, kekerasan, atau penghilangan hak orang lain.
Masalahnya bukan semata-mata pada kata "benar", melainkan pada apa yang kita lakukan setelah menganggap diri kita benar.
Jika keyakinan membuat kita semakin rendah hati, semakin mampu mengasihi, semakin peduli kepada mereka yang menderita, dan semakin menghargai martabat manusia, iman itu menghasilkan buah yang baik.
Sebaliknya, jika keyakinan membuat kita gemar mencurigai tetangga, menyebarkan kebencian, merasa berhak merendahkan orang lain, atau menganggap kekerasan dapat dibenarkan atas nama Tuhan, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya, apa yang sebenarnya sedang kita bela, apakah iman atau ego kelompok kita sendiri?
Persaudaraan Tidak Berarti Kehilangan Identitas
Dalam Fratelli Tutti (2020), Paus Fransiskus mengajak kita melihat bahwa persaudaraan universal tidak berarti menghapus perbedaan.
Kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup sebagai saudara. Seorang Katolik dapat tetap menjadi Katolik. Seorang Muslim tetap dapat menjadi Muslim. Seorang Hindu tetap dapat menjadi Hindu. Seorang Buddha tetap dapat menjadi Buddha. Orang yang tidak beragama pun tetap memiliki martabat sebagai manusia.
Yang diperlukan adalah kesediaan untuk melihat manusia lain bukan pertama-tama sebagai simbol agamanya, melainkan sebagai sesama manusia.
Dialog antaragama juga tidak harus berarti mencampuradukkan keyakinan atau mengorbankan prinsip iman. Dialog berarti bersedia mendengarkan, mengenal, menghormati, dan bekerja sama dalam hal-hal yang dapat diperjuangkan bersama.
Kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, kekerasan, dan penderitaan manusia tidak mengenal batas agama. Dalam menghadapi persoalan-persoalan tersebut, orang-orang yang berbeda keyakinan justru dapat menemukan alasan untuk berjalan bersama.
Pada akhirnya, mungkin persoalannya bukan apakah seseorang boleh percaya bahwa agamanya benar. Tentu boleh.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang dilakukan seseorang dengan keyakinannya itu? Apakah keyakinan tersebut membuatnya takut kepada orang lain? Apakah membuatnya melihat tetangga yang berbeda agama sebagai ancaman? Apakah membuatnya merasa semakin tinggi daripada orang lain? Ataukah justru membuatnya semakin mampu mengasihi?
Iman yang dewasa tidak membutuhkan kebencian untuk mempertahankan dirinya. Ia tidak membutuhkan musuh untuk membuktikan kebenarannya.
Bagi umat Katolik, salib Kristus justru mengingatkan bahwa jalan iman adalah jalan kasih, bahkan ketika kasih itu menuntut kita untuk mengasihi mereka yang berbeda dari kita. Karena itu, mungkin kita perlu mengubah cara bertanya. Bukan hanya, apakah saya yakin agama saya benar?
Tetapi juga jika saya sungguh percaya kepada Tuhan, apakah cara saya memperlakukan orang yang berbeda sudah mencerminkan kasih yang saya imani?Sebab dunia tidak semakin damai ketika setiap kelompok sibuk membuktikan bahwa dirinya paling benar.
Dunia menjadi lebih damai ketika orang-orang yang sungguh yakin pada imannya tidak lagi merasa perlu takut kepada sesamanya. Dan mungkin di situlah salah satu tanda iman yang matang, tetap teguh dalam keyakinan, tetapi tidak kehilangan kasih kepada manusia yang berbeda.

Posting Komentar