Berita
Daerah
Refleksi
Uskup Labuan Bajo Lantik DPP dan DKP Ranggu, Tekankan Pelayanan Tanpa Kepentingan
RANGGU, Katolik Terkini - Ratusan umat Katolik memadati pelataran Gereja Paroki Tritunggal Maha Kudus (TMK) Ranggu, Minggu (6/9/2026), untuk mengikuti perayaan syukur agung yang dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus.
Perayaan tersebut menjadi momentum penting bagi umat Paroki TMK Ranggu karena dirangkaikan dengan penerimaan Sakramen Krisma, pelantikan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP) periode 2026–2030, sekaligus pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional dan peringatan Hari Penciptaan.
Sejumlah imam turut mendampingi Uskup Labuan Bajo dalam perayaan tersebut. Hadir Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Rikardus Manggu, Pr., Rm. Lian Angkur, Pr., serta Vikep Pacar, Rm. Didimus A. Mbembo, Pr.
Sebagai tuan rumah, hadir Pastor Paroki TMK Ranggu, Rm. Laurentius Saya, Pr., bersama Vikaris Paroki, Pater Rafael Lepen, SMM. Kehadiran para imam tersebut turut memperkuat suasana perayaan yang dihadiri umat dari berbagai stasi di wilayah Paroki TMK Ranggu.
Krisma: Diteguhkan dalam Iman, Diutus dalam Kasih
Dalam homilinya, Mgr. Maksimus Regus menyampaikan bahwa umat pada hari itu menerima berlimpah rahmat melalui berbagai rangkaian perayaan iman.
“Hari ini kita banyak menerima rahmat yang berlimpah sebab hari ini kita menerima Sakramen Krisma, pelantikan DPP, DKP, misa pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional dan peringatan Hari Penciptaan,” ujar Mgr. Maksimus.
Uskup mengajak para penerima Sakramen Krisma untuk menjadikan kasih sebagai kekuatan utama dalam kehidupan. Menurutnya, iman yang diterima seseorang bukanlah sesuatu yang berhenti pada pengalaman pribadi, melainkan sebuah warisan yang harus dijaga, dihidupi, dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
“Iman yang kita terima bukan hanya untuk diri kita sendiri. Iman adalah warisan yang harus dijaga, dihidupi, dan diteruskan kepada generasi berikutnya,” tegasnya.
Karena itu, penerimaan Sakramen Krisma hendaknya tidak dipandang sekadar sebagai seremoni keagamaan. Sakramen tersebut menjadi tanda penguatan iman sekaligus panggilan bagi umat untuk menghadirkan kasih di tengah keluarga, masyarakat, dan lingkungan pergaulan.
Para penerima Krisma pun diajak membuktikan kedewasaan iman melalui kehidupan sehari-hari. Kasih kepada sesama, kepedulian, pengampunan, kejujuran, dan kesediaan melayani menjadi buah nyata dari iman yang semakin matang.
Mgr. Maksimus juga menekankan bahwa pewarisan iman tidak cukup dilakukan melalui kata-kata. Keteladanan orang tua, keluarga, para pendidik, dan komunitas Gereja menjadi bagian penting dalam membentuk iman generasi muda.
Kasih sebagai Inti Kehidupan Kristiani
Dalam pesannya, Uskup Labuan Bajo menempatkan kasih sebagai inti kehidupan umat beriman.
Menurutnya, kehidupan sebagai orang yang percaya kepada Kristus tidak boleh hanya diukur dari banyaknya aturan yang dipatuhi, tetapi terutama dari sejauh mana kasih sungguh-sungguh diwujudkan.
“Kasih adalah hukum yang paling utama. Kasih adalah inti utama dalam kehidupan kita sebagai orang beriman kepada Kristus. Bagi Yesus, tidak penting ada seribu aturan kalau tidak ada kasih,” ungkapnya.
Pesan tersebut juga diarahkan kepada para pengurus DPP dan DKP yang baru dilantik. Mereka dipanggil bukan semata-mata untuk mengemban sebuah jabatan organisasi, tetapi untuk menjadi bagian dari komunitas yang melayani dengan kasih.
“Kita dipanggil sebagai sebuah komunitas untuk selalu hidup dalam kasih, melayani dengan lurus dan memperhatikan satu sama lain,” pesan Mgr. Maksimus.
Ia menegaskan, para anggota DPP dan DKP dipanggil dan dimeteraikan untuk menjalankan tugas pelayanan dengan semangat menjaga harta iman, warisan iman, serta tradisi-tradisi Gereja agar terus bertumbuh dan menghasilkan buah iman.
Pelayanan tersebut, lanjutnya, harus dijalankan tanpa kepentingan pribadi, melainkan demi pertumbuhan kehidupan umat dan kemajuan karya pastoral Gereja.
Khidmatnya Penerimaan Sakramen Krisma
Suasana perayaan semakin khidmat ketika memasuki prosesi penerimaan Sakramen Krisma. Melalui penumpangan tangan dan pengurapan dengan minyak Krisma, para penerima sakramen diteguhkan dalam iman dan menerima kepenuhan Roh Kudus.
Momentum tersebut menjadi simbol pengutusan umat untuk semakin dewasa dalam iman dan mengambil bagian dalam kehidupan serta pelayanan Gereja.
Pengurapan dengan minyak Krisma juga menjadi tanda bahwa mereka dimeteraikan sebagai milik Allah dan diutus untuk menjadi saksi iman dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi para penerima Krisma, perayaan tersebut bukanlah akhir dari sebuah tahapan, melainkan awal perjalanan baru untuk menghidupi iman secara lebih dewasa.
DPP dan DKP Baru Siap Melayani
Dalam sambutannya, Pastor Paroki TMK Ranggu, Rm. Laurentius Saya, Pr., menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Uskup Labuan Bajo di tengah umat Ranggu.
Kehadiran Uskup, menurutnya, menjadi sebuah penguatan rohani bagi umat sekaligus momentum penting bagi perjalanan pastoral Paroki TMK Ranggu.
Ia juga menitipkan harapan kepada pengurus DPP dan DKP periode 2026–2030 agar mampu menjadi rekan kerja yang setia dalam mendukung karya pelayanan pastoral di paroki.
Sementara itu, Ketua DPP terpilih periode 2026–2030, Silvester Gunas, menyatakan komitmennya untuk bersinergi dengan pastor paroki dan seluruh umat demi kemajuan kehidupan pastoral di Paroki TMK Ranggu.
Diutus Menjadi Pejuang Kristus
Pada bagian akhir perayaan, Mgr. Maksimus Regus kembali memberikan penguatan kepada seluruh umat.
Ia mengingatkan bahwa mereka yang telah menerima Sakramen Krisma kini memiliki tanggung jawab yang lebih besar sebagai saksi dan pejuang Kristus. Iman yang telah diteguhkan harus diwujudkan melalui keberanian untuk mewartakan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.
Kepada pengurus DPP dan DKP yang baru dilantik, Uskup berpesan agar tugas pelayanan dijalankan dengan ketulusan dan semangat pengabdian.
Mereka dipanggil untuk membantu reksa pastoral Keuskupan Labuan Bajo, khususnya dalam membangun kehidupan umat yang berakar pada iman dan kasih.
Meterai Roh Kudus yang diterima umat menjadi tanda penyertaan Tuhan dalam setiap tugas dan tanggung jawab perutusan.
Perayaan syukur tersebut kemudian ditutup dengan berkat meriah dan sesi foto bersama. Momen itu sekaligus menandai babak baru perjalanan iman dan pelayanan umat di Paroki Tritunggal Maha Kudus Ranggu.
Menyapa Keluarga yang Rentan
Dalam perjalanan kembali ke Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus juga menyempatkan diri menyapa dan memberkati sejumlah keluarga yang berada dalam kondisi rentan.
Kunjungan singkat tersebut menjadi bagian dari wajah pelayanan seorang gembala yang tidak hanya hadir dalam perayaan liturgi, tetapi juga berusaha menyentuh kehidupan umat secara langsung.
Perayaan di Ranggu akhirnya meninggalkan pesan yang kuat: iman bukan hanya untuk dirayakan, tetapi untuk dihidupi; kasih bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk diwujudkan; dan pelayanan bukan sekadar tugas, melainkan bentuk nyata dari perutusan sebagai umat Kristiani.
Di tengah kehidupan bersama, umat dipanggil untuk tetap menjaga warisan iman, bertumbuh dalam kasih, serta menjadi pembawa harapan bagi sesama.
Sumber Komsos Keuskupan Labuan Bajo
Via
Berita

Posting Komentar