Artikel
Berita
Humaniora
Inspirasi
Pendidikan
Perdamaian
Scholas Occurrentes: Pendidikan yang Mengajarkan Kita Menjadi Manusia
Katolik Terkini - Pontificia Scholas Occurrentes mengadakan “WORLD ENCOUNTER SUMMIT – BALI 2026: Artificial Intelligence and Human Meaning” dan “XI International Scholas Chairs Congress”, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “KTT Perjumpaan Dunia di Bali 2026”, dengan tema: “Kecerdasan Buatan dan Makna Kemanusiaan”.
KTT ini dihadiri oleh para dosen dan akademisi dari universitas-universitas yang bekerja sama dengan Scholas di seluruh dunia, termasuk orang-orang muda dari berbagai negara. KTT ini diadakan pada tanggal 4–6 September 2026.
Agar kita dapat mengenal dengan lebih baik tentang “Scholas Occurrentes”, berikut kami memperkenalkannya secara singkat.
Scholas Occurrentes adalah gerakan pendidikan global yang digagas oleh Paus Fransiskus.
Arti Kata
Bahasa Latin: Scholas berarti sekolah-sekolah; Occurrentes berarti yang saling bertemu atau yang berjumpa. Jadi, arti harfiahnya adalah “Sekolah-sekolah yang Berjumpa”.
Maknanya adalah tempat di mana semua orang dari budaya, agama, dan bangsa yang berbeda dapat “bertemu” untuk belajar bersama.
Latar Belakang dan Tujuan
Didirikan pada tahun 2013 oleh Kardinal Bergoglio, sebelum menjadi Paus. Pada tahun 2015, gerakan ini diresmikan oleh Paus Fransiskus.
Visi Paus Fransiskus: “Pendidikan tidak boleh menjadi sebuah pabrik. Pendidikan mesti menjadi tempat perjumpaan tiga bahasa: kepala, hati, dan tangan.”
Ada tiga tujuan utama
Pertama, Membangun Budaya Perjumpaan
Menyatukan anak-anak dari semua agama, ras, dan status sosial. Katolik, Muslim, Yahudi, ateis, Hindu, Buddha, Konghucu, dan penganut aliran kepercayaan dapat duduk bersama dalam satu kelas.
Kedua, Pendidikan untuk Perdamaian
Melawan budaya membuang, budaya kekerasan, dan bullying. Mengajarkan solidaritas serta kepedulian terhadap kaum miskin dan lingkungan.
Ketiga Menjawab Empat Krisis Dunia
Krisis pendidikan, krisis ekologi, krisis kemanusiaan, dan krisis ekonomi. Cara konkretnya dilakukan melalui seni, olahraga, dan teknologi.
Tiga Ciri Khas Scholas Occurrentes
Pertama, Global
Sudah hadir di 190 negara dan melibatkan lebih dari 500 ribu sekolah, termasuk di Indonesia.
Kedua, Inklusif
Bukan hanya sekolah Katolik. Sekolah negeri, swasta, di pelosok maupun di perkotaan, semuanya boleh ikut serta. Tidak ada yang dikecualikan.
Ketiga, Berbasis Proyek
Anak-anak diajak membuat suatu proyek bersama, misalnya film pendek tentang toleransi, kebun sekolah, konser amal untuk pengungsi atau korban bencana. Dengan demikian, orang belajar sambil berbuat baik.
Dasar-Dasar Teologis dan Dokumen Kepausan
Pertama, Ensiklik Laudato Si’
Merawat rumah bersama. Scholas memiliki banyak program yang berkaitan dengan ekologi.
Kedua, Ensiklik Fratelli Tutti
Membangun persaudaraan. Semua orang adalah saudara. Scholas melatih anak-anak untuk “menjadi tetangga yang baik”.
Ketiga, Dokumen Patto Educativo Globale (Pakta Pendidikan Global 2020)
Paus Fransiskus mengajak dunia untuk menandatangani beberapa komitmen, antara lain:
- menempatkan manusia di tengah;
- mendengarkan kaum muda;
- melindungi lingkungan; dan lain-lain.
Scholas menjadi salah satu pelaksana dari komitmen tersebut.
Paus Fransiskus menegaskan: “Pendidikan tidak bisa netral. Atau mendidik untuk bertemu, atau mendidik untuk bentrok.”
Kesimpulan
Scholas Occurrentes adalah sekolah kehidupan: tempat anak-anak belajar bukan hanya matematika, ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu sosial, dan teknologi, tetapi juga belajar menjadi manusia yang sehat secara mental, rohani, dan jasmani: belajar berjumpa, berbelaskasih, dan membangun perdamaian.
Oleh: Mgr. Paskalis OFM
Via
Artikel

Posting Komentar