Berita
Daerah
Pelayanan Sosial
Uskup Maksimus Regus Hadir Bersama Kaum Difabel: Gereja Tidak Boleh Meninggalkan Siapa Pun
LABUAN BAJO, Katolik Terkini - Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Pr., menunjukkan kepedulian dan kasih persaudaraan kepada kaum difabel melalui sebuah perjumpaan penuh kehangatan di Labuan Bajo, Rabu (26/8/2026).
Dalam perjumpaan tersebut, Uskup Maksimus didampingi Sekretaris Jenderal Keuskupan Labuan Bajo, Romo Frans Nala, Pr., serta Direktur Caritas Keuskupan Labuan Bajo, Romo Yuvensius Rugi, Pr.
Kehadiran Uskup bersama rombongan bukan sekadar sebuah kunjungan. Sapaan, senyum, dan perhatian yang diberikan menjadi tanda nyata kehadiran Gereja di tengah kehidupan kaum difabel, terutama mereka yang membutuhkan ruang untuk didengar, diterima, dihargai, dan berjalan bersama sebagai saudara.
Dalam suasana penuh keakraban, Mgr. Maksimus berbagi kasih dan kegembiraan bersama kaum difabel. Perjumpaan tersebut sekaligus menghadirkan pesan penting tentang persaudaraan, bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Gereja maupun masyarakat.
Bukan Sekadar Belas Kasihan
Perjumpaan Uskup dengan kaum difabel juga menjadi pengingat bahwa perhatian kepada penyandang disabilitas tidak boleh berhenti pada belas kasih semata.
Yang lebih penting ialah membangun persaudaraan yang setara, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan demikian, kaum difabel memiliki ruang yang luas untuk mengambil bagian secara penuh dalam kehidupan sosial, budaya, kemasyarakatan, serta pelayanan Gereja.
Kaum difabel bukanlah objek belas kasihan. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki martabat, talenta, harapan, perjuangan, dan kemampuan untuk memberikan kontribusi bagi kehidupan bersama.
Karena itu, kasih yang sejati tidak berhenti pada pemberian. Kasih perlu diwujudkan melalui penghormatan terhadap martabat manusia, penerimaan, pemberdayaan, serta penciptaan ruang yang memungkinkan setiap orang berkembang dan berpartisipasi.
Bagi kaum difabel, sebuah perhatian sederhana dapat memiliki arti yang besar. Sapaan dapat menghadirkan harapan, pelukan dapat menghapus jarak, sementara kehadiran dapat menjadi peneguhan bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Gereja Dipanggil Menjadi Rumah bagi Semua
Melalui perjumpaan tersebut, Uskup Mgr. Maksimus Regus, Pr., menghadirkan wajah Gereja yang dekat dengan umat. Gereja tidak hanya berbicara mengenai kasih, tetapi juga berusaha menghidupinya melalui kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Kehadiran seorang gembala di tengah kaum difabel bukan terutama tentang apa yang diberikan, melainkan tentang kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan melihat mereka sebagai saudara yang memiliki martabat yang sama.
Semangat tersebut sejalan dengan panggilan Gereja untuk menghadirkan wajah Kristus yang dekat dengan semua orang, termasuk mereka yang kerap berada di pinggir perhatian masyarakat.
Dalam perjumpaan itu, Gereja sekaligus belajar bahwa kasih tidak mengenal sekat dan persaudaraan tidak boleh meninggalkan siapa pun.
Momentum tersebut juga menjadi refleksi bagi masyarakat Labuan Bajo yang terus berkembang sebagai destinasi pariwisata dan kota yang mengalami pertumbuhan di berbagai bidang.
Kemajuan sebuah kota tidak semestinya hanya diukur melalui pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, maupun meningkatnya aktivitas pariwisata. Ukuran kemajuan juga terlihat dari sejauh mana masyarakat mampu menciptakan ruang kehidupan yang ramah, setara, aman, dan manusiawi bagi semua orang.
Dalam konteks itu, keberpihakan kepada kaum difabel menjadi bagian penting dari upaya membangun masyarakat yang inklusif.
Pertumbuhan Labuan Bajo diharapkan berjalan beriringan dengan pertumbuhan kesadaran kemanusiaan, sehingga tidak ada seorang pun yang tertinggal atau merasa menjadi orang asing di tengah perkembangan kota.
Kasih yang Merangkul, Persaudaraan yang Menguatkan
Rabu, 26 Agustus 2026, menjadi momentum sederhana namun bermakna bagi kaum difabel di Labuan Bajo. Seorang gembala hadir untuk menyapa dan berbagi kasih, sementara saudara-saudari difabel menerima kehadiran tersebut dalam suasana penuh sukacita dan keakraban.
Perjumpaan itu menyampaikan pesan sederhana namun kuat: setiap pribadi berharga, setiap orang memiliki tempat, dan tidak seorang pun boleh dibiarkan berjalan sendirian.
Bagi Keuskupan Labuan Bajo, semangat ini menjadi panggilan untuk terus menghadirkan Gereja yang mendengarkan, merangkul, memberdayakan, dan berjalan bersama seluruh umat tanpa sekat.
Pada akhirnya, Gereja bukan hanya tempat orang berkumpul, tetapi juga rumah di mana setiap pribadi diterima, dihargai, dan dicintai.
Ketika mereka yang berbeda tidak lagi dipandang sebagai “yang lain”, melainkan diterima sebagai saudara, di situlah persaudaraan sejati mulai tumbuh.
Dan ketika kasih memberi ruang bagi semua orang, di sanalah Gereja sungguh-sungguh menjadi rumah bagi setiap pribadi.(AD)
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo
Via
Berita



Posting Komentar