Berita
Inspirasi
Nasional
Traveling
Menapak Tilas Semangat Fransiskan, Para Memores Gelar Temu Akrab di Novisiat Transitus Depok
DEPOK, Katolik Terkini - Sekitar 30 orang yang tergabung dalam komunitas Memores Fratrum Minores (MFM) mengadakan temu akrab yang dikemas dalam kegiatan ziarah bersama Tahun Yubileum Fransiskan dengan tema “Menapak Tilas Semangat Fransiskan bagi Para Memores” di Novisiat Transitus Depok, Selasa (25/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi momentum istimewa bagi para Memores untuk kembali menapaki jejak perjalanan formasi Fransiskan yang pernah mereka jalani sekaligus menghidupkan kembali semangat persaudaraan dan kesederhanaan yang mereka terima selama berada dalam persaudaraan Ordo Fratrum Minorum (OFM).
Memores merupakan sebutan bagi mereka yang tergabung dalam komunitas MFM, yakni orang-orang yang pernah mengenakan jubah Fransiskan dan menjalani proses formasi dalam kehidupan Fransiskan, baik sebagai postulan, novis, maupun Saudara Muda Fransiskan (Frater), tetapi kemudian melanjutkan perjalanan hidup sebagai awam.
Bagi para Memores, perjumpaan di Novisiat Transitus bukan sekadar sebuah reuni. Kegiatan ini menjadi kesempatan untuk kembali melihat dan mengenang pengalaman formasi yang pernah membentuk perjalanan hidup mereka.
Temu akrab tersebut juga menjadi kegiatan pertama komunitas Memores yang diharapkan dapat menjadi awal bagi terselenggaranya berbagai kegiatan bersama selanjutnya.
Kehadiran para Memores disambut hangat oleh Pater Rikardus Selan, OFM, Magister Novis, bersama Diakon A. Alanersase Vanri, OFM, selaku socius Magister Novis, Pater Alex Lanur, OFM, Pater Alo Ombos, OFM, serta para novis di Novisiat Transitus.
Mengenang perjalanan Santo Fransiskus
Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah Yubileum Fransiskan yang dipimpin oleh Pater Rikardus Selan, OFM.
Dalam refleksinya, Pater Rikard mengisahkan kembali perjalanan hidup Santo Fransiskus dari Asisi, khususnya bagaimana Fransiskus mulai diikuti oleh beberapa saudara hingga terbentuknya komunitas para pengikutnya.
Kisah tersebut juga mencakup perjalanan ordo Fransiskan dalam memperoleh pengesahan Anggaran Dasar oleh Paus Honorius III, perjalanan Fransiskus ke Timur Tengah, hingga akhir hidup Santo Fransiskus.
Kisah perjalanan Fransiskus tersebut menjadi bagian penting dalam ziarah para Memores. Dengan kembali mendengarkan kisah sang pendiri, para Memores diajak untuk mengenang kembali akar spiritualitas yang pernah mereka terima selama menjalani proses formasi Fransiskan.
Setelah ibadah, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing bersama Pater Alex Lanur, OFM, dan Pater Alo Ombos, OFM.
Suasana sharing berlangsung dalam nuansa kekeluargaan dan persaudaraan. Para Memores membagikan pengalaman serta kisah mereka ketika menjalani masa formasi di Novisiat.
Berbagai kenangan masa lalu kembali hadir dalam perjumpaan tersebut. Pengalaman hidup bersama, proses pendidikan, dinamika komunitas, hingga pengalaman lucu menjadi bagian dari cerita yang dibagikan.
Reuni untuk menghidupkan kembali spirit Fransiskan
Setelah sesi sharing, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama para suster FMM yang juga datang untuk ziarah Yubileum Fransiskan, lalu dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi.
Perayaan Ekaristi dipimpin secara konselebran oleh Pater Effendi Marut, OFM, didampingi Pater Rikardus Selan, OFM, Pater Stefan Nampung, OFM, dan Diakon Allan, OFM.
Dalam homilinya, Pater Stefan Nampung, OFM, menegaskan bahwa perjumpaan para Memores tidak dimaksudkan sekadar sebagai kegiatan rekreatif atau jalan-jalan. Lebih dari itu, reuni tersebut menjadi kesempatan untuk kembali merasakan dan menghidupkan semangat Fransiskan yang pernah diterima.
“Tujuan dari reuni ini bukan hanya untuk jalan-jalan tapi untuk merasakan kembali spirit yang pernah kita terima,” ungkap Pater Stefan.
Menurutnya, perjumpaan tersebut menjadi kesempatan bagi para Memores untuk kembali menemukan hal-hal hakiki dalam kehidupan Fransiskan, terutama persaudaraan, kesederhanaan, dan semangat minoritas.
“Kita datang ke sini untuk merasakan hal-hal yang hakiki dalam hidup kita, persaudaraan, kesederhanaan, minoritas. Itu yang kita harapkan untuk muncul kembali ketika kita bertemu di sini,” katanya.
Pater Stefan juga menyadari bahwa suasana Novisiat Transitus yang dijumpai para Memores saat ini mungkin tidak sepenuhnya sama dengan keadaan ketika mereka menjalani formasi dahulu.
Perubahan lingkungan dan berbagai pemandangan baru membuat tempat tersebut mungkin terasa berbeda. Namun, menurutnya, yang lebih penting bukanlah semata-mata kondisi fisik tempat, melainkan nilai dan semangat yang pernah tumbuh di dalamnya.
“Walaupun tidak sedikit dari kita yang tidak merasakan suasana seperti dulu karena banyak pemandangan terlihat baru di sini,” lanjutnya.
Ia berharap reuni tersebut dapat menjadi semangat baru bagi para Memores mengenai perjalanan hidup yang pernah mereka lalui.
“Semoga dengan reuni ini, kita diingatkan kembali tentang semangat hidup yang pernah kita jalani, diingatkan kembali kalau kita pernah ada di sini. Saya pernah mengenyam pendidikan dan semangat Fransiskan di sini, dan itu mungkin menjadi nilai yang kita hidupkan kembali dalam pekerjaan kita sekarang, dalam rumah kita,” ungkap Pater Stefan.
Dalam homilinya, Pater Stefan juga mengajak para Memores untuk tidak terjebak pada kesibukan dan perhatian terhadap hal-hal lahiriah semata.
Mengacu pada Injil yang dibacakan dalam perayaan Ekaristi, ia mengingatkan bahwa kehidupan iman tidak hanya berkaitan dengan apa yang tampak dari luar, tetapi juga dengan kehidupan batin dan relasi seseorang dengan Tuhan.
“Kita mungkin terlalu sibuk memperhatikan hal-hal luar dan mengabaikan hal-hal yang batiniah,” katanya.
Karena itu, ia mengajak para Memores untuk kembali memberi perhatian pada kasih kepada Tuhan.
“Mari kita memperhatikan cinta kasih kita kepada Tuhan. Bukan hanya berusaha menjalankan semua yang terpampang di luar tapi tidak punya jiwanya.”
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi para Memores yang kini telah menjalani kehidupan di tengah masyarakat dengan berbagai profesi, tanggung jawab, serta lingkungan hidup yang berbeda.
Semangat Fransiskan yang pernah mereka terima selama masa formasi diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi dapat diwujudkan kembali dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga reuni ini kembali menghidupkan semangat yang diwariskan St. Fransiskus Asisi,” ungkap Pater Stefan mengakhiri homilinya.
Ditutup dengan olahraga bersama para novis
Usai perayaan Ekaristi, kegiatan temu akrab ini dilanjutkan dengan olahraga bersama para novis.
Kegiatan tersebut menjadi penutup yang semakin mempererat suasana persaudaraan antara para Memores dengan para saudara Fransiskan yang saat ini sedang menjalani proses formasi.
Perjumpaan lintas generasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ikatan persaudaraan Fransiskan dapat terus dirawat meskipun perjalanan hidup masing-masing telah mengambil arah yang berbeda.
Bagi para Memores, pengalaman pernah menjadi bagian dari proses formasi Fransiskan menjadi titik temu yang mempertemukan mereka kembali dengan para saudara Fransiskan di Novisiat Transitus.
Melalui ziarah bersama dalam rangka Tahun Yubileum Fransiskan ini, para Memores dan saudara-saudara Fransiskan dari Ordo Pertama diharapkan dapat terus berkumpul, berdoa, berbagi pengalaman, dan membangun kebersamaan dalam semangat Santo Fransiskus Assisi.
Kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi awal bagi terbangunnya relasi yang lebih erat dan berkelanjutan antara para Memores dan keluarga besar Fransiskan.
Lebih dari sekadar mengenang masa lalu, perjumpaan ini menjadi ajakan untuk membawa kembali nilai-nilai Fransiskan ke dalam kehidupan sehari-hari, baik di tempat kerja, dalam keluarga, dalam relasi sosial, maupun di tengah masyarakat.
Dengan demikian, semangat persaudaraan, kesederhanaan, minoritas, dan kasih kepada Tuhan yang pernah ditanamkan dalam proses formasi dapat terus dihidupi oleh para Memores di mana pun mereka berada.(AD)
Via
Berita




Posting Komentar