Artikel
Berita
Humaniora
Opini
Refleksi
Compassio dan Otoritas Penderita - Ketika Teologi Turun dari Mimbar ke Tenda Pengungsian di Flores
Oleh : RD Stephanus Turibius Rahmat (Dosen Unika Indonesia Santo Paulus Ruteng)
OPINI, Katolik Terkini - Sabtu, 15 Agustus 2026, tanah Flores berguncang. Gempa tektonik berskala 7,7 SR. Angka itu hari ini bukan lagi data BMKG. Angka itu adalah nama: nama anak yang kehilangan rumah, nama ibu yang melahirkan di tenda, nama lansia yang tidur di atas tikar karena kasurnya tertimbun reruntuhan.
Di tengah reruntuhan itulah, dua kata teologi yang sering kita hafal di ruang kuliah, tiba-tiba menjadi nyata, telanjang, dan mendesak: Compassio dan Otoritas Penderita.
Gempa ini memaksa kita bertanya: Seberapa jauh iman kita berani berjalan keluar dari ruang aman?
Pertama, Compassio: Belas Rasa yang Berani Turu ke Tanah
Compassio bukan sekadar "kasihan". Secara harfiah: cum-patior artinya menderita bersama.
Bukan menonton dari jauh. Bukan berpidato dari atas panggung. Tapi duduk di tanah yang sama, makan nasi bungkus yang sama, tidur dengan rasa was-was yang sama.
Dan di Flores, Compassio punya nama dan wajah, yaitu:
1. Keberanian untuk Berhenti
Mgr. Maksimus Regus, Pr, dengan hati berat menghentikan Festival Golokoe. Bukan karena tidak cinta budaya. Tapi karena di saat saudara-saudaranya kehilangan rumah, pesta menjadi tidak pantas. Itu Compassio: memilih berbela rasa daripada gegap gempita.
2. Kehadiran yang Mendahului Bantuan
Mgr. Budi Kleden, SVD, Mgr. Sipri Hormat, Pr, dan Pater Vikjen Keuskupan Ruteng tidak menunggu data lengkap. Mereka datang ke posko, ke tenda, ke dapur umum. Memberkati, memeluk, mendengarkan.
DPR Pusat dan Daerah, Pemerintah dari tingkat Pusat sampai Desa, para dokter dan tenaga medis, TNI dan Polri, komunitas-komunitas peduli juga hadir. Bapak Ganjar Pranowo dan Ibu Risma turut turun langsung ada bersama korban. Mereka tidak datang membawa solusi jadi. Mereka datang membawa diri.
Karena Compassio pertama-tama adalah: Aku ada untukmu.
3. Langkah Konkret di Tengah Reruntuhan
Compassio hari ini bernama: dapur umum yang terus mengepul, air bersih yang diteteskan, tenda darurat yang dipasang relawan, pos kesehatan keliling, trauma healing untuk anak-anak, dan misa darurat di lapangan.
Bukan teori tentang penderitaan. Tapi membagi selimut, memperbaiki atap, dan menenangkan hati.
Compassio membuktikan: Allah kita bukan Allah yang menjelaskan penderitaan dari surga. Dia adalah Allah yang masuk ke dalamnya. Seperti Kristus di salib.
Kedua, Kedua Otoritas Penderita: Mereka adalah Guru Kita
Teologi modern mengingatkan: orang yang menderita memiliki "otoritas". Mereka bukan objek. Mereka adalah subjek. Mereka paling tahu apa yang sakit, apa yang perlu, dan apa yang memberi harapan.
Di Flores, otoritas itu bersuara jernih, yaitu:
1. Otoritas untuk Mengajarkan Ketangguhan
Di antara tenda, kita melihat ibu-ibu tetap memasak untuk tetangga. Bapak-bapak bergotong royong membersihkan jalan. Anak-anak tetap tertawa. Para dokter dan tenaga medis berjuang untuk menyelamatkan para korban di tengah fasilitas yang terbatas. Mereka mengajar kita: iman tidak mati walau rumah roboh.
2. Otoritas untuk Mengoreksi Kita
"Romo, kami butuh rumah yang tahan gempa, bukan hanya mie instan."
"Pak, tolong jangan lupakan kami setelah media pergi."
Suara-suara itu adalah kritik kenabian. Mereka mengajari pemerintah, gereja, dan kita semua: bantuan harus adil, berkelanjutan, dan memulihkan martabat.
3. Otoritas Iman
Yang paling mengejutkan: tidak ada sumpah serapah. Yang ada: "Kami pasrah. Tuhan pasti punya rencana."
Itu otoritas rohani yang tidak bisa dibeli. Itu khotbah paling kuat yang tidak ditulis, tapi dihidupi.
Tugas kita bukan bicara tentang mereka. Tugas kita adalah diam dan mendengarkan dari mereka.
Ketiga, Langkah Konkret: Dari Bela Rasa ke Pemulihan
Gempa 15 Agustus ini tidak boleh berhenti pada air mata. Compassio menuntut tindakan. Apa yang sudah dan sedang dilakukan:
Oleh Gereja-Gereja Flores: Posko kemanusiaan dibuka. Gereja, sekolah, dan aula menjadi tempat pengungsian. Segenap warta Gereja harus menjadi garda depan: melayani, mendoakan, mendampingi. Hati digembalakan sebelum perut dikenyangkan.
Oleh Pemerintah dan Bangsa: Respons cepat dari pusat sampai desa. Logistik, tim medis, perbaikan infrastruktur, dan pendataan korban. Kehadiran para pemimpin adalah tanda: negara tidak meninggalkan anak-anaknya.
Oleh Komunitas dan Kita: Donasi, relawan, doa. Dan yang paling penting: komitmen untuk tidak melupakan Flores setelah gempa reda. Pemulihan rumah, sekolah, dan ekonomi warga adalah pekerjaan panjang yang butuh "Compassio yang setia".
Allah Ada di Antara Tenda Pengungsian
Gempa 7,7 SR merobohkan banyak hal. Tapi ia tidak bisa merobohkan ini: Allah yang menderita bersama umat-Nya.
Di setiap tenda di Flores hari ini, Kristus ada. Wajah-Nya ada di wajah seorang nenek yang kehilangan cucu. Tangan-Nya ada di tangan relawan yang mengangkat puing. Hati-Nya ada dalam diri para dokter dan para tenaga kesehatan yang bekerja tidak kenal lelah. Suara-Nya ada di keputusan Mgr. Maksimus untuk menghentikan pesta demi keselamatan sesama.
Compassio dan Otoritas Penderita mengingatkan Gereja dan Bangsa:
Iman kita otentik bukan saat kita paling pintar berteologi, tapi saat kita paling berani berada bersama yang terluka.
Flores, 15 Agustus 2026, sedang menulis injil baru. Injil yang tidak ditulis dengan tinta, tapi dengan peluh, air mata, dan uluran tangan.
Dan di injil itu kita semua dipanggil dengan satu nama: Saudara.
Flores, kami bersama. Dalam duka, dalam doa, dalam pemulihan.
Tuhan menguatkan dan memberkati setiap langkah. Flores sedang terluka. Tapi Flores juga sedang mengajar Indonesia dan Gereja: Bahwa di saat terburuk, belas kasih adalah agama yang paling fasih.
Dan bahwa kekuatan sejati lahir saat kita berani berkata: Aku di sini. Aku menderita bersamamu.
Flores, kami bersama. Stronger Together. Tuhan memberkati dan menguatkan setiap langkah pemulihan.
Via
Artikel

Posting Komentar