Artikel
Berita
Humaniora
Opini
Pelayanan Sosial
Kolaborasi Pulihkan Flores
Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat (Dosen Unika Indonesia Santo Paulus Ruteng, Manggarai, Flores)
Katolik Terkini - Gempa M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026. Luka yang ditinggalkan masih dalam.
Pemerintah memperpanjang masa tanggap darurat hingga 12 September 2026. Tujuannya jelas. Penanganan harus tuntas. Pemulihan harus dimulai dari fondasi yang kuat.
Di tengah duka, Flores tidak sendiri. Saatnya kita bergerak bersama. Memulihkan tanah, rumah, dan harapan.
Potret Duka dan Kerusakan
Data BNPB per 28 Agustus 2026 mencatat dampak yang besar. Korban jiwa 111 orang. Rinciannya: Manggarai 45, Manggarai Timur 38, Nagekeo 13, Sikka 6, Ngada 5, Ende 3, Manggarai Barat 1.
Korban luka 1.678 orang. 336 di antaranya luka berat. Pengungsi 179.037 orang. Mereka tersebar di 444 titik. Sebagian besar masih bertahan di tenda. Gempa susulan terus terjadi.
Kerusakan infrastruktur juga masif.
Rumah rusak 87.828 unit. Terdiri dari 26.343 rusak berat, 20.540 rusak sedang, dan 40.945 rusak ringan.
Sekolah terdampak 1.378 unit. 502 sekolah rusak berat. 177.678 siswa dan 21.166 guru terganggu belajarnya.
Fasilitas kesehatan rusak 172 unit. Dua RS di Sikka dan Ende harus dievakuasi. Tempat ibadah rusak 172 unit. Di Ende saja 68 rumah ibadah terdampak. Kantor pemerintahan rusak 187 unit. Di Ende tercatat 72 kantor rusak.
Fasilitas umum lain rusak 89 unit. Termasuk 7 jembatan di Ngada. Mayoritas korban meninggal tertimpa reruntuhan saat tidur. 45 persen korban adalah lansia.
Angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada nama. Ada keluarga. Ada masa depan yang tertunda.
Mengapa Harus Berkolaborasi
Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Negara butuh gereja. Kampus butuh swasta. Relawan butuh masyarakat.
Pemulihan Flores adalah kerja bersama. Harus bergerak sebagai satu tubuh.
Waktu sampai 12 September 2026 sangat krusial. Ini bukan hanya masa bagi-bagi bantuan. Ini masa membangun sistem. Sistem yang tidak meninggalkan siapa pun.
Langkah Konkret Pemulihan
1. Tanggap Darurat yang Manusiawi
Pertama, Posko Kesehatan Bergerak.
Kemenkes sudah kerahkan 392 tenaga kesehatan. RS lapangan berdiri di Aeramo dan RSUD Ruteng. Kolaborasi dengan IDI, PPNI, dan relawan medis harus diperluas. Desa-desa terpencil wajib terjangkau.
Kedua, Dapur Umum dan Air Bersih. Gereja dan masjid membuka dapur umum berbasis paroki dan komunitas. Perusahaan air mineral bersama PDAM menyediakan tandon air di setiap titik pengungsian. Kebutuhan dasar harus terpenuhi dulu.
2. Pemulihan Hunian dan Infrastruktur
Pertama, Gerakan 1000 Rumah Tahan Gempa. BNPB, PUPR, Keuskupan, dan perusahaan konstruksi harus duduk bersama. Prioritas diberikan kepada 26.343 rumah rusak berat. Bangun hunian sementara yang layak. Rencanakan rumah permanen yang aman.
Kedua, Adopsi Sekolah dan Gereja. Kampus dan perusahaan dapat "mengadopsi" 502 sekolah rusak berat. Begitu juga 172 tempat ibadah. Bentuknya donasi, tenaga ahli, dan gotong royong. Anak-anak harus segera kembali belajar. Umat harus kembali berdoa.
3. Pemulihan Ekonomi dan Psikososial
Pertama, Padat Karya Tunai. Pemda bersama BUMN dan swasta buka lapangan kerja. Fokusnya bersih puing, perbaiki jalan, bangun fasilitas umum. Ini memutar ekonomi warga pengungsi. Ini mengembalikan martabat.
Kedua, Layanan Trauma Healing. Psikolog kampus, Keuskupan Agung Jakarta, dan komunitas gereja harus turun. dampingi anak-anak dan lansia. 45 persen korban adalah lansia. Mereka paling rentan secara mental. Luka batin harus disembuhkan.
4. Penguatan Data dan Keterbukaan
BNPB terus lakukan pendataan By Name By Address. LSM dan perguruan tinggi bisa membantu verifikasi. Data yang akurat cegah bantuan tumpang tindih. Data yang transparan bangun kepercayaan publik.
Flores Bangkit Karena Kita Bersama
Bencana merobohkan rumah. Bencana merobohkan gedung. Tapi bencana tidak merobohkan semangat orang Flores.
Pemulihan bukan soal cepatnya membangun tembok. Pemulihan adalah saat ibu di pengungsian berkata: "Saya aman. Anak saya bisa sekolah lagi."
Pemulihan adalah saat lonceng gereja yang retak kembali berbunyi. Memanggil umat untuk berdoa bersama.
Mari jadikan perpanjangan darurat ini sebagai momentum. Bukan untuk saling menyalahkan. Tapi untuk saling menguatkan.
Pemerintah membuka kebijakan. Swasta membuka sumber daya. Gereja membuka hati. Masyarakat membuka tangan.
Flores tidak bangkit sendirian.
Flores bangkit karena kita berkolaborasi.
Via
Artikel

Posting Komentar