Artikel
Berita
Daerah
Filsafat
Humaniora
Opini
Refleksi
Usai Gempa 7,7 SR Flores, Apa Yang Dapat Dipelajari [Untuk Dilakukan]?
Oleh: Yohanes Apus Hambur
Katolik Terkini - Pagi itu, semuanya masih terlihat samar-samar: malam belum benar-benar berlalu, matahari masih tak sehelai rambut pun muncul dari ujung cakrawala timur.
Sebagian orang masih tidur lelap di atas kasur. Sejumlah lainnya baru saja beranjak menuju dapur: hendak menyiapkan sarapan untuk memulai hari.
Saat saya dan beberapa anggota keluarga juga masih merebah di atas kasur, tiba-tiba jendela kamar bergetar hebat. Awalnya, saya mengira itu hanyalah efek pergerakan mobil [dumtruck] yang melintas tepat di depan rumah.
Namun, getaran itu tidak kunjung berhenti: mulai dengan pelan-pelan hingga getaran yang cukup besar dan sampai muncul guncangan yang mahadasyat.
Tak menunggu lama, saya bersama anggota keluarga lari terpingkal-pingkal ke luar rumah: menuju halaman depan. Bukan hanya kami yang begitu. Semua orang - tetangga kami - juga berlarian ke luar dari rumahnya.
Saat itu, saya menyaksikan rumah kami seperti sedang ‘menari-nari’. Rumah para tetangga pun demikian. Kurang lebih 1 [menit] tanah tempat kami berpijak berguncang.
Kami semua terkejut atas apa yang barusan terjadi. Seketika, setelah kejadian itu, saya merogohkan isi saku: mengambil ponsel. Pada layarnya, jam digital menunjukan pukul 05.58 WITA.
Beberapa saat setelah itu, dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatogologi dan Geofisika [BMKG], muncul informasi bahwa telah terjadi gempa bumi bermagnitudo 7,7 SR.
Gempa tersebut bersumber dari Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme sesar naik. Pusatnya berada di laut dengan kedalaman sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, pada koordinat 8,41 LS dan 121,39 BT.
Hidup [Jadi] Luluh Lantak
Gempa bumi berdurasi kurang lebih satu menit tersebut seketika menciptakan keheningan bagi dunia di Flores pagi itu: banyak hal seketika menjadi luluh lantak.
Rumah-rumah orang menjadi ambruk dalam sekejap. Bahkan banyak jiwa harus meninggalkan tubuh fananya karena ditimpah reruntuhan bangunan akibat gempa.
Data termutakhir [per 30 Agustus 2026] dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana [BNPB], gempa bumi tersebut setidaknya telah mengakibatkan 111 orang meninggal dunia. Sementara itu, 1.631 orang mengalami luka-luka [luka berat 223 orang & luka ringan 1.404 orang].
Aktivitas seismik itu juga membuat begitu banyak orang harus meninggalkan rumah - tempat mereka berteduh dan bermukim.
Dari data BNPB, setidaknya ada 188.161 jiwa yang mengungsi dengan konsentrasi terbesar berada di Kabupaten Nagekeo [50.574 jiwa] dan Kabupaten Manggarai [50.556] jiwa], diikuti oleh kabupaten lainnya seperti Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, Sikka dan Ende.
Data tersebut dapat saja berubah. Sebab, setelah gempa utama kali lalu, hingga saat ini, BMKG mencatat bahwa masih terjadi gempa susulan [sudah lebih dari 10.000 jumlahnya hingga saat ini].
Alam yang Indiferen
Berbagai data korban dan kerusakan tersebut mengantarkan kita pada suatu kebenaran bahwa gempa bumi merupakan wujud konkrit dari karakter alam yang indeferen [tidak peduli].
Alam - dalam kondisinya yang rentan - memiliki daya untuk menghancurkan kehidupan manusia yang bermukim di atasnya. Siapapun manusia itu, apapun latar belakangnya: orang jahat, orang baik, anak-anak ataupun lansia, orang ateis hingga orang-orang yang rajin berdoa [beragama]. Semua dapat direnggut seketika oleh alam.
Sebagai entitas yang bekerja dalam hukumnya sendiri, alam sama sekali beroperasi tidak dalam kategori keadilan moral manusia. Alam tidak peduli dengan segala kriteria yang dibangun oleh manusia. Ia [selalu] bekerja murni berdasarkan logika fisika yang dingin.
Kondisi ontologis alam ini mengingatkan kita semua pada suatu kenyataan bahwa, di hadapan alam, manusia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menguasai, apalagi menaklukannya: termasuk dengan berdoa sekalipun.
Sebagai masyarakat religius yang taat dan saleh, kita boleh saja berdoa – memohon pertolongan Tuhan – agar peristiwa alamiah mengerihkan seperti gempa bumi ini tidak menimpa kita, tidak meruntuhkan bangunan-bangunan rumah atau merenggut jiwa kita.
Akan tetapi, semua itu akan sia-sia [lebih tepatnya tidak berguna] apabila kita sendiri hanya berhenti pada level pengucapan [melalui lantunan doa] segala macam harapan atau ideal-ideal seperti itu.
Selain mengucapkan doa, beribadah yang rajin, langkah penting setelah itu ialah bagaimana kita bertindak. Sebab – sebagaimana dalam bahasa Kita Suci: iman tanpa perbuatan ialah mati.
Kembali [Belajar] ke Hukum-hukum Alam
Perbuatan apa yang perlu kita lakukan untuk menjawab doa-doa kita tersebut – agar kita mampu meminimalisasi dampak dari bencana alam seperti gempa?
Apakah kita harus menunggu Tuhan sendiri yang hadir menolong kita – sebagaimana seringkali kita asumsikan ketika berdoa? Bukankah Tuhan juga telah berharap pada kita, sebab Ia sendiri sudah menganugerahi api akal pada kita?
Saya pikir, sudah saatnya kita harus menjawab segala persoalan dunia ini [termasuk soal gejala-gejala alam yang dapat mengakibatkan kerusakan seperti gempa bumi] melalui akal yang kita miliki.
Dalam hal ini, saya sama sekali tidak menegasi peran doa untuk mengatasi segala persoalan kita di dunia ini. Akan tetapi – bagi saya – fungsi doa ialah agar kita memiliki kesadaran untuk mempergunakan akal semaksimal mungkin [termasuk membaca gejala-gejala alam dan juga mampu belajar secara antisipatif darinya untuk kebertahanan dan keberlanjutan hidup kita di dunia ini].
Salah satu wujud atau hasil dari aktivitas manusia dalam menggunakan akalnya secara maksimal ialah lahirnya ilmu pengetahuan [modern] – seperti geologi [ilmu tentang bumi] maupun fisika.
Kemajuan ilmu pengetahuan [seperti geologi ataupun fisika], tentu saja telah banyak dan mampu membantu manusia dalam membaca tanda-tanda [hukum-hukum alam], mengenalinya dan kemudian mengambil langkah antisipatif atasnya.
Segala macam pengetahuan yang diperoleh darinya telah terbukti mampu mengantisipasi dan meminimalisasi segala kemungkinan destruktif yang ditimbulkan dari kondisi alam yang rentan itu.
Sikap Saintifik-Antisipatif
Peristiwa kelam yang terjadi pada 15 Agustus di Pulau Flores ini tentu saja murni karena kondisi alam yang rentan. Secara geologis, Pulau Flores [akan selalu] mengalami gempa bumi karena posisinya yang berada pada zona tektonik aktif.
Pulau ini dikelilingi oleh dua sumber tekanan utama: Lempeng Indo-Australia yang selalu bergerak menunjam ke bawah lempeng Eurasia pada bagian selatan dan Flores Back-Arc Thrust [Sesar naik Busur Belakang] pada sisi utara.
Tekanan penunjaman dari kedua lempeng tersebut menghasilkan energi tektonik yang besar. Pada akhirnya hal itu akan membuat kerak bumi di Laut Flores bagian utara patah dan membentuk sesar naik yang membentang panjang. Sesar aktif tersebut kemudian memicu gempa bumi di pulau ini.
Dengan merujuk pada fakta geologis tersebut, Pulau Flores tentu saja potensial akan kembali [bahkan terus] diguncangi gempa bumi, bahkan dengan magnitudo yang lebih besar.
Apakah fakta ini ialah kehendak Tuhan?Jawabannya tentu saja ialah ‘tidak sama sekali’: gempa bumi terjadi murni karena kondisi alam [di Pulau Flores].
Kalau kejadian alam seperti gempa bumi terjadi karena Kehendak Tuhan, lalu Tuhan seperti apakah itu [padahal Flores juga dianggap sebagai Pulau Religius – beribu-ribu tempat ibadat di dalamnya; orang-orangnya rajin beribadah dan pandai berdoa setiap hari]?
Saya sendiri – [tentu saja] sebagai orang beriman yang berakal – mengajak kita semua untuk berani belajar memakai akal: melihat fakta alam Flores yang rentan terhadap gempa bumi dalam kaca mata saintifik.
Karena gempa bumi [di Pulau Flores] ialah terjadi murni karena kondisi alam, kita harus menghadapinya dengan mempelajari kondisi alam.
Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh kita [orang Flores] untuk menghadapi potensi gempa bumi ini [setidaknya dapat meminimalisasi hal-hal destruktif yang dihasilkannya].
Pertama, bangunan tahan gempa. Setiap orang [lebih khususnya para tukang bangunan] mesti memiliki pengetahuan teknis terkait cara membikin bangunan yang tahan gempa.
Langkah ini tentu saja perlu mendapat perhatian serius dari pemangku kepentingan [misalnya dinas PUPR di setiap daerah]: memberikan pelatihan khusus kepada para tukang [bahkan warga] terkait dengan teknik konstruksi bangunan tahan gempa [bahkan para tukang harus memiliki lisensi].
Kedua, pendidikan kebencanaan. Setiap orang [warga Pulau Flores] mesti memiliki pengetahuan terkait kebencanaan [evakuasi, dll]. Semua itu dilakukan dalam rangka menghasilkan warga [Pulau Flores] yang memiliki kesadaran mitigatif [di dalam dirinya] terkait potensi gempa bumi atau bencana alam lainnya.
Tawaran tersebut tentu saja bukan untuk melawan dan menguasasi hakikat alam. Tetapi, setidaknya, kita bisa mencegah hal-hal buruk [akibat bencana alam seperti gempa bumi] kembali terjadi di masa yang akan datang.*
---
Ruteng, [Awal September] 2026!
Via
Artikel

Posting Komentar