Berita
Humaniora
Inspirasi
Internasional
Perdamaian
Young Changemakers Programme 2026: Kaum Muda Lintas Negara Bahas Masa Depan AI dan Kemanusiaan
BALI, Katolik Terkini - Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) terus mengubah berbagai aspek kehidupan manusia. Teknologi kini tidak hanya memengaruhi cara manusia bekerja dan memperoleh informasi, tetapi juga cara berpikir, berinteraksi, mengambil keputusan, hingga memaknai kehidupan.
Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan penting: di mana posisi manusia dan bagaimana nilai-nilai kemanusiaan tetap dijaga ketika teknologi semakin mengambil peran dalam kehidupan sehari-hari?
Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu titik refleksi dalam Young Changemakers Programme 2026, sebuah program yang diprakarsai oleh Scholas Occurrentes dan mempertemukan kaum muda dari berbagai negara serta latar belakang.
Program yang memasuki tahun pelaksanaan ketiga ini menjadi bagian integral dari Bali Harmony Encounter Week 2026, yang mengangkat tema “Artificial Intelligence and Human Meaning”. Kegiatan berlangsung pada 2–8 September 2026 di Kampus United In Diversity, Bali.
Mempertemukan 42 Anak Muda dari Berbagai Negara
Sebanyak 42 anak muda penggerak perubahan dari sejumlah negara berkumpul dalam rangkaian program tersebut. Delegasi berasal dari Indonesia, Malaysia, India, Sri Lanka, Jepang, dan Spanyol.
Pertemuan lintas negara ini tidak hanya menjadi ruang untuk bertukar gagasan mengenai perkembangan teknologi, tetapi juga menjadi kesempatan bagi para peserta untuk mengenal keberagaman perspektif dan pengalaman hidup.
Dengan Bali sebagai ruang perjumpaan, yang dikenal memiliki kekayaan budaya sekaligus keberagaman masyarakat, para peserta diajak menjalani proses pembelajaran bersama. Mereka mengamati realitas di sekitar, berdialog, menganalisis berbagai persoalan, serta melakukan refleksi mengenai bagaimana teknologi, khususnya AI, dapat digunakan secara bijaksana tanpa menghilangkan dimensi kemanusiaan.
Program ini berangkat dari gagasan bahwa kemajuan teknologi tidak semestinya membuat manusia kehilangan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri maupun orang lain.
Tiga Tahap Perjalanan: Dari Diri hingga Kolaborasi
Proses pembelajaran dalam Young Changemakers Programme 2026 terbagi dalam tiga fase utama.
Fase pertama, “Siapa aku?”, mengajak peserta melihat ke dalam diri. Mereka diberi ruang untuk mengeksplorasi dan merefleksikan identitas, nilai, pengalaman, serta pertanyaan mengenai siapa diri mereka sesungguhnya.
Tahap berikutnya, “Siapa yang lain?”, membawa peserta keluar dari ruang refleksi personal untuk berinteraksi dengan realitas sosial dan budaya yang berbeda. Pertemuan dengan orang-orang dari latar belakang negara, budaya, dan pengalaman yang beragam menjadi kesempatan untuk memahami perbedaan sekaligus menemukan titik temu.
Sementara itu, fase ketiga, “Apa yang dapat kita bangun bersama?”, mengarahkan peserta pada proses kolaborasi. Gagasan dan refleksi yang diperoleh dari dua tahap sebelumnya kemudian diarahkan menjadi inisiatif bersama yang diharapkan dapat menjadi cikal bakal perubahan.
Ketiga fase tersebut membentuk sebuah perjalanan yang bergerak dari refleksi diri, pemahaman terhadap sesama, hingga aksi kolektif.
Membongkar AI dari Perspektif Anak Muda
Selain proses refleksi dan perjumpaan lintas budaya, rangkaian kegiatan juga dilengkapi dengan sejumlah sesi yang secara khusus membahas perkembangan AI.
Para peserta diajak membedah “anatomi” AI dari perspektif kaum muda. Pembahasan tersebut menjadi ruang untuk memahami teknologi secara lebih kritis sekaligus mempertanyakan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Salah satu agenda yang turut dihadirkan adalah kuliah umum bersama Prof. Christie, Wakil Menteri Pendidikan, dengan tema “Intelligence, Natural and Artificial: What the Disruption is Really About”.
Tema tersebut mengajak peserta melihat lebih jauh mengenai perbedaan dan hubungan antara kecerdasan alami manusia dengan kecerdasan buatan, serta memahami seperti apa sebenarnya perubahan yang sedang terjadi ketika teknologi AI semakin berkembang.
Ruang partisipasi peserta juga diperluas melalui Youth Consultative Dialog on AI.
Forum ini menjadi ruang interaktif bagi para delegasi muda untuk menyampaikan pandangan mereka mengenai perkembangan AI sekaligus menganalisis berbagai persoalan yang muncul di tengah transformasi teknologi.
Lebih dari sekadar membicarakan dampak teknologi, dialog tersebut memberi kesempatan kepada kaum muda untuk merumuskan bentuk kontribusi yang ingin mereka lakukan ke depan.
Keterlibatan anak muda menjadi penting karena mereka bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari generasi yang akan hidup paling lama dengan berbagai konsekuensi dari perkembangan AI saat ini.
Teknologi Maju, Manusia Tetap Menjadi Pusat
Young Changemakers Programme 2026 pada akhirnya menempatkan perkembangan teknologi dalam perspektif yang lebih luas. AI dapat membantu manusia mengolah informasi dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat, tetapi teknologi tidak serta-merta dapat menggantikan dimensi kemanusiaan dalam sebuah relasi.
Empati, solidaritas, kemampuan memahami pengalaman orang lain, serta kehangatan yang lahir dari perjumpaan langsung menjadi nilai-nilai yang justru semakin penting ketika kehidupan semakin terdigitalisasi.
Melalui program ini, Scholas Occurrentes tidak menempatkan teknologi sebagai sesuatu yang harus ditolak. Sebaliknya, perkembangan AI diajak untuk dipahami secara kritis agar tetap berada dalam kerangka kepentingan dan nilai-nilai manusia.
Di tengah pertanyaan mengenai seberapa jauh kecerdasan buatan dapat berkembang, Young Changemakers Programme 2026 menghadirkan pertanyaan yang tidak kalah penting, seberapa jauh manusia mampu mempertahankan kemanusiaannya sendiri?
Dari Bali, 42 anak muda dari berbagai negara tidak hanya bertemu untuk membicarakan masa depan teknologi. Mereka juga diajak untuk mengingat kembali bahwa di balik setiap perkembangan teknologi, tetap ada manusia yang harus menjadi pusat, pengarah, sekaligus penjaga maknanya.(AD)
Oleh: Sara
Via
Berita


Posting Komentar