Berita
Daerah
Pelayanan Sosial
Keuskupan Labuan Bajo Layani 303 Warga dan 350 Anak Terdampak Gempa di Stasi Munta
LABUAN BAJO, Katolik Terkini - Keuskupan Labuan Bajo melalui Posko Bencana Keuskupan Labuan Bajo kembali menghadirkan layanan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa Flores. Kali ini, kegiatan bakti sosial terintegrasi digelar di Stasi Munta, Paroki St. Martinus Bari, Kevikepan Pacar, Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 18.00 WITA tersebut menghadirkan dua layanan utama, yakni pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis serta trauma healing bagi anak-anak sekolah.
Bakti sosial ini merupakan bagian dari respons Keuskupan Labuan Bajo terhadap kebutuhan masyarakat pascagempa Flores yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Selain membantu pemulihan kondisi fisik warga, kegiatan tersebut juga memberi perhatian terhadap kondisi psikologis, terutama anak-anak yang mengalami dampak dari bencana.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena pemulihan pascabencana tidak hanya menyangkut kebutuhan medis dan material. Masyarakat juga perlu mendapatkan pendampingan psikososial agar mampu menghadapi rasa takut, kecemasan, serta perubahan kondisi lingkungan setelah bencana.
303 Warga Mendapat Layanan Kesehatan
Antusiasme masyarakat terlihat dalam pelaksanaan kegiatan. Berdasarkan laporan dari lapangan, sebanyak 303 orang, yang terdiri atas orang dewasa, ibu hamil, dan anak-anak, mendapatkan pemeriksaan kesehatan, konsultasi medis, serta pengobatan secara gratis.
Pelayanan kesehatan melibatkan tenaga medis dari Rumah Sakit St. Yosef Labuan Bajo dan Puskesmas Bari. Kehadiran tenaga kesehatan tersebut memungkinkan warga memperoleh pemeriksaan dan konsultasi langsung tanpa harus menanggung biaya pelayanan.
Di sisi lain, kebutuhan pemulihan psikologis anak-anak juga mendapat perhatian khusus. Lebih dari 350 siswa dari tiga sekolah mengikuti kegiatan trauma healing, yakni SDK Munta, SDN Pau Waka, dan SMPN 2 Macang Pacar.
Dalam kegiatan tersebut, para fasilitator dari Tim Psikososial Caritas Indonesia (Karina) mendampingi anak-anak melalui berbagai aktivitas yang menyenangkan sekaligus edukatif.
Pendampingan itu diarahkan untuk membantu anak-anak memproses pengalaman mereka setelah gempa, mengurangi kecemasan, serta membangun kembali rasa aman dan ketahanan mental.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kegiatan di Stasi Munta tidak berjalan sendiri. Respons kemanusiaan tersebut merupakan hasil kerja sama berbagai unsur, mulai dari Posko Bencana Keuskupan Labuan Bajo atau Tim Caritas Keuskupan Labuan Bajo, tenaga kesehatan, tim psikososial, hingga komunitas umat setempat.
Selain tim medis Rumah Sakit St. Yosef Labuan Bajo dan Puskesmas Bari, kegiatan juga melibatkan Tim Psikososial Caritas Indonesia (Karina). Dukungan turut diberikan oleh para Suster Ursulin, Suster Santo Yosef, serta umat Paroki St. Martinus Bari.
Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Gereja, tenaga kesehatan, pekerja kemanusiaan, dan masyarakat dapat mengambil peran masing-masing untuk memastikan kebutuhan korban terpenuhi secara lebih menyeluruh.
Respons yang dilakukan Keuskupan Labuan Bajo juga tidak berhenti pada pemulihan fisik. Pendampingan psikososial menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat beradaptasi dengan kondisi pascabencana dan menghadapi kemungkinan terjadinya gempa di masa mendatang.
Pimpinan Gereja Turut Hadir
Dukungan terhadap masyarakat terdampak juga ditunjukkan melalui kehadiran pimpinan Gereja dalam kegiatan tersebut.
Hadir langsung Romo Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Romo Richardus Manggu; Romo Charles Suwendi, Direktur Puspas Keuskupan Labuan Bajo sekaligus Ketua Umum Tim Tanggap Bencana Keuskupan Labuan Bajo; serta Romo Beny Hengki Pastor Paroki St. Martinus Bari.
Kehadiran para pastor tersebut menjadi bentuk dukungan moral bagi warga sekaligus menegaskan komitmen Keuskupan Labuan Bajo untuk terus mendampingi umat selama masa pemulihan.
Bagi Keuskupan Labuan Bajo, kegiatan kemanusiaan pascabencana tidak semata-mata dipandang sebagai bantuan sesaat. Pendampingan merupakan bagian dari perjalanan bersama masyarakat untuk membangun ketangguhan menghadapi berbagai risiko bencana.
Kegiatan di Stasi Munta sekaligus menunjukkan bahwa solidaritas dan kolaborasi menjadi unsur penting dalam proses pemulihan. Dengan menggabungkan pelayanan kesehatan dan pendampingan psikososial, Gereja berupaya hadir tidak hanya untuk membantu warga melewati masa darurat, tetapi juga mendukung mereka dalam membangun kembali kehidupan yang lebih tangguh setelah bencana.(AD)
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo
Via
Berita

Posting Komentar