Proyek Pemberdayaan Perempuan di Papua Nugini Diganjar Penghargaan Internasional
![]() |
| Sumber foto dari Vatican News |
Katolik Terkini - Di sebuah pulau kecil di kawasan Pasifik, jauh dari sorotan dunia, sekelompok perempuan sedang menanam harapan. Mereka bukan pengusaha besar, bukan tokoh politik, dan bukan pula orang-orang dengan akses ekonomi melimpah.
Namun dari tempat sederhana bernama Hantoa di Papua Nugini, mereka justru menghadirkan inspirasi yang kini mendapat perhatian dunia internasional.
Pada Mei 2026 ini, seperti dikutip dari Vatican News, Misi Keluarga Kudus Kongregasi Salib Suci di Keuskupan Bougainville menerima penghargaan internasional bergengsi “Francis of Assisi and Carlo Acutis for an Economy of Fraternity” di kota Assisi, Italia, kota yang sangat lekat dengan warisan Santo Fransiskus Assisi.
Penghargaan itu diberikan untuk mendukung pembangunan Hantoa Fraternity Hub, sebuah pusat pemberdayaan ekonomi berbasis persaudaraan.
Sekilas, proyek ini mungkin tampak sederhana: ada restoran kecil, bengkel menjahit, dan kebun sayur.
Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan mimpi besar tentang kemandirian, solidaritas, dan masa depan yang lebih baik bagi keluarga-keluarga di Bougainville.
Melalui Asosiasi Perempuan Katolik Paroki Kristus Raja di Hantoa, para perempuan diajak untuk bekerja bersama, menabung bersama, dan bertumbuh bersama. Mereka membangun ekonomi bukan semata-mata demi keuntungan pribadi, tetapi demi menopang kehidupan komunitas.
Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari besarnya modal dan keuntungan, kisah dari Hantoa menawarkan cara pandang yang berbeda. Ekonomi, bagi mereka, bukan soal persaingan, melainkan persaudaraan.
Semangat inilah yang rupanya menarik perhatian Keuskupan Assisi di Italia. Penghargaan “Francis and Carlo Acutis for an Economy of Fraternity” sendiri memang dibuat untuk mendukung proyek-proyek ekonomi yang berpihak pada martabat manusia, inklusi sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Tahun ini, ada 78 proposal dari 31 negara yang ikut bersaing. Dari semua itu, kisah Hantoa menjadi salah satu yang paling menyentuh.
Uskup Bougainville, Mgr. Dariusz Kaluska, menyebut penghargaan ini sebagai tanda bahwa “pinggiran dunia justru adalah pusatnya.” Pernyataan itu terasa sangat kuat. Sebab selama ini banyak komunitas di Pasifik, hidup dalam keterbatasan: jauh dari pusat ekonomi dunia, menghadapi isolasi geografis, bahkan bayang-bayang konflik.
Namun dari tempat yang dianggap “pinggiran” itu, lahir harapan yang mampu menggugah dunia.
Kisah Hantoa juga menjadi gambaran nyata dari semangat yang terus didorong Paus Fransiskus: pergi ke daerah-daerah pinggiran. Bagi Gereja, pinggiran bukan sekadar lokasi geografis, tetapi tempat di mana manusia berjuang mempertahankan martabat dan harapan hidupnya.
Kongregasi Salib Suci sendiri mengusung tema “Hope Beyond Borders” atau “Harapan Melampaui Batas” dalam Tahun Misi mereka. Tema itu terasa sangat hidup dalam proyek ini. Dari Bougainville, sebuah jembatan harapan kini terhubung hingga Assisi.
Ada sesuatu yang menyentuh dari kisah ini: dunia modern sering percaya bahwa perubahan besar hanya bisa lahir dari kota besar, teknologi besar, atau investasi besar.
Tetapi Hantoa menunjukkan bahwa perubahan juga bisa tumbuh dari kebun sayur sederhana, dari tangan-tangan perempuan yang saling menopang, dan dari komunitas kecil yang memilih untuk tidak kehilangan harapan.
Penghargaan internasional itu mungkin diberikan di aula megah di Italia. Namun makna sesungguhnya justru hidup di Hantoa, di dapur-dapur kecil, di kebun yang sedang ditanami, dan di hati orang-orang yang percaya bahwa masa depan dapat dibangun bersama.(AD)

Posting Komentar