Jalan Salib di Balik Jeruji, Uskup Labuan Bajo Hadirkan Harapan bagi Tahanan
![]() |
| Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, hadir langsung di tengah para tahanan, menghadirkan sentuhan kemanusiaan yang mendalam pada Jumat (27/3/2026) |
Katolik Terkini - Suasana tak biasa hadir di lingkungan Polres Manggarai Barat pada Jumat (27/3/2026). Di tempat yang kerap dipersepsikan sebagai ruang hukuman dan keterasingan, kegiatan Jalan Salib berlangsung dengan nuansa berbeda.
Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, hadir langsung di tengah para tahanan, menghadirkan sentuhan kemanusiaan yang mendalam.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian refleksi iman menjelang Paskah, yang secara khusus dihadirkan bagi para tahanan. Dalam suasana hening dan penuh penghayatan, mereka mengikuti setiap perhentian Jalan Salib, mengenang penderitaan Yesus Kristus yang kini terasa begitu dekat dengan realitas hidup mereka.
Dalam kunjungan tersebut, Uskup didampingi sejumlah imam Keuskupan Labuan Bajo, antara lain Rm. Rikardus Manggu, Pr (Vikjen), Rm. Fransiskus Nala Kartijo Udu (Sekjen), Rm. Yuvensius Rugi, Pr (Vikep Labuan Bajo), Rm. Heribertus Ratu, Pr (Ketua Komisi Komsos), serta Rm. Hermen Sanusi, Pr (Ketua Komisi Kateketik).
Kehadiran Mgr. Maksi dan para romo disambut hangat oleh Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang. Dalam sambutannya, Kapolres menyampaikan apresiasi atas perhatian Gereja terhadap pembinaan mental dan spiritual para tahanan.
“Pendekatan humanis dan religius sangat penting dalam membantu proses pemulihan dan perubahan perilaku para tahanan,” ujarnya.
Jalan Salib yang Menjadi Cermin Kehidupan
Bagi para tahanan, Jalan Salib kali ini bukan sekadar ritual keagamaan tahunan. Kisah sengsara Kristus yang direnungkan menjadi cermin kehidupan mereka sendiri, tentang jatuh dan bangkit, luka dan pengampunan, serta harapan yang masih mungkin diperjuangkan.
Sejumlah tahanan tampak larut dalam refleksi mendalam. Air mata yang jatuh menjadi tanda penyesalan sekaligus benih harapan. Di balik jeruji, mereka menemukan ruang untuk merenung, memperbaiki diri, dan menata kembali masa depan.
Dalam refleksinya, Uskup Maksimus Regus menegaskan bahwa penderitaan bukanlah akhir dari segalanya.
“Jalan Salib yang kita doakan hari ini mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang terputus dari kasih Tuhan. Selalu ada kesempatan untuk bangkit dan memulai hidup baru,” ungkapnya.
Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan wujud nyata kehadiran Gereja di tengah mereka yang terpinggirkan. Uskup hadir sebagai gembala yang tidak hanya melayani umat di altar, tetapi juga menjangkau mereka yang berada di ruang-ruang sunyi penuh penyesalan.
Sinergi antara Gereja dan kepolisian dalam kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan hukum dapat berjalan berdampingan dengan pendekatan kemanusiaan. Pembinaan tidak lagi semata soal disiplin, tetapi juga pemulihan martabat manusia.
Peristiwa ini juga menjadi refleksi bagi masyarakat luas. Stigma terhadap para tahanan sering kali menutup ruang bagi pertobatan dan kesempatan kedua. Padahal, setiap manusia, apa pun kesalahannya, tetap memiliki martabat yang tidak dapat dihapuskan.
Kegiatan Jalan Salib di balik jeruji ini menghadirkan pesan bahwa belas kasih bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan yang mampu memulihkan.
Dimensi Pastoral dan Profetis
Rm. Hermen Sanusi, Pr, menegaskan bahwa langkah Uskup merupakan wujud Gereja yang hadir secara nyata di tengah penderitaan manusia.
“Gereja tidak boleh hanya berada di ruang nyaman. Ia harus berani turun ke tempat-tempat terluka, mencium bau dombanya, dan berjalan bersama mereka,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan perwujudan konkret ajaran Kitab Suci, yang menegaskan pentingnya menghadirkan kasih Tuhan bagi mereka yang terpinggirkan, termasuk para tahanan.
Kegiatan Jalan Salib tersebut mungkin telah selesai secara liturgis, namun maknanya terus hidup. Di balik jeruji besi, harapan tidak pernah benar-benar padam.
Di tempat yang sering dilupakan, kemanusiaan justru menemukan wajahnya yang paling jujur. Jalan Salib yang dihidupi para tahanan menjadi jembatan antara luka dan harapan, antara kesalahan dan pengampunan.
Peristiwa ini menegaskan bahwa di tengah dunia yang kerap terjebak dalam logika penghukuman, masih ada ruang bagi belas kasih untuk bekerja, dan dari sanalah, harapan perlahan tumbuh kembali.(AD)
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar