Mgr. Maksimus Regus Luncurkan Dua Buku dalam Syukuran Pengukuhan Guru Besar
Katolik Terkini - Mgr. Maksimus Regus resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme di Unika St. Paulus Ruteng pada 8 Mei 2026. Pengukuhan ini menjadi tonggak penting, karena Mgr. Maksimus Regus tercatat sebagai uskup keempat di Indonesia yang menyandang gelar akademik tertinggi tersebut, sekaligus yang pertama di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pencapaian ini bukan hanya menjadi kebanggaan bagi civitas akademika Unika St. Paulus Ruteng, tempat ia mengabdi sebagai dosen dan akademisi, tetapi juga menjadi sukacita besar bagi umat Keuskupan Labuan Bajo yang dipimpinnya sebagai uskup pertama keuskupan tersebut.
Sebagai ungkapan syukur atas pencapaian bersejarah itu, Keuskupan Labuan Bajo menggelar perayaan ekaristi syukur pada Jumat, 15 Mei 2026, di Rumah Spiritualitas St. Yohanes Maria Vianey Unio, Labuan Bajo.
Perayaan tersebut dihadiri berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan, mulai dari perwakilan Pemerintah Daerah Manggarai Barat, Forkopimda, pimpinan lembaga vertikal, pimpinan lembaga pendidikan, para imam, biarawan-biarawati, tokoh umat, hingga perwakilan orang muda dan anak-anak.
Iman, Ilmu, dan Pengabdian
Dalam homilinya, Vikep Labuan Bajo, Yuvens Rugi, menekankan pentingnya relasi harmonis antara iman dan ilmu pengetahuan sebagaimana tercermin dalam perjalanan hidup dan karya Mgr. Maksimus Regus.
Menurutnya, iman dan ilmu bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling menerangi dan saling memperkaya demi pelayanan kepada manusia dan kelestarian ciptaan.
“Iman dan ilmu sungguh menyatu dalam diri Mgr. Maksi. Sinergi keduanya menghasilkan pengabdian untuk kemanusiaan dan keutuhan ciptaan yang sungguh tampak dalam kesaksian hidup dan karya penggembalaan yang dijalankan,” ungkap RD. Yuvens Rugi.
Ia berharap pencapaian tersebut menjadi inspirasi bagi umat untuk terus mengembangkan iman dan ilmu melalui pelayanan nyata kepada sesama dan lingkungan hidup.
Sementara itu, Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Richardus Manggu, menyebut keberhasilan Mgr. Maksimus Regus meraih gelar profesor sebagai buah ketekunan akademik sekaligus teladan kerendahan hati.
Menurutnya, meskipun telah menjadi uskup, Mgr. Maksimus tetap menunjukkan semangat belajar dan dedikasi intelektual yang tinggi.
“Apa pun yang kita raih, tetaplah melayani. Dan Bapa Uskup telah menunjukkan itu dalam seluruh pelayanan yang tidak membeda-bedakan siapa pun. Semua diterima dan dirangkul dengan penuh kasih dan perhatian,” tegasnya.
Ucapan selamat juga datang dari Sekretaris Daerah Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo. Ia menilai Mgr. Maksimus sebagai sosok yang terus menghadirkan kejutan positif bagi masyarakat.
“Pada saat terpilih menjadi Uskup pertama Keuskupan Labuan Bajo, kami semua terkejut. Demikian juga sekarang ketika beliau dikukuhkan sebagai Guru Besar. Kami sangat bangga dan berharap akan lahir kejutan-kejutan lain yang menginspirasi,” ujarnya.
Ia juga menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus membangun sinergi bersama Keuskupan Labuan Bajo dalam berbagai karya pembangunan sosial dan kemanusiaan.
Guru Besar sebagai Jalan Pengabdian
Dalam sambutannya, Mgr. Maksimus Regus kembali menyinggung refleksi yang pernah disampaikannya dalam pidato pengukuhan Guru Besar, yakni pertanyaan tentang relevansi seorang uskup menjadi profesor.
Menurutnya, gelar Guru Besar bukan sekadar prestise akademik, melainkan panggilan untuk memperluas pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.
“Bagi saya, pengukuhan Guru Besar ini memperkaya pelayanan. Jabatan sebagai profesor membantu saya melihat pelayanan secara lebih kaya dan luas. Saya memaknainya untuk mengabdi kepada sesama dan keutuhan ciptaan,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukan hasil perjuangan pribadi semata, melainkan buah dari kerja kolaboratif banyak pihak yang mendukung perjalanan hidup dan pelayanannya.
Dimahkotai Peluncuran Dua Buku Baru
Perayaan syukur tersebut semakin istimewa dengan peluncuran dua buku terbaru karya Mgr. Prof. Dr. Maksimus Regus, M.Si., yang sekaligus mempertegas identitasnya sebagai gembala Gereja sekaligus intelektual publik.
Lahir di Todo, Manggarai, pada 23 September 1973, Mgr. Maksimus menempuh pendidikan di Seminari Pius XII Kisol, STFK Ledalero, meraih gelar magister di Universitas Indonesia, serta doktor di Tilburg University.
Dua buku yang diluncurkan dalam acara tersebut adalah: Trilogi Pemikiran Paus Fransiskus: Iman, Alam, dan Persaudaraan, dan Paus Leo XIV: Menyambung Warisan, Menjawab Tantangan Zaman
Buku pertama mengangkat refleksi atas dokumen-dokumen penting Paus Fransiskus, yakni Lumen Fidei, Laudato Si’, dan Fratelli Tutti. Melalui buku itu, Mgr. Maksimus mengajak pembaca memahami bahwa iman kristiani harus hadir di tengah persoalan kemanusiaan, kemiskinan, dan krisis ekologis.
Sementara buku kedua menyoroti tantangan Gereja di era modern, termasuk isu kecerdasan buatan, etika digital, dialog antaragama, dan dinamika perubahan sosial global. Sosok Paus Leo XIV digambarkan sebagai figur yang berusaha menjembatani tradisi Gereja dengan tuntutan zaman modern.
Suara Intelektual dari Flores
Peluncuran kedua buku tersebut dipandang bukan sekadar seremoni akademik, tetapi juga simbol lahirnya suara intelektual dan pastoral dari Flores yang mampu berbicara bagi Gereja dan dunia.
Karya-karya itu memperlihatkan sosok Mgr. Maksimus Regus sebagai gembala yang tidak hanya tekun membaca buku, tetapi juga membaca tanda-tanda zaman dan pergulatan manusia modern.
Dalam dirinya, ilmu pengetahuan dipadukan dengan keberanian iman dan semangat pelayanan. Dari Labuan Bajo, Manggarai, dan Flores, lahir sebuah suara yang berupaya menjaga harapan, merawat persaudaraan, dan memperjuangkan keutuhan ciptaan di tengah dunia yang terus berubah.(AD)
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar