Menghidupi Iman Lewat Pelayanan, Pesan Uskup Labuan Bajo pada Misa Kamis Putih di Werang
![]() |
| Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memimpin perayaan Misa Kamis Putih di Paroki Werang |
Katolik Terkini - Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, memimpin perayaan Misa Kamis Putih di Paroki Werang dalam suasana yang khidmat dan penuh makna. Perayaan yang menandai dimulainya Tri Hari Suci ini dihadiri oleh ribuan umat yang memadati bagian dalam gereja hingga pelataran.
Dalam perayaan tersebut, Mgr. Maksi didampingi oleh Pastor Paroki, Pater Petrus Due, SVD, serta Rm. Frans Nala. Kehadiran umat dari berbagai lingkungan menunjukkan antusiasme dan kerinduan umat untuk menghayati momentum penting dalam kalender liturgi Gereja Katolik.
Dalam homilinya, Mgr. Maksi menekankan makna mendalam Kamis Putih sebagai peringatan Perjamuan Terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya. Ia mengajak umat untuk meneladani sikap Yesus yang merendahkan diri dengan membasuh kaki para murid sebagai simbol kasih dan pelayanan tanpa batas.
“Kasih sejati ditunjukkan melalui tindakan nyata. Yesus memberi teladan bahwa kita dipanggil untuk melayani, bukan untuk dilayani,” tegasnya di hadapan umat.
Lebih lanjut, Uskup menjelaskan bahwa inti perayaan Kamis Putih mencakup tiga hal utama, yakni pembebasan, persekutuan, dan pelayanan. Ia menguraikan bahwa ketiga bacaan Kitab Suci pada malam itu menghadirkan satu kesatuan gerak Ilahi: Allah yang membebaskan, mengikat perjanjian, dan merendahkan diri dalam kasih.
Pada aspek pembebasan, Mgr. Maksi merujuk pada kisah Paskah pertama dalam Kitab Keluaran, di mana darah anak domba menjadi tanda perlindungan dan pembebasan dari maut. Ia menegaskan bahwa keselamatan Allah bukanlah sesuatu yang membuat umat pasif, melainkan mendorong mereka untuk terus berziarah dalam iman.
Sementara itu, dalam dimensi persekutuan, ia menyinggung ajaran Rasul Paulus tentang Ekaristi sebagai perayaan hidup yang menghadirkan kembali sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus. Ekaristi, menurutnya, bukan hanya perayaan internal Gereja, tetapi juga pernyataan iman yang hidup dan terbuka bagi dunia.
Adapun dalam dimensi pelayanan, Uskup menyoroti kisah pembasuhan kaki dalam Injil Yohanes sebagai simbol kasih yang merendah. Ia menegaskan bahwa Ekaristi menemukan maknanya yang paling nyata ketika diwujudkan dalam tindakan pelayanan kepada sesama.
“Relasi dengan Kristus dimulai dari kesediaan untuk disentuh oleh kasih-Nya, dan kasih itu harus mengalir dalam pelayanan kepada sesama,” ujarnya.
Perayaan juga diwarnai dengan ritus pembasuhan kaki yang melibatkan perwakilan umat, sebagai simbol kerendahan hati dan panggilan untuk saling melayani dalam kehidupan sehari-hari.
Usai misa, prosesi Sakramen Mahakudus dilanjutkan dengan tuguran dari gereja baru menuju gereja devosional (gereja tua), yang diikuti oleh seluruh umat. Kegiatan tuguran kemudian dilanjutkan oleh berbagai komunitas dan kelompok umat secara bergiliran. Seluruh rangkaian berlangsung dengan agung dan penuh kekhusyukan.
Pastor Paroki Werang, Pater Petrus Due, SVD, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran Uskup. Ia mengungkapkan bahwa ini merupakan pertama kalinya perayaan Kamis Putih di Paroki Werang dipimpin langsung oleh seorang uskup.
“Kehadiran Bapa Uskup menjadi sukacita besar bagi umat. Ini momen berharga yang semakin memperdalam iman dan kebersamaan kami,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa makna terdalam Kamis Putih bagi umat Werang terletak pada pengalaman iman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tentang kasih yang nyata, pelayanan yang tulus, dan pengorbanan yang hidup.
Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Werang, Yakobus Agus, turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran Uskup sebagai bentuk perhatian dan komitmen gembala dalam mendampingi umat.
“Kehadiran Bapa Uskup adalah kehormatan bagi kami. Ini menjadi penguatan bagi persaudaraan iman, terutama dalam semangat Tahun Persekutuan Sinergis 2026,” katanya.
Umat Paroki Werang tampak mengikuti seluruh rangkaian liturgi dengan penuh penghayatan. Bagi mereka, Kamis Putih bukan sekadar ritual, melainkan undangan untuk menghidupi iman secara konkret: melayani dengan rendah hati, mengasihi tanpa batas, dan berani berkorban demi sesama.
Perayaan ini sekaligus menjadi awal dari rangkaian Tri Hari Suci yang akan dilanjutkan dengan peringatan Jumat Agung dan Vigili Paskah. Umat diharapkan dapat menghayati setiap momen dengan penuh iman dan refleksi mendalam, sehingga misteri iman yang dirayakan tidak berhenti di altar, tetapi nyata dalam kehidupan sehari-hari.(AD)
Sumber : Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar