Sang Uskup yang Dituduh Hedon itu Kembali ke Persaudaraan OFM Hanya dengan Dua Koper Kecil
![]() |
| Sumber foto dari website resmi OFM Indonesia |
Oleh: Don Bosco Doho
Katolik Terkini - Pukul 07.30 pagi, sabtu ini, kami---umat Manggarai Flores Diaspora yang tergabung dalam komunitas DEBORA (Depok, Bogor Raya)---tiba di Istana Keuskupan Bogor di Jalan Kapten Muslihat, kompleks Katedral Bogor.
Bukan untuk perayaan liturgis atau acara seremonial, melainkan untuk menemani kepergian seorang gembala: Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup Emeritus Keuskupan Bogor, yang akan kembali ke pangkuan komunitas Saudara Dina OFM di Jalan Kramat Raya, Jakarta.
Yang kami saksikan pagi itu menghancurkan semua tuduhan tentang "gaya hidup hedonistik" yang selama ini dialamatkan kepadanya. Di tengah ruang istana keuskupan yang mulai kosong, kami mendapati Mgr. Paskalis sedang mengemas sendiri barang-barangnya. Tidak ada asisten pribadi. Tidak ada pembantu yang berlalu-lalang. Hanya Mas Juki, sang sopir kesayangan yang begitu setia menemani sang uskup selama bertahun-tahun melayani di Keuskupan Bogor, yang membantu mengangkat barang.
Hanya dua koper kecil, satu tas, dan tiga kardus kecil. Itulah seluruh harta benda yang dibawa oleh seorang yang selama dua belas tahun memimpin keuskupan dengan wilayah yang membentang dari Cinere hingga Pelabuhan Ratu, dari Jonggol hingga Cianjur.
Dua koper kecil. Bukan brankas berisi emas. Bukan lemari pakaian bermerek. Bukan koleksi jam tangan mewah. Hanya pakaian sehari-hari, buku-buku doa, dan beberapa kenangan dari umat yang ia layani.
Di manakah letak hedonisme yang dituduhkan?
Sarapan Terakhir: Momen Persaudaraan yang Sederhana
Setelah pengemasan selesai, kami menanti beliau sarapan pagi bersama. Hadir beberapa anggota Kuria baru yang dibatalkan oleh intervensi Uskup dari luar Keuskupan: RD Habel, RD Lucius Joko, RD Galih, dan RD Alfons Sombolinggi. Bukan jamuan mewah. Bukan hidangan lima bintang. Sarapan sederhana yang menggambarkan keseharian sang uskup selama ini.
Dalam suasana yang haru, kami berbincang ringan. Mgr. Paskalis tersenyum---senyuman yang memberinya julukan Smiling Bishop---meskipun kami tahu di balik senyum itu tersimpan luka yang dalam. Luka bukan karena kehilangan jabatan, tetapi luka karena tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar, gosip yang menyebar tanpa verifikasi, dan proses yang berlangsung tanpa transparansi.
Namun pagi itu, ia tidak berbicara tentang kekecewaan. Ia berbicara tentang syukur. Syukur atas dua belas tahun pelayanan. Syukur atas umat yang setia. Syukur atas kesempatan untuk terus melayani, meskipun dalam bentuk yang berbeda.
Perjalanan Menuju Kramat Raya: Iringan Penuh Kasih
Setelah sarapan, kami beriringan menuju rumah Provinsialat St. Malaikat Agung OFM Indonesia di Jalan Kramat Raya, Jakarta. Bukan konvoi mobil mewah. Bukan iring-iringan protokoler. Hanya beberapa mobil pribadi umat yang dengan sukarela menemani kepergian sang gembala mereka.
Toyota Innova Merah Ventura yang selama bertahun-tahun setia menemani Mgr. Paskalis dalam kunjungan pastoral ke paroki-paroki di pelosok Keuskupan Bogor---dari perkotaan Depok hingga pedesaan Pelabuhan Ratu---harus dikembalikan ke Keuskupan Bogor. Mobil itu bukan milik pribadi. Ia adalah aset keuskupan yang digunakan untuk pelayanan, dan kini harus diserahkan kembali. Hanya mas Juki yang menjadi saksi hidup keseharian sang uskup ketika menyapa umat Keuskupan Bogor. Tentu Juki mendapat berkat khusus dari sang mantan "majikan" nya itu.
Jika ia seorang hedon, bukankah ia akan berusaha memiliki mobil mewah pribadi? Bukankah ia akan membangun aset properti untuk masa pensiunnya? Bukankah ia akan mengumpulkan kekayaan dari posisi strategisnya selama dua belas tahun? Namun yang kami saksikan adalah sebaliknya: seorang yang kembali ke rumah persaudaraan dengan tangan hampa, hanya membawa dua koper kecil.
Perjalanan menuju Jakarta terasa panjang, tetapi penuh kehangatan. Kami berbagi cerita, berbagi tawa di tengah air mata, dan berbagi doa. Umat DEBORA yang menemani tidak pernah merasakan jarak sosial dengan sang uskup. Ia adalah gembala yang hadir, yang mendengarkan, yang dekat dengan "bau dombanya"---seperti yang sering diingatkan oleh Paus Fransiskus.
Penerimaan Liturgis: Kembali ke Keluarga Fransiskan
Sesampainya di rumah Provinsialat OFM, Mgr. Paskalis diterima secara liturgis oleh para saudara dinanya. Banyak momen haru yang kami lewati. Para frater muda OFM yang sedang menjalani formasi, para imam Fransiskan yang sudah lanjut usia, dan para bruder yang melayani dalam diam---semuanya hadir untuk menyambut kembali salah satu putra Fransiskus yang telah menjalankan tugas episkopalnya.
Suasana persaudaraan dan kesederhanaan sangat terasa. Tidak ada kemewahan. Tidak ada protokol seremonial yang kaku. Yang ada adalah pelukan hangat, salam damai yang tulus, dan doa bersama yang penuh syukur.
Makanan dan minuman yang disediakan, menurut para saudara dina, semuanya dibawa oleh "orang-orang baik"---umat, teman, dan sahabat yang ingin berbagi sukacita menyambut kepulangan Mgr. Paskalis. Bukan katering mewah. Bukan jamuan formal. Hanya makanan sederhana yang dibawa dengan tangan penuh kasih.
Kamar Kecil dengan Dipan Sederhana: Kontras yang Berbicara
Di rumah Provinsialat, Mgr. Paskalis menempati kamar kecil dengan dipan sederhana. Tidak ada lemari berukir. Tidak ada kasur empuk dengan sprei sutra. Tidak ada perabotan mewah. Hanya sebuah kamar sederhana yang jauh berbeda dari kamar uskup di istana keuskupan Bogor.
Kontras ini berbicara lebih keras daripada ribuan kata pembelaan. Jika ia seorang yang terbiasa dengan kemewahan dan hedonisme, bukankah ia akan kesulitan menyesuaikan diri dengan kamar sederhana ini? Bukankah ia akan mengeluh atau meminta fasilitas yang lebih baik? Namun yang kami saksikan adalah seorang yang dengan tenang dan bahkan gembira menerima kesederhanaan ini, karena memang sejak awal ia tidak pernah hidup dalam kemewahan.
Kesederhanaan khas Ordo Fratrum Minorum (OFM) mengajarkan bahwa hidup ini sejatinya harus bermakna bagi sesama. Sebagaimana teladan hidup sang pendiri, Santo Fransiskus Assisi, yang pada suatu titik dalam hidupnya harus melepaskan segala yang ia miliki---bahkan pakaian yang ia kenakan---dan memberikan semuanya kembali kepada ayahnya di hadapan Uskup Assisi, dengan menegaskan: "Mulai sekarang, saya hanya akan berkata: Bapa kami yang di Surga, bukan lagi bapa saya di dunia."
Santo Fransiskus mengajarkan bahwa jabatan, posisi, kehormatan bukanlah sesuatu yang harus dipegang, dijaga, dan dimiliki. Semua itu adalah amanah sementara. Yang abadi adalah kasih kepada Allah dan sesama. Yang kekal adalah pelayanan yang tulus, bukan gelar atau kedudukan.
Mgr. Paskalis, sebagai putra Fransiskus, menghidupi spiritualitas ini. Ia menerima jabatan uskup bukan sebagai tahta yang harus dipertahankan mati-matian, tetapi sebagai pelayanan yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan demi kebaikan yang lebih besar. Dan ketika waktunya tiba untuk melepaskan, ia melepaskan dengan tenang, dengan martabat, dan dengan iman bahwa Bapa yang sejati adalah Bapa di Surga.
Ucapan Terima Kasih dan Permohonan Maaf: Kerendahan Hati Sejati
Sebelum kami pamit, Mgr. Paskalis mendoakan dan memberkati kami. Dalam doanya, ia mengucapkan terima kasih kepada semua umat Keuskupan Bogor yang telah menemaninya selama dua belas tahun. Ia berterima kasih kepada para imam yang telah bekerja sama dengannya, bahkan kepada mereka yang mungkin tidak selalu sepakat dengan kebijakannya. Ia berterima kasih kepada para suster, para guru Katolik, para pengurus dewan pastoral, dan semua umat beriman yang telah mempercayainya.
Dan kemudian, ia memohon maaf. Memohon maaf jika selama menjadi uskup Bogor, kehadirannya merepotkan umat. Memohon maaf jika ada keputusan yang tidak memuaskan semua pihak. Memohon maaf jika ada kata-kata atau tindakan yang menyakiti.
Kerendahan hati ini adalah kerendahan hati sejati. Bukan kerendahan hati pura-pura yang sering kita lihat dalam retorika politik, melainkan kerendahan hati yang lahir dari kesadaran mendalam bahwa ia adalah hamba yang tidak sempurna, yang telah berusaha melakukan yang terbaik tetapi tetap memiliki keterbatasan.
Pemimpin yang sombong tidak akan pernah meminta maaf. Pemimpin yang hedon tidak akan pernah mengucapkan terima kasih kepada orang-orang kecil yang melayaninya. Namun pagi itu, kami menyaksikan seorang pemimpin yang dengan tulus memohon maaf dan mengucapkan terima kasih.
Ulang Tahun Presbiterat ke-35: Kado yang Tidak Terduga
Kembalinya Mgr. Paskalis ke rumah persaudaraan OFM bertepatan dengan ulang tahun presbiterat yang ke-35. Tiga puluh lima tahun sebagai imam. Dua belas tahun di antaranya sebagai uskup. Hari yang seharusnya dirayakan dengan sukacita, kini diwarnai dengan kepergian dari tahta episkopalnya.
Namun bagi seorang Fransiskan sejati, ini bukan tragedi. Ini adalah kembali ke akar. Kembali ke panggilan pertama: menjadi imam, menjadi hamba, menjadi saudara di antara saudara-saudara. Posisi uskup adalah tambahan, bukan esensi. Esensinya adalah imamat---panggilan untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Provinsial OFM Indonesia, Pater Gusti Nggame dalam homilinya berujar "Kami bahagia menyambut Bapa Uskup Paskalis yang telah menjadi misionaris Fransiskan di Keuskupan Bogor. Kami menerimanya kembali ke rumah Persaudaraan OFM dengan penuh sukacita,"
Kami berdoa agar Bapak Uskup Emeritus Paskalis Bruno Syukur, OFM tetap sehat dan bahagia serta tenang melewati hari-hari selanjutnya di medan pelayanan yang baru. Kami yakin bahwa pelayanannya tidak berakhir, hanya berubah bentuk. Dari uskup yang memimpin keuskupan, kini menjadi konfrater yang melayani dalam kesederhanaan dan doa.
Doa yang Kembali ke Pemiliknya
Bagi mereka yang menuduh beliau sebagai uskup yang hedon, kami yang menyaksikan langsung hari ini menolak tuduhan itu dengan tegas. Tuduhan itu tidak berdasar, tidak adil, dan sangat menyakitkan. Jika beliau seorang hedon, ia akan diantar dengan mobil mewah dan didampingi oleh orang-orang yang mendapat benefit dari posisinya sebagai pemimpin tertinggi Gereja lokal Bogor.
Nyatanya, ia kembali dengan dua koper kecil, tiga kardus, dan tangan yang tidak membawa apa-apa selain kenangan indah bersama umat. Ia kembali ke kamar kecil dengan dipan sederhana, bukan ke istana atau vila pribadi. Ia kembali ke persaudaraan, bukan ke kehidupan mewah.
Kami berdoa: semoga doa jahat yang ditujukan kepada beliau kembali kepada pemiliknya. Dalam tradisi iman kita, doa yang tidak berdasar kebenaran tidak akan sampai kepada yang didoakan, melainkan kembali kepada yang mendoakan. Semoga mereka yang menyebarkan gosip dan tuduhan tanpa bukti menyadari kesalahan mereka dan bertobat.
Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup Emeritus Keuskupan Bogor, telah menunjukkan kepada kami hari ini apa artinya menjadi gembala yang baik: bukan yang mempertahankan kekuasaan, tetapi yang rela melepaskan demi kebaikan kawanan. Bukan yang hidup dalam kemewahan, tetapi yang hidup dalam kesederhanaan. Bukan yang membalas dendam, tetapi yang mendoakan bahkan mereka yang menyakitinya.
Selamat ulang tahun presbiterat ke-35, Bapak Uskup. Terima kasih atas teladan hidup. Terima kasih atas dua belas tahun kepemimpinan yang penuh kasih. Selamat datang kembali di rumah persaudaraan OFM. Tuhan memberkati.
Tulisan ini dimuat ulang atas izin penulis dan sebelumnya telah diterbitkan di Kompasiana dengan judul "Sang Uskup yang Dituduh Hedon itu Kembali ke Rumah Persaudaraan OFM"

Posting Komentar