-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Artikel Berita Filsafat Humaniora Pendidikan Reduksi Realitas Menjadi Komoditas: Kritik Ekologis atas Dominasi Neoliberalisme
Artikel Berita Filsafat Humaniora Pendidikan

Reduksi Realitas Menjadi Komoditas: Kritik Ekologis atas Dominasi Neoliberalisme

Katolik terkini
Katolik terkini
27 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Dokumen pribadi dari Ferdinando Yuke Da Cruz

Oleh : Ferdinando Yuke Da Cruz

(Guru SMP Santo Yakobus, Alumni STF Driyarkara dan MHI UPH)

Katolik Terkini - Di zaman sekarang ini, kita mungkin tidak selalu menyadari bahwa cara kita memandang dunia telah dibentuk oleh satu pola pikir dominan, yaitu neoliberalisme. Neoliberalisme tidak selalu hadir sebagai ideologi yang dibicarakan secara terbuka, tetapi bekerja secara halus dalam cara kita menilai sesuatu. Segala sesuatu diukur berdasarkan harga, keuntungan, efisiensi, dan produktivitas. Dunia dipahami dalam kategori untung dan rugi.

Dalam pola pikir seperti ini, nilai (value) perlahan tergeser oleh harga (price). Yang penting bukan lagi apakah sesuatu itu baik, adil, atau bermakna, melainkan apakah sesuatu itu menguntungkan. Hutan dihitung dalam meter kubik kayu. Laut dinilai berdasarkan potensi industri dan pariwisata. Tanah dilihat sebagai aset investasi. Bahkan manusia sering kali dinilai berdasarkan daya saing ekonominya. Inilah wajah neoliberalisme yang paling nyata: reduksi realitas menjadi komoditas.

Salah satu korban paling jelas dari cara pandang ini adalah lingkungan hidup. Dalam logika neoliberal, selama alam dapat menghasilkan keuntungan ekonomi, eksploitasi dianggap dapat dibenarkan. Penebangan hutan dinilai sah jika meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertambangan diterima selama meningkatkan investasi. Pencemaran disebut sebagai “biaya eksternal” yang kerap diabaikan.

Di sinilah krisis ekologis menemukan akarnya: bukan sekadar pada teknologi atau kurangnya regulasi, tetapi pada cara pandang yang menempatkan pasar sebagai hakim terakhir atas nilai kehidupan.

Laudato Si’: Kritik Moral terhadap Dominasi Neoliberal

Pada tahun 2015, Paus Fransiskus menerbitkan ensiklik Laudato Si’. Dokumen ini bukan sekadar ajaran internal Gereja Katolik, melainkan seruan global kepada seluruh umat manusia untuk merawat “rumah bersama” kita. Ensiklik ini secara tegas mengkritik paradigma teknokratis dan logika pasar yang absolut.

Dalam Laudato Si’, Paus Fransiskus menulis: “Bumi, rumah kita, tampak semakin berubah menjadi tumpukan sampah yang sangat luas,” (LS 21). Ia juga menegaskan bahwa krisis ekologis tidak dapat dipisahkan dari krisis sosial. Kemiskinan, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan merupakan bagian dari satu krisis yang sama. Karena itu, Paus Fransiskus memperkenalkan konsep ekologi integral, yaitu cara pandang yang melihat relasi manusia, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Laudato Si’ secara implisit maupun eksplisit menjadi kritik terhadap neoliberalisme. Jika neoliberalisme menekankan akumulasi dan pertumbuhan tanpa batas, Laudato Si’ menegaskan adanya batas moral. Jika neoliberalisme menilai alam berdasarkan harga, Laudato Si’ mengingatkan bahwa alam memiliki martabat sebagai ciptaan Tuhan. 

Dalam salah satu bagian pentingnya, Paus Fransiskus menegaskan: “Segalanya saling terkait,” (LS 91). Pernyataan sederhana ini meruntuhkan logika reduksionis yang memisahkan ekonomi dari etika, pasar dari moralitas, dan manusia dari alam.

Laudato Si’: Dari Dokumen Gereja ke Diskursus Publik

Pada tahap ini, Laudato Si’ bukan hanya dokumen teologis, tetapi juga sebuah diskursus publik. Dokumen ini mengundang percakapan global tentang masa depan bumi. Dalam perspektif filsafat komunikasi, gagasan ini dapat dibaca melalui lensa etika diskursus yang dikembangkan oleh Jürgen Habermas.

Habermas menekankan pentingnya dialog rasional yang bebas dari dominasi untuk menghasilkan kesepakatan bersama demi keadilan sosial.

Dalam konteks ini, Laudato Si’ dapat dipahami sebagai kontribusi Gereja Katolik dalam ruang publik global, sebagai suara moral yang mengajak dunia mendiskusikan kembali arah pembangunan modern.

Gereja tidak hadir sebagai penguasa politik, melainkan sebagai aktor non-negara yang membangun kesadaran etis. Ia menawarkan perspektif bahwa hukum dan kebijakan lingkungan seharusnya lahir dari kesepakatan intersubjektif yang menghormati martabat manusia dan keutuhan ciptaan.

Dengan demikian, Laudato Si’ bukan sekadar dokumen iman, tetapi juga intervensi moral dalam diskursus global tentang pembangunan berkelanjutan.

Level Akar Rumput sebagai Titik Awal Perubahan

Perubahan paradigma tidak cukup berhenti pada wacana global. Ia harus diterjemahkan ke dalam aksi konkret. Paus Fransiskus sendiri menekankan pentingnya “pertobatan ekologis” yang diwujudkan dalam gaya hidup dan tindakan nyata.

Di Indonesia, khususnya di lingkungan Keuskupan Agung Jakarta, semangat ini tercermin dalam Arah Dasar (ARDAS) pastoral dan gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP) yang kerap mengangkat tema solidaritas sosial dan kepedulian ekologis. Spiritualitas tidak berhenti pada doa dan liturgi, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga lingkungan.

Perubahan dari level akar rumput menjadi kunci. Komunitas-komunitas kecil - paroki, sekolah, dan keluarga - menjadi ruang praksis ekologi integral. Oleh karena itu, berikut beberapa studi kasus yang diamati dan dihidupi di Keuskupan Agung Jakarta:

1. Paroki Katedral Jakarta

Paroki Katedral Jakarta menjadi salah satu contoh nyata implementasi Laudato Si’. Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, gereja ini mengembangkan program panel surya sebagai bentuk transisi menuju energi terbarukan. Langkah ini bukan sekadar penghematan listrik, tetapi simbol komitmen terhadap keberlanjutan.

Selain itu, Katedral Jakarta menjalankan program pengelolaan sampah yang mendorong pemilahan dan pengurangan limbah di lingkungan paroki. Tindakan ini sederhana, tetapi sarat makna: gereja memberi teladan bahwa iman harus berdampak pada kebiasaan hidup sehari-hari.

Dalam konteks neoliberalisme, langkah ini menjadi bentuk perlawanan simbolik. Energi dan sampah tidak lagi dipandang semata sebagai komoditas, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral.

2. Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading: Ekologi Integral dalam Komunitas

Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading juga aktif mengimplementasikan semangat Laudato Si’ melalui berbagai aksi ekologis. Paroki ini mengembangkan program bank sampah dan komposting, kampanye pengurangan plastik, serta penghijauan lingkungan gereja.

Program bank sampah mengajarkan umat untuk memilah dan mengelola limbah rumah tangga. Komposting mengubah sampah organik menjadi pupuk yang bermanfaat. Kampanye pengurangan plastik mendorong umat membawa tas dan botol minum sendiri. Penghijauan dilakukan melalui penanaman pohon dan perawatan taman gereja.

Langkah-langkah ini bukan sekadar program lingkungan, melainkan proses pembentukan kesadaran kolektif bahwa bumi bukan objek eksploitasi.

3. Sekolah Santo Yakobus Kelapa Gading: Pendidikan Ekologis

Dari dunia pendidikan, Sekolah Santo Yakobus Kelapa Gading menghadirkan inovasi melalui penggunaan Reverse Vending Machine, yaitu mesin penukar botol plastik. Siswa, guru, karyawan, petugas kebersihan, dan seluruh warga sekolah yang memasukkan botol bekas ke dalam mesin akan memperoleh poin melalui aplikasi Plasticpay di telepon seluler, yang dapat dikumpulkan dan ditukar dengan uang atau insentif tertentu.

Program ini cerdas secara pedagogis karena mengubah perilaku melalui kebiasaan konkret. Anak-anak belajar bahwa sampah memiliki nilai, bukan dalam arti eksploitasi, melainkan dalam kerangka tanggung jawab dan daur ulang. Sekolah menjadi ruang pembentukan “warga negara ekologis”, yaitu individu yang sadar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari identitas kewargaan.

Sebagai warga negara yang baik, umat Katolik tidak hanya dipanggil menjadi pribadi yang saleh, tetapi juga agen perubahan sosial. Partisipasi dalam kebijakan publik lingkungan, advokasi regulasi ramah lingkungan, dan konsumsi etis menjadi wujud konkret iman yang terlibat.

Dari Aksi Lokal Menuju Transformasi Diskursus Publik

Apa yang dilakukan oleh Paroki Katedral Jakarta, Paroki Santo Yakobus Kelapa Gading, dan Sekolah Santo Yakobus Kelapa Gading tidak dapat dipahami sekadar sebagai program teknis atau administratif. Di balik panel surya, bank sampah, komposting, kampanye pengurangan plastik, dan Reverse Vending Machine, terdapat pergeseran cara berpikir yang lebih mendasar.

Aksi-aksi konkret tersebut merupakan bentuk partisipasi nyata dalam ruang publik, di mana komunitas iman tidak hanya berbicara tentang kepedulian ekologis, tetapi menghadirkannya sebagai praktik sosial yang dapat dilihat, ditiru, dan didiskusikan secara terbuka. 

Dengan demikian, gerakan ini melampaui batas internal gereja dan memasuki wilayah diskursus publik tentang masa depan pembangunan dan tanggung jawab bersama terhadap bumi.

Dalam konteks kritik terhadap neoliberalisme, langkah-langkah ini menghadirkan rasionalitas alternatif yang menantang dominasi logika pasar. Jika neoliberalisme menempatkan efisiensi dan keuntungan sebagai ukuran utama rasionalitas, maka praksis ekologi integral membangun rasionalitas komunikatif, rasionalitas yang lahir dari dialog, kesadaran bersama, dan pertimbangan moral.

Studi-studi kasus di atas bukan sekadar cerita inspiratif, melainkan bukti praksis etika diskursus dalam kehidupan sehari-hari. Transformasi paradigma tidak selalu dimulai dari perubahan struktur global, tetapi dari pembentukan kesadaran kolektif dalam komunitas-komunitas kecil yang konsisten.

Kesimpulan

Pada akhirnya, perdebatan tentang neoliberalisme dan krisis ekologis bukan hanya soal teori ekonomi atau kebijakan publik. Ia menyentuh cara paling mendasar manusia memandang dunia: apakah bumi sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi demi keuntungan, atau rumah bersama yang harus dirawat dengan tanggung jawab?

Di sinilah Laudato Si’ menemukan relevansinya. Ensiklik ini bukan hanya kritik moral terhadap dominasi logika pasar, tetapi juga tawaran alternatif cara hidup. Paus Fransiskus mengingatkan: “Bumi, rumah kita, tampak semakin berubah menjadi tumpukan sampah yang sangat luas,” (LS 21). Pernyataan ini menjadi teguran bagi umat manusia yang mengukur kemajuan hanya dengan angka pertumbuhan ekonomi.

Laudato Si’ tidak berhenti pada kritik, tetapi mengajak pada pertobatan ekologis yang konkret. “Segalanya saling terkait,” (LS 91). Jika segalanya saling terkait, maka eksploitasi alam bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan keadilan sosial, martabat manusia, dan masa depan generasi berikutnya.

Ketiga contoh konkret di atas menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan atau forum ekonomi global. Ia bertumbuh dari komunitas kecil yang konsisten; dari paroki, sekolah, dan kebiasaan sehari-hari. Secara analitis, langkah-langkah tersebut menghadirkan tiga kontribusi nyata bagi pembangunan berkelanjutan: kontribusi struktural, kultural, dan edukatif.

Dalam konteks ini, Gereja Katolik berperan sebagai aktor non-negara yang memberi fondasi etis dalam ruang publik. Ia tidak menggantikan negara, tetapi memperkaya diskursus demokratis tentang keadilan ekologis. Jika gerakan semacam ini terus diperluas dan direplikasi, maka perlawanan terhadap dominasi logika untung-rugi tidak lagi berhenti pada wacana. Ia akan menjadi budaya, lalu kebiasaan, dan akhirnya arah peradaban.

Karena pada akhirnya, bumi membutuhkan lebih banyak tanggung jawab, bukan eksploitasi.

Via Artikel
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Reduksi Realitas Menjadi Komoditas: Kritik Ekologis atas Dominasi Neoliberalisme

Katolik terkini- Februari 26, 2026 0
Reduksi Realitas Menjadi Komoditas: Kritik Ekologis atas Dominasi Neoliberalisme
Dokumen pribadi dari  Ferdinando Yuke Da Cruz Oleh : Ferdinando Yuke Da Cruz (Guru SMP Santo Yakobus, Alumni STF Driyarkara dan MHI UPH) Katolik Terkini - Di z…

Most Popular

Antara Tuduhan dan Fakta: Catatan Seorang Pelayan Paroki tentang Mgr Paskalis

Antara Tuduhan dan Fakta: Catatan Seorang Pelayan Paroki tentang Mgr Paskalis

Februari 23, 2026
Prapaskah, Sirkulasi Elite Agama, dan Teladan Kepemimpinan

Prapaskah, Sirkulasi Elite Agama, dan Teladan Kepemimpinan

Februari 23, 2026
Kisah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang Ditawari Studi ke Roma oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM

Kisah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang Ditawari Studi ke Roma oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM

Februari 16, 2026
Monako hingga Madrid Bersiap Sambut Kunjungan Bersejarah Paus Leo XIV

Monako hingga Madrid Bersiap Sambut Kunjungan Bersejarah Paus Leo XIV

Februari 25, 2026

Editor Post

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026
Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025

Popular Post

Antara Tuduhan dan Fakta: Catatan Seorang Pelayan Paroki tentang Mgr Paskalis

Antara Tuduhan dan Fakta: Catatan Seorang Pelayan Paroki tentang Mgr Paskalis

Februari 23, 2026
Prapaskah, Sirkulasi Elite Agama, dan Teladan Kepemimpinan

Prapaskah, Sirkulasi Elite Agama, dan Teladan Kepemimpinan

Februari 23, 2026
Kisah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang Ditawari Studi ke Roma oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM

Kisah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang Ditawari Studi ke Roma oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM

Februari 16, 2026
Monako hingga Madrid Bersiap Sambut Kunjungan Bersejarah Paus Leo XIV

Monako hingga Madrid Bersiap Sambut Kunjungan Bersejarah Paus Leo XIV

Februari 25, 2026

Populart Categoris

  • Berita811
  • Cerpen7
  • Doa78
  • Film17
  • Filsafat9
  • Internasional341
  • Jelajah113
  • Lifestyle193
  • Nasional112
  • Pelayanan Sosial113
  • Puisi2
  • Refleksi332
  • Sosok301
  • Teologi68
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini