Berita
Daerah
Nasional
75 Tahun Mengabdi, OCI Perkuat Reksa Pastoral dan Nasionalisme Prajurit TNI-Polri di Maluku
AMBON, MALUKU, Katolik Terkini – Wakil Uskup Militer (TNI-Polri), Pastor Kolonel (Sus) Yos Bintoro Pr, menggelar pertemuan silaturahmi penuh kekeluargaan bersama Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Katolik Keuskupan Amboina di Kota Ambon, Maluku, Kamis (28/5/2026).
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), dan Paguyuban Wartawan Katolik Maluku. Turut mendampingi, Ketua Komisi Kerasulan Awam (KERAWAM) Keuskupan Amboina Pastor Lucky Kelwulan Pr, serta Pastor TNI-Polri Keuskupan Amboina RD Angky Kandunmas Pr.
Selain mempererat sinergisitas, kunjungan pastoral Pastor Kolonel (Sus) Yos Bintoro Pr ke Ambon kali ini bertujuan untuk menemui anggota Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) sebutan untuk Keuskupan Militer Indonesia—serta memaparkan sejarah panjang reksa pastoral militer Katolik, baik di tingkat global maupun nasional.
Mengenal Keuskupan Militer: Fokus Pelayanan Kategorial
Dalam paparannya, Pastor Kolonel Yos Bintoro menjelaskan bahwa berbeda dengan keuskupan geografis pada umumnya, Keuskupan Militer (Ordinariat Militer) merupakan keuskupan kategorial. Fokus utamanya adalah memberikan pelayanan rohani, bimbingan moral, dan spiritual bagi para prajurit yang bertugas di lingkungan militer beserta keluarga mereka.
"Gereja Katolik memahami kebutuhan spesifik ini dan memberikan tanggapan dengan mengutus Pastor khusus untuk mendampingi para tentara di medan tugas," ujar Pastor Kolonel Yos Bintoro.
Secara global, kehadiran Vikariat Militer dunia diawali oleh Decretum Paus Benediktus XV pada 24 November 1917. Hingga saat ini, terdapat 36 Vikariat Militer di seluruh dunia. Di Asia, hanya ada tiga negara yang memilikinya, yaitu Indonesia (25 Desember 1949), Filipina (21 Juli 1950), dan Korea Selatan (23 Oktober 1989).
Sejarah OCI: Jembatan Kemerdekaan dan Berdirinya Keuskupan Militer RI
Sejarah OCI di Indonesia tidak lepas dari dinamika pasca-proklamasi. Pada 3 November 1949, Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX membentuk unit pelayanan rohani di Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) untuk memperkuat mental prajurit. Merespons langkah strategis tersebut, Takhta Suci Vatikan mendirikan Vikariat Castrensis Indonesia pada 25 Desember 1949 melalui SK No. 102/50.
Mgr. Albertus Soegijapranata SJ diangkat sebagai Uskup Militer pertama di Indonesia. Tokoh Pahlawan Nasional yang terkenal dengan semboyan "100 Persen Indonesia, 100 Persen Katolik" ini memiliki andil besar dalam diplomasi internasional. Pada 18 Januari 1947, ia menyurati Paus Pius XII agar Vatikan mengakui kemerdekaan RI. Hasilnya, pada 6 Juli 1947, Vatikan menjadi negara Eropa pertama yang memberikan pengakuan resmi atas kemerdekaan Indonesia.
Estafet kepemimpinan militer kemudian dilanjutkan oleh Mgr. Justinus Darmojuwono sebagai Vikaris Militer kedua pada tahun 1962. Pada era Julius Rijali Kardinal Darmaatmadja SJ selaku Uskup Militer ketiga, status Vikariat resmi berubah menjadi Ordinariat Militer Indonesia (Ordinariatus Castrensis Indonesia/OCI) berdasarkan Konstitusi Apostolik Paus Yohanes Paulus II (21 April 1986). Keberadaan OCI juga diperkokoh oleh Pemerintah RI melalui SK Kementerian Agama Nomor 276.
Keberlanjutan di Bawah Penggembalaan Ignatius Kardinal Suharyo
Saat ini, tongkat estafet kepemimpinan OCI berada di bawah penggembalaan Ignatius Kardinal Suharyo. Dikenal dengan kepemimpinan yang sederhana dan partisipatif, Kardinal Suharyo aktif membangun dialog antaragama serta memperkuat kehadiran pastoral hingga ke daerah-daerah. Ia telah mengunjungi hampir seluruh Kodam dan Polda di Indonesia untuk memperkenalkan OCI. Khusus di Maluku, kehadiran OCI di Keuskupan Amboina resmi dibentuk saat kunjungan Kardinal Suharyo pada Agustus 2024 lalu.
Menutup rangkaian silaturahmi di Ambon, Pastor Kolonel (Sus) Yos Bintoro Pr turut memperkenalkan buku karya OCI yang menandai 75 tahun pengabdian keuskupan militer di tanah air, yang berjudul “Setia pada Iman Teguh Dalam Tugas”. Buku ini menjadi rekam jejak sekaligus bukti nyata bagaimana prajurit Katolik terus didorong untuk menjaga profesionalisme tugas negara tanpa menggoyahkan iman kekristenan mereka. Proficiat!
Via
Berita



Posting Komentar