Napak Tilas ke SDK Ranggu I, Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM Mengenang Sekolah sebagai “Medan Kegembiraan”
![]() |
| Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM foto bersama dengan siswa-siswi SDK Ranggu 1, Manggarai Barat |
Sekolah sederhana itu bukan sekadar tempat belajar membaca dan menulis bagi Mgr. Paskalis kecil. Di tempat itulah ia menimba nilai-nilai kehidupan selama enam tahun masa kanak-kanaknya. Ketika kembali berdiri di halaman sekolah itu, kenangan demi kenangan seakan hidup kembali.
“Kembali teringat guru-guru kami dahulu yang mengajarkan berbagai nilai kehidupan. Nilai-nilai itu diajarkan begitu cair melalui proses belajar-mengajar dan relasi antara guru dan murid,” kenangnya saat dihubungi Katolik Terkini, pada Selasa (16/5/2026).
Bagi Mgr. Paskalis, sekolah pada masa itu bukan hanya ruang akademik. Sekolah adalah tempat di mana anak-anak belajar menemukan sukacita hidup. Bahkan, istilah “istirahat” yang umum dipakai sekarang memiliki makna berbeda pada zamannya.
“Istilah untuk saat ‘istirahat’ setelah dua pelajaran pertama disebut ‘bersenang’, bukan istirahat seperti istilah sekarang ini,” tuturnya sambil tersenyum.
Kata “bersenang” itu sederhana, tetapi menyimpan filosofi mendalam tentang pendidikan. Sekolah dipandang bukan sebagai ruang yang menekan, melainkan tempat anak-anak bertumbuh dengan gembira, bebas, dan penuh rasa persaudaraan.
Mgr. Paskalis mengenang bagaimana sekolah menjadi medan untuk belajar bernyanyi bersama, mengolah rasa seni, sekaligus membangun relasi kemanusiaan sejak dini. Dalam pandangannya, pendidikan sejati tidak hanya membentuk kecerdasan pikiran, tetapi juga membentuk hati.
“Sekolah menjadi medan ‘incontro’ atau perjumpaan antar sesama manusia sejak dini,” katanya, sambil mengaitkan pengalaman itu dengan gagasan yang sering ditekankan Paus Fransiskus melalui gerakan Scholas Occurrentes.
Kehadiran Mgr. Paskalis di SDK Ranggu I disambut hangat para guru dan siswa-siswi. Tidak ada jarak yang kaku. Ia berdialog dengan anak-anak, menanyakan nama mereka, berasal dari kampung mana, bahkan memastikan apakah mereka sudah makan atau belum.
Percakapan-percakapan sederhana itu justru menghadirkan suasana hangat yang memperlihatkan wajah pendidikan yang manusiawi, pendidikan yang peduli pada kehidupan anak secara utuh.
Menurutnya, SDK Ranggu I menjadi representasi sekolah-sekolah desa yang tetap setia membentuk manusia secara menyeluruh; sehat pikiran, budi, hati, dan karya.
“Sekolah mesti menjadi tempat menyiapkan generasi muda agar siap bertarung membangun kemandirian hidup,” tegasnya.
Di akhir kunjungannya, Mgr. Paskalis menyampaikan penghargaan mendalam kepada para guru yang terus mengabdikan diri, terutama mereka yang mengajar di daerah-daerah.
“Selamat berjuang bagi para guru di SDK Ranggu I dan semua orang yang berprofesi guru di seantero Indonesia,” ucapnya.
Napak tilas itu akhirnya bukan hanya perjalanan mengenang masa lalu. Lebih dari itu, kunjungan tersebut mengegaskan bahwa sekolah yang baik bukan hanya melahirkan murid yang pintar, tetapi juga manusia yang penuh sukacita, peduli, dan siap menghidupi nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.(AD)

Posting Komentar