Duka Kemanusiaan di Altar St. Yoseph Palembang: Melepas Kepergian Ibu Christina, Pendidik Setia dan Saksi Iman
![]() |
| Dra Christina S (X) semasa masih hidup berfoto brsama tim bunga hias altar Paroki St Yoseph Palembang |
Setelah 13 hari hilangnya Dra Christina diduga
dirampok,sejak (14/1/2026), akhirnya
pada Selasa, (27/1/2026) ditemukan di wilayah Tanjung Lago Banyuasin sudah menjadi jenazah. Setelah dioutopsi di RS
Bhayangkara Palembang jenazah Dra Christina di semayamkan di Rumah duka
Charitas Hospital dan dilaksanakan misa requem di Gereja St Yoseph Palembang
yang dipimpin oleh Mgr Yohanes Harun
Yuwono Uskup Agung Palembang, didampingi RD Yohanes Kristianto Vikjen KAPal, RD Hyginus Gono Pratowo Romo Paroki St Yoseph Palembang, serta
romo-romo konselebran lainnya.
Dra Christina S (80), Seorang ibu Bhayangkari, dan juga
pendidik di Yayasan Xaverius Palembang, setelah pensiun di tahun 2008 aktif
menggereja, setiap pagi senantiasa mengikuti ibadah/misa pagi, aktif dalam kelompok
kategorial warakawuri Paroki St Yoseph Palembang, kelompok Simeon, Team hias
altar gereja dan kegiatan lainnya di Paroki.
Saat menjadi Guru selalu jadi perhatian para mantan muridnya.
Dra Christina atau yang biasa disapa Bu Kristin atau Mami ini, merupakan guru
mata pelajaran matematika. Istri pensiunan perwira Polri itu pernah mengajar di
SMP Xaverius 2 Palembang, SMA Xaverius 3
Palembang, dan SMA Xaverius 1 Palembang.
Kepergian Ibu Christina atau yang akrab disapa
Mami oleh para muridnya memang meninggalkan luka mendalam. Setelah 13 hari
pencarian penuh doa, ia ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di wilayah Tanjung
Lago. Secara manusiawi, peristiwa ini menyulut amarah; seorang lansia yang
renta menjadi korban kekejaman. Namun, dalam iman Katolik, peristiwa ini dibawa
ke dalam refleksi yang lebih tinggi oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono.
![]() |
| Mgr Yohanes HarunYuwono Uskup Keuskupan Agung Palembang saat mendupai peti jenazah almahumah Dra Christina S |
Saksi Iman yang Setia hingga Akhir
Bagi umat Paroki St. Yoseph,
Ibu Christina bukan sekadar jemaat. Ia adalah saksi hidup dari rutinitas yang
suci. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar tinggi, ia selalu hadir dalam
Misa pagi. Tangannya yang terampil kerap menyentuh altar sebagai tim penghias,
memastikan rumah Tuhan selalu cantik bagi sesama. Di masa purnatugasnya, ia
memilih menjadi "pelayan kecil" di berbagai kelompok kategorial
seperti Warakawuri dan Kelompok Simeon.
Tragedi yang menimpanya saat
dalam perjalanan untuk berobat menjadi sebuah "Jalan Salib" pribadi
baginya. Namun, Mgr. Harun dalam khotbahnya mengingatkan bahwa duka ini adalah
duka kemanusiaan.
"Kehidupan adalah
milik Allah. Mereka yang merampas nyawa sesama sesungguhnya sedang memusuhi
Sang Pencipta. Namun, sebagai anak-anak Allah, kita tidak diajarkan untuk
menyimpan bara dendam," ungkap Mgr.
Harun dengan suara bergetar.
![]() |
| Mgr Yohanes Harun Yuwono memberikan homilinya pada misa requem ibu Dra Christina S di Paroki St Yoseph Palembang |
Ajaran Kasih: "Pipi
Kiri dan Pipi Kanan"
Dalam duka yang menyesakkan,
Gereja mengajak umat untuk tidak membalas kegelapan dengan kegelapan. Mengutip
ajaran Yesus tentang pengampunan, Mgr. Harun menekankan bahwa sesakit apa pun
luka yang digoreskan oleh para pelaku, umat Kristiani dipanggil untuk menjadi
pembawa damai.
"Jika ditampar pipi
kirimu, berilah pipi kananmu. Ampunilah, karena Allah kita adalah Maha
Rahim," pesan sang Uskup. Ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan
iman yang percaya bahwa keadilan Tuhan akan bekerja melewati batas nalar manusia.
![]() |
| Mgr Yohanes harun Yuwono berFoto bersama keluarga besar ibu Dra Christina S |
Warisan Ilmu dan Doa
Bagi ribuan alumni SMA Xaverius 3 Palembang, Ibu
Christina adalah sosok guru matematika yang mengajarkan ketegasan sekaligus
kasih. Kini, "Mami" tidak lagi berdiri di depan kelas atau menghias
altar. Ia telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.
Keluarga besar Polri mengingat
beliau adalah istri dari mendiang pensiunan Polri dan umat gereja telah
memberikan penghormatan terakhir melalui Doa Rosario yang tak putus-putus di
Taman Maria Bunda Hati Kudus Yesus.
Ibu Christina mungkin pergi
dalam jalan yang tragis di mata dunia, namun bagi orang beriman, ia pulang
dalam dekapan kasih Tuhan yang ia sembah setiap pagi di gereja.




Posting Komentar