Berita
Daerah
Refleksi
Festival Bumi Sano Nggoang Warnai Perayaan HUT ke-60 Paroki St. Mikael Nunang
Labuan Bajo, Katolik Terkini — Enam puluh tahun perjalanan iman umat Paroki St. Mikael Nunang, Keuskupan Labuan Bajo, dirayakan dengan cara yang berbeda. Selain melalui perayaan liturgi, momentum enam dekade perjalanan paroki tua tersebut dikemas dalam Festival Bumi Sano Nggoang yang memadukan iman, budaya, ekonomi umat, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Perayaan HUT ke-60 Paroki St. Mikael Nunang berlangsung pada 3–7 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan tersebut melibatkan umat dari empat stasi yang berada dalam wilayah paroki, yakni Stasi Nisar, Stasi Naga, Stasi Bokak Rangga, dan Stasi Metangga.
Kondisi geografis yang tidak mudah, bahkan membuat sejumlah wilayah stasi hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki, tidak menyurutkan antusiasme umat. Mereka hadir untuk merayakan perjalanan iman sekaligus mempererat persaudaraan sebagai satu komunitas.
Perayaan enam dekade tersebut semakin istimewa karena dirangkaikan dengan penerimaan Sakramen Krisma serta pelantikan Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan Paroki (DKP).
Seluruh rangkaian kemudian dikemas dalam Festival Bumi Sano Nggoang dengan tema “Merawat Kearifan Lokal: Budaya, Ekonomi, Ekologi untuk Keutuhan Ciptaan.”
Festival ini tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya dan promosi ekonomi umat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi cara umat mengungkapkan syukur atas perjalanan iman selama enam puluh tahun sekaligus menghadirkan iman dalam kehidupan sehari-hari.
Merajut Iman, Budaya, Ekonomi, dan Ekologi
Ketua Panitia Festival Bumi Sano Nggoang, Yosef Erwin Rahmat, saat membuka festival pada 3 Oktober 2026, mengatakan bahwa festival tersebut menjadi sarana untuk mempererat keakraban dan persaudaraan seluruh umat di wilayah Paroki St. Mikael Nunang.
Menurutnya, iman tidak dapat dipisahkan dari kehidupan ekonomi, budaya, maupun ekologi.
“Festival Bumi Sano Nggoang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran iman umat yang membingkai kehidupan ekonomi, budaya, dan ekologi sebagai satu kesatuan yang mesti dilestarikan. Dalam hal ini, iman tidak dipisahkan dari pergumulan hidup harian umat,” ungkapnya.
Pastor Paroki St. Mikael Nunang, Rm. Lery Jempau, menyampaikan hal senada. Ia menjelaskan bahwa gagasan festival lahir dari kesadaran bahwa budaya, ekonomi, dan ekologi merupakan bagian integral dari kehidupan umat sekaligus kehidupan menggereja.
“Dalam pertemuan bersama pengurus DPP dan tokoh umat, kami sepakat untuk mengemas perayaan HUT ke-60 paroki dengan sesuatu yang berbeda, yang mengungkapkan rasa syukur dalam aspek budaya, ekonomi, dan ekologi,” jelasnya.
Bagi Rm. Lery, festival merupakan ekspresi iman umat atas kasih dan penyertaan Tuhan selama enam puluh tahun perjalanan Paroki Nunang.
“Seluruh umat sangat antusias dan mendukung kegiatan ini. Kami mau mengangkat kekayaan paroki ini, tidak hanya dari keindahan alamnya, tetapi juga kearifan lokalnya dalam merawat persaudaraan dan keutuhan ciptaan,” katanya.
Dengan semangat tersebut, Festival Bumi Sano Nggoang menjadi ruang perjumpaan antara iman dan kehidupan, tradisi dan masa depan, serta manusia dan alam sebagai rumah bersama.
Uskup Labuan Bajo: Banyak Cerita Luar Biasa Muncul dari Pinggiran
Apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Bumi Sano Nggoang disampaikan Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus.
Menurutnya, inisiatif umat Paroki Nunang memperlihatkan bahwa perayaan iman dapat menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kekayaan lokal sekaligus membangun kesadaran mengenai tanggung jawab bersama terhadap keutuhan ciptaan.
“Kita kadang merasa sebagai orang pinggiran. Namun, justru banyak cerita yang luar biasa yang muncul dari pinggiran,” kata Mgr. Maksimus.
Ia menilai cerita-cerita dari wilayah pinggiran dapat menjadi kekuatan yang turut mengubah alur cerita besar, terutama ketika kehidupan manusia dan alam menghadapi berbagai ancaman.
Karena itu, Uskup Labuan Bajo memberikan apresiasi terhadap Festival Bumi Sano Nggoang yang dinilainya sedang membangun narasi tentang kebersamaan, kearifan lokal, dan penghargaan terhadap keutuhan ciptaan.
Festival tersebut menghadirkan berbagai kegiatan spiritual, ekologis, budaya, pameran UMKM, serta pelatihan yang diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan umat.
258 Orang Terima Sakramen Krisma
Pesan mengenai panggilan umat untuk merawat kehidupan Gereja disampaikan Mgr. Maksimus dalam Perayaan Ekaristi Syukur HUT ke-60 Paroki St. Mikael Nunang pada 4 Oktober 2026.
Perayaan tersebut sekaligus menjadi momentum penerimaan Sakramen Krisma dan pelantikan DPP-DKP.
Dalam homilinya, Mgr. Maksimus mengajak umat memandang perjalanan enam puluh tahun Paroki Nunang sebagai sebuah perjalanan bersama dalam “kebun anggur Tuhan.”
Ia menjelaskan bahwa Paroki Nunang merupakan kebun anggur yang telah ditanami Tuhan dengan kasih dan kebaikan-Nya. Kebersamaan umat, kekayaan budaya, keindahan alam, dan berbagai pengalaman perjalanan iman selama enam dekade merupakan anugerah yang patut disyukuri.
Umat juga diajak menyadari penyertaan Tuhan yang terus hadir dalam perjalanan hidup mereka. Karena itu, seluruh kehidupan hendaknya diarahkan kepada Tuhan sebagai sumber kasih dan damai sejahtera.
Pada saat yang sama, setiap umat dipanggil untuk ikut merawat “kebun anggur Tuhan” melalui panggilan dan tanggung jawab masing-masing.
Sebanyak 258 orang menerima Sakramen Krisma dalam perayaan tersebut. Mereka dipandang sebagai pribadi-pribadi yang dipanggil dan diutus untuk mengambil bagian dalam mengusahakan kebun anggur Tuhan.
Panggilan pelayanan yang sama juga ditujukan kepada anggota DPP-DKP, pengurus wilayah, stasi, dan Kelompok Basis Gerejani (KBG). Tugas pelayanan mereka menjadi bagian dari upaya bersama untuk merawat kehidupan Gereja di Paroki Nunang.
“Kita berharap paroki ini terus bertumbuh sebagai kebun anggur yang baik dan menghasilkan buah-buah kasih yang mendatangkan kebaikan dan keselamatan bagi banyak orang,” pesan Mgr. Maksimus.
Dari Pameran UMKM hingga Doa untuk Ibu Bumi
Semangat perayaan HUT ke-60 tidak berhenti pada perayaan Ekaristi. Hingga 7 Oktober 2026, umat terus terlibat dalam berbagai kegiatan Festival Bumi Sano Nggoang.
Pameran hasil ekonomi umat dari setiap KBG dan stasi menjadi salah satu bagian penting festival. Berbagai potensi lokal ditampilkan sekaligus menjadi ruang bagi umat untuk memperkenalkan dan mengembangkan produk ekonomi mereka.
Festival juga menghadirkan pementasan seni budaya, termasuk tarian caci yang dibawakan para tua-tua, komunitas seni, dan sekolah.
Di bidang ekologis, kegiatan diisi dengan seminar mengenai ekologi dan ekonomi berkelanjutan, ritual di sumber mata air, serta Doa Rosario Akbar untuk keselamatan Ibu Bumi yang dilaksanakan setiap hari.
Seluruh rangkaian festival akan ditutup pada 7 Oktober 2026 melalui Perayaan Ekaristi Penutupan yang sekaligus menjadi pesta peringatan Santa Perawan Maria Ratu Rosario.
Merawat Iman, Merawat Kehidupan
Festival Bumi Sano Nggoang menjadi bagian dari refleksi umat Paroki St. Mikael Nunang atas perjalanan iman selama enam puluh tahun.
Perayaan tersebut menunjukkan bahwa kehidupan Gereja tidak hanya berlangsung di dalam gedung-gedung ibadah. Gereja juga hadir dalam kebudayaan, perjuangan ekonomi keluarga, persaudaraan umat, serta tanggung jawab menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Enam puluh tahun Paroki St. Mikael Nunang bukan sekadar penanda perjalanan waktu. Enam dekade menjadi kisah tentang iman yang bertumbuh, persaudaraan yang dirawat, budaya yang diwariskan, alam yang dijaga, dan umat yang terus dipanggil untuk menghasilkan buah-buah kasih bagi kehidupan.
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo
Via
Berita


Posting Komentar