Berita
Film
Humaniora
Inspirasi
Nasional
Lebih dari Film Horor, Kuasa Gelap Ajak Penonton Kembali kepada Tuhan
PONTIANAK, Katolik Terkini — Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, tidak hanya menghadirkan kisah eksorsisme dan pertarungan melawan kuasa kegelapan. Di balik cerita tersebut, film ini membawa refleksi tentang iman, kerendahan hati, keluarga, pilihan hidup, serta ajakan untuk kembali kepada Tuhan.
Pesan tersebut mengemuka dalam pertemuan para pemain dan tim pendamping film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah bersama civitas akademika Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo Kampus II Pontianak, Sabtu, (26/9/2026).
Pertemuan yang berlangsung di Aula Lantai 4 Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo itu menghadirkan Romo Robini Marianto, OP, Romo Rocky Marciano Wowor, MSC, serta sejumlah pemain film, di antaranya Keysha Angelica, Sisca Saras, dan Feby Febiola.
Pertemuan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara dunia perfilman dan pengalaman iman. Para pemain berbagi pengalaman selama menjalani proses produksi, sementara para imam yang mendampingi film memberikan refleksi mengenai iman, kuasa Tuhan, kerendahan hati, serta tanggung jawab para pemain sebagai figur publik.
Iman dan Akal Budi
Romo Robini Marianto, OP, dalam sambutannya mengawali refleksi dengan membahas hubungan antara iman dan akal budi.
Menurutnya, universitas, terutama universitas Katolik, tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam pendidikan akademik, tetapi juga menghadirkan karya nyata bagi masyarakat.
Ia mengatakan, kurangnya pengetahuan dapat menjadi salah satu bentuk kesesatan. Karena itu, universitas memiliki peran penting dalam melawan kebodohan melalui pendidikan.
“Kunci Fides et Ratio, iman dan akal budi, menjadi penting dalam sebuah universitas Katolik,” kata Romo Robini.
Refleksi tersebut kemudian ia hubungkan dengan keterlibatan para pemain dalam Kuasa Gelap. Menurutnya, ketika seseorang dikenal masyarakat melalui sebuah karya, ada tanggung jawab untuk menjaga nilai yang dibawa melalui karya tersebut.
“Kalian sekarang menjadi modal iman. Maka, kalian harus benar-benar bisa menghidupi standar yang sudah dikenal masyarakat sebagai modal iman,” ujarnya.
Romo Robini berharap para pemain dapat mempertahankan identitas tersebut sebagai bagian dari kesaksian iman. Masyarakat, menurutnya, tidak hanya akan melihat mereka sebagai pemain film, tetapi juga sebagai pribadi yang membawa pesan melalui karya dan kehidupan.
“You are the saints who will inspire them,” katanya kepada para pemain.
Keysha dan Pengalaman Mendoakan Daniel
Salah satu pengalaman yang menarik disampaikan Keysha Angelica. Ia mengungkapkan bahwa adegan yang paling sulit dilupakan adalah ketika harus mendoakan Daniel, tokoh yang mengalami kerasukan dalam film.
Keysha mengatakan dirinya beragama Muslim. Karena itu, ketika harus memainkan adegan doa dalam konteks cerita Katolik, ia perlu mempelajari doa yang digunakan.
“Kalau adegan yang tidak akan aku lupakan, Romo, kebetulan aku kan Muslim. Menurut aku, adegan yang paling tidak akan aku lupakan adalah saat aku mendoakan Daniel,” kata Keysha.
Ia mengaku tidak mengetahui doa yang harus digunakan dalam adegan tersebut. Beruntung, ia mendapat bantuan dari Romo Rocky.
“Aku kan tidak tahu doanya seperti apa. Untungnya ada Romo Rocky yang membantu aku,” ujarnya.
Romo Rocky Marciano Wowor, MSC, kemudian menceritakan proses pemilihan doa tersebut. Saat berada di lokasi syuting, sutradara meminta bantuan untuk menemukan doa yang singkat tetapi kuat secara dramatik.
“Romo, saya butuh satu doa. Jangan panjang, tetapi powerful,” demikian permintaan sutradara yang diceritakan kembali Romo Rocky.
Ia kemudian teringat refleksi Romo Robini mengenai Rosario, khususnya doa Salam Maria. Bagian kedua doa tersebut kemudian digunakan dalam adegan.
“Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati. Amin,” demikian doa yang dilakonkan dalam film, sebagaimana dijelaskan Romo Rocky.
Pengalaman Keysha menunjukkan sisi lain proses produksi film tersebut. Di balik kebutuhan akting, terdapat proses belajar memahami doa, karakter, dan konteks keagamaan yang menjadi bagian dari cerita.
Sisca: Film sebagai Pewartaan
Pengalaman berbeda disampaikan Sisca Saras yang memerankan Suster Aloysia muda.
Sisca mengatakan keterlibatannya dalam Kuasa Gelap menjadi pengalaman berkesan sejak tahap awal, mulai dari pertemuan dengan para imam, seminar, proses mempelajari eksorsisme, reading, hingga syuting.
Ia mengaku menyukai film bertema eksorsisme. Namun, selama ini film dengan tema tersebut lebih banyak mengambil latar Barat atau luar negeri. Karena itu, kesempatan bermain dalam film eksorsisme dengan latar Indonesia menjadi pengalaman yang membuatnya senang dan bersyukur.
Sebagai seorang Katolik, Sisca juga merasa proses mendalami karakter Suster Aloysia membuatnya semakin memahami iman yang selama ini dijalaninya.
Ketika membaca skrip, dialog, dan ayat-ayat yang digunakan dalam film, ia merasa semakin diteguhkan mengenai kekuatan iman.
“Film ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi kita juga mewartakan Tuhan,” kata Sisca.
Menurutnya, pengalaman tersebut membuatnya semakin menyadari bahwa apa pun yang dilakukan manusia, pada akhirnya kuasa Tuhanlah yang berlaku.
“Pada akhirnya kuasa Tuhanlah yang berlaku,” ujarnya.
Feby: Iman yang Tetap Diucapkan dalam Ketakutan
Pengalaman emosional juga dirasakan Feby Febiola yang memerankan Linda, ibu Daniel.
Feby menceritakan salah satu adegan yang paling membekas baginya, yakni ketika Daniel menjalani proses eksorsisme dan Linda harus berdoa.
Dalam skenario, adegan tersebut awalnya hanya dituliskan sebagai adegan “berdoa”. Dalam proses produksi kemudian muncul arahan agar Linda mengucapkan doa Aku Percaya.
Feby yang beragama Kristen mengatakan bahwa dalam tradisi Kristen terdapat Pengakuan Iman Rasuli. Karena itu, ia sempat harus mengingat kembali susunan doa tersebut dan beberapa kali mengalami kesalahan dalam pengucapannya.
Namun, tantangan terbesar bukan sekadar mengingat teks doa. Ia harus menghadirkan ketakutan seorang ibu yang anaknya sedang mengalami kerasukan dan menjalani eksorsisme dalam kondisi berat.
“Di tengah ketakutannya, dia tetap mengatakan, ‘Aku percaya.’ Itu yang paling berkesan buat saya,” kata Feby.
Bagi Feby, doa tersebut justru menjadi lebih bermakna karena diucapkan dalam keadaan takut. Linda tidak berdoa dalam situasi tenang, melainkan ketika anaknya berada dalam kondisi yang sangat berat.
Karena itu, kata “Aku percaya” menjadi titik penting dalam karakter Linda: iman tetap diucapkan ketika ketakutan hadir.
“Manusia Itu Lemah”
Bagi Feby, pengalaman iman dalam film bahkan telah dimulai sejak pertama kali membaca skenario.
Ia melihat cerita Kuasa Gelap bukan hanya sebagai kisah tentang eksorsisme, tetapi juga kisah manusia yang dapat mengambil keputusan salah dan menjauh dari Tuhan.
“Manusia itu lemah, tetapi kuasa Tuhan selalu mengejar kita,” kata Feby.
Menurutnya, manusia dapat lebih mempercayai ego sendiri atau mengambil keputusan yang salah sehingga menjauh dari Tuhan. Namun, ia meyakini Tuhan tetap hadir dan memberikan kesempatan untuk kembali.
“Tuhan selalu mengejar kita,” ujarnya.
Romo Rocky: “Be Humble”
Bagi Romo Rocky, salah satu refleksi penting dari keseluruhan proses film adalah kerendahan hati.
Menurutnya, dunia hiburan menawarkan banyak hal yang menarik dan menggoda. Karena itu, manusia perlu tetap menyadari siapa dirinya dan dari mana kekuatan sejati berasal.
“Be humble,” tegas Romo Rocky.
Kerendahan hati, menurutnya, penting karena manusia tidak boleh menganggap kekuatan berasal sepenuhnya dari dirinya sendiri.
Ia kemudian menghubungkan refleksi tersebut dengan pelayanan eksorsisme. Menurutnya, baik orang yang mengalami kerasukan maupun seorang eksorsis sama-sama berbicara mengenai proses “pengosongan diri”.
Perbedaannya, orang yang kerasukan membuka ruang bagi kuasa lain, sedangkan seorang eksorsis perlu mengosongkan diri agar Tuhan dapat bekerja melalui dirinya.
“Yang membedakan manusia dengan iblis adalah kerendahan hati, karena iblis tidak rendah hati,” katanya.
Pengalaman Romo Robini dalam Pelayanan Eksorsisme
Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa bertanya kepada Romo Robini mengenai pengalaman eksorsisme yang paling berkesan selama menjalankan pelayanan tersebut.
Romo Robini tidak memilih kisah dramatis atau pengalaman aneh. Baginya, pengalaman paling berkesan justru berkaitan dengan kesadaran mengenai arti imamat yang diterimanya.
“Saya tidak menyangka bahwa imamat yang saya terima mempunyai arti sebesar yang saya bayangkan,” katanya.
Ia mengaku tidak pernah mendapatkan pelatihan khusus untuk menjadi eksorsis. Bahkan, sebelumnya ia tidak pernah membayangkan akan menjalankan pelayanan tersebut.
Romo Robini mengatakan dirinya pernah memperoleh pendidikan di bidang biologi dan pernah dikirim ke Mesir untuk belajar mengenai Islam. Dalam perjalanan berikutnya, ia bertemu dengan Romo Andre dan menjalani proses pendampingan serta diskusi yang kemudian membawanya pada pelayanan doa bagi orang-orang yang datang meminta pertolongan.
Dalam pengalaman tersebut, ia sampai pada satu keyakinan mendasar.
“Whatever you can say, whatever people can say, God is alive. Tuhan itu hidup,” kata Romo Robini.
Menurutnya, pengalaman pelayanan tersebut justru memperlihatkan bahwa Tuhan bekerja melampaui kemampuan dirinya maupun orang-orang yang dilayaninya.
Ia juga mengaku bukan orang yang berani. Bahkan, ia menyebut dirinya sebagai orang yang penakut. Namun, dari pengalaman tersebut ia menemukan bahwa kekuatan tidak berasal dari keberanian manusia.
“Saya penakut, saya tahu itu. Justru dari situlah saya akhirnya sadar bahwa kekuatan itu bukan berasal dari manusia, tetapi dari Tuhan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami makna imamat.
Film sebagai Ruang Belajar Lintas Iman
Dalam sesi tanya jawab lainnya, peserta bertanya mengenai alasan seorang pemain tertarik terlibat dalam Kuasa Gelap meskipun cerita film tersebut berangkat dari tradisi agama yang berbeda.
Salah satu pembicara mengatakan film dapat menjadi ruang pembelajaran untuk memahami pengalaman agama lain. Perbedaan latar agama, menurutnya, tidak harus menjadi penghalang untuk menikmati atau mempelajari sebuah karya.
“Tidak ada halangan bagi kita untuk menerima atau menikmati sebuah film, walaupun ceritanya berasal dari luar agama kita. Justru menurut aku, itu bisa menjadi sebuah pelajaran,” katanya.
Melalui film, seseorang dapat mengenal praktik dan pengalaman agama lain yang sebelumnya belum diketahui.
Dalam kesempatan yang sama, pembicara lain mengatakan kejahatan tidak selalu harus dipahami dalam bentuk visual seperti yang biasa ditampilkan dalam film horor. Hal-hal negatif juga dapat muncul dari dalam diri manusia dan berkembang melalui tindakan.
“Setan atau kejahatan itu tidak selalu berwujud seperti yang kita lihat secara visual. Bisa jadi, hal-hal negatif justru muncul dari dalam diri kita sendiri dan berkembang melalui tindakan-tindakan kita,” katanya.
Jangan Menutup Mata terhadap Tuhan
Ketika ditanya mengenai pesan moral film bagi masyarakat secara umum, salah satu pembicara menekankan besarnya kuasa Tuhan.
Ia menggunakan analogi dua jari yang dapat menutup pandangan seseorang terhadap seluruh ruangan. Menurutnya, sesuatu yang kecil dapat membuat manusia tidak melihat sesuatu yang jauh lebih besar ketika mata ditutup.
“Jadi, jangan sampai kita menutup mata terhadap kuasa Tuhan,” katanya.
Pesan tersebut kemudian dihubungkan dengan berbagai persoalan kehidupan, mulai dari ekonomi, pekerjaan, sosial, lingkungan, hingga persoalan yang terjadi di sekitar masyarakat.
Manusia diingatkan agar tidak mengambil jalan pintas dan tidak membiarkan berbagai tindakan negatif menjadi pintu masuk bagi “kuasa kegelapan” dalam kehidupan sehari-hari.
“Di balik semua yang terjadi, kuasa Tuhan jauh lebih besar daripada apa pun,” ujarnya.
“Berdoalah dalam Segala Sesuatu”
Ketika ditanya mengenai nilai yang dapat dibawa pulang penonton setelah menyaksikan film, Sisca mengatakan film tersebut diharapkan tidak hanya menjadi hiburan.
Menurutnya, para pemain dan tim produksi berharap film dapat menjadi sarana pewartaan sekaligus menguatkan iman penonton.
“Semoga hal-hal yang baik dari film ini bisa diambil. Kuasa terang diterima dan dihidupi, sementara kuasa gelap dijauhi,” kata Sisca.
Sementara itu, seorang pemain menyampaikan pesan yang lebih sederhana.
“Berdoalah dalam segala sesuatu, karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita,” katanya.
Tuhan Tidak Pernah Terlambat
Romo Rocky mengatakan setiap penonton mungkin menemukan pesan yang berbeda ketika menyaksikan film tersebut. Hal itu karena film menghadirkan berbagai karakter dan pergumulan manusia, mulai dari imam, keluarga, suami, istri, anak, hingga seorang suster.
Namun, jika harus memilih satu nilai yang hendak ditekankan, ia kembali menyebut kerendahan hati.
“Be humble,” kata Romo Rocky.
Selain kerendahan hati, ia menekankan kebaikan Tuhan. Menurutnya, Tuhan tidak pernah terlambat menyambut manusia yang ingin kembali.
“Tuhan itu begitu baik. Bagi Tuhan, tidak pernah ada kata terlambat bagi manusia,” ujarnya.
Romo Rocky kemudian mengingat perkataan Santo Agustinus yang menjadi refleksi penutupnya.
“Jangan sampai kita terlambat mencintai Tuhan,” katanya.
Menurutnya, apabila setelah menonton film seseorang merasa selama ini terlalu jauh atau terlambat dalam mencintai Tuhan, justru saat itulah kesempatan untuk kembali terbuka.
“Saatnya kita mencintai Tuhan yang menciptakan, menjaga, dan menyertai kita,” ujarnya.
Menjadi Teladan Iman
Di penghujung pertemuan, Romo Robini kembali memberikan pesan khusus kepada para pemain.
Ia mengingatkan bahwa keterlibatan mereka dalam film dapat menjadi bagian dari perjalanan dan panggilan hidup. Ia mengaitkannya dengan gagasan Divine Providence atau penyelenggaraan ilahi.
Mengutip Roma 8:28, Romo Robini mengatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.
“Kalian bermain dalam film ini bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Ada rencana ilahi. Ada Divine Providence,” katanya.
Ia kemudian meminta para pemain menjadi teladan yang baik bagi masyarakat.
“Be the model of faith for them. Jadilah teladan iman bagi mereka,” pesan Romo Robini.
Menurutnya, masyarakat yang melihat mereka melalui film tidak seharusnya hanya melihat pemain film. Mereka juga diharapkan melihat kesaksian yang dibawa melalui kehidupan para pemain.
Karena itu, popularitas dan ruang publik yang dimiliki para pemain dapat menjadi bagian dari medan pelayanan mereka.
Bagi Romo Robini, keterlibatan dalam film bukan hanya tentang jumlah orang yang menonton, tetapi juga tentang bagaimana para pemain menggunakan ruang tersebut untuk menjadi teladan.
“Now, you are the saints in your field,” katanya kepada para pemain.
Lebih dari Sekadar Film Horor
Pertemuan di Pontianak tersebut memperlihatkan sisi lain dari Kuasa Gelap: Perjanjian Darah. Film yang mengangkat tema eksorsisme itu tidak hanya berbicara mengenai ketakutan dan kuasa kegelapan, tetapi juga mengangkat pergumulan manusia ketika berhadapan dengan kelemahan, ketakutan, keluarga, pilihan hidup, dan iman.
Keysha menemukan pengalaman belajar ketika harus mendoakan Daniel. Sisca melihat film sebagai ruang pewartaan dan penguatan iman. Feby menemukan makna iman dalam doa yang diucapkan di tengah ketakutan. Sementara Romo Rocky dan Romo Robini mengajak para pemain serta penonton melihat keterbatasan manusia dan menyadari bahwa kekuatan sejati berasal dari Tuhan.
Pada akhirnya, pesan yang muncul dari perjumpaan tersebut bukan semata-mata bagaimana menghadapi kuasa kegelapan, melainkan bagaimana manusia memilih untuk tetap membuka diri kepada kuasa Tuhan.
Kerendahan hati, doa, iman, dan keberanian untuk kembali kepada Tuhan menjadi benang merah yang menghubungkan pengalaman para pemain dan refleksi para imam.
Road show Kuasa Gelap: Perjanjian Darah di Pontianak pun ditutup dengan pesan Romo Rocky yang sederhana sekaligus reflektif: manusia tidak perlu menunggu sampai terlambat untuk kembali mencintai Tuhan.
Via
Berita



Posting Komentar