Berita
Daerah
Humaniora
Inspirasi
Keuskupan Labuan Bajo Luncurkan Aplikasi Jurnal Keuangan Paroki, Perkuat Transparansi dan Kemandirian Ekonomi Umat
LABUAN BAJO, Katolik Terkini – Keuskupan Labuan Bajo meluncurkan Aplikasi Jurnal Keuangan Paroki sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola keuangan Gereja yang profesional, transparan, dan akuntabel. Peluncuran ini menjadi puncak kegiatan Penguatan Manajemen Usaha Ekonomi dan Pelatihan Aplikasi Jurnal Keuangan Paroki yang berlangsung pada 25–26 Oktober 2026 di Rumah Spiritualitas St. Yohanes Maria Vianey Unio Keuskupan Labuan Bajo.
Kegiatan yang difasilitasi oleh tim BINUS University-Malang tersebut diikuti para pastor paroki dan bendahara dari 27 paroki se-Keuskupan Labuan Bajo. Selain memperkenalkan sistem pencatatan keuangan berbasis digital, kegiatan ini juga bertujuan mendorong pengelolaan aset Gereja secara produktif guna mendukung karya pastoral dan meningkatkan kesejahteraan umat.
Dalam sambutan pembukaan, Vikjen Keuskupan Labuan Bajo, Rm. Rikard, menegaskan bahwa aset Gereja merupakan warisan sekaligus kepercayaan yang harus dikelola secara bijaksana dan bertanggung jawab.
Menurutnya, pengelolaan aset tidak cukup hanya berorientasi pada pemeliharaan, tetapi juga perlu diarahkan pada pengembangan potensi ekonomi yang mampu menopang keberlangsungan pelayanan Gereja.
Ia menekankan bahwa tata kelola keuangan yang baik membutuhkan partisipasi aktif, komitmen bersama, serta dukungan sistem yang memadai. Karena itu, kerja sama dengan BINUS University dalam pengembangan aplikasi keuangan khusus bagi Keuskupan Labuan Bajo dinilai sebagai langkah penting menuju pengelolaan keuangan yang semakin terintegrasi.
Rm. Rikard juga menyoroti perlunya ketersediaan perangkat Android bagi sekretaris dan bendahara paroki agar penerapan sistem digital dapat berjalan secara konsisten.
Aplikasi Digital Permudah Pencatatan dan Pemantauan Keuangan
Pelatihan penggunaan aplikasi berbasis Android didampingi oleh tim BINUS University, yakni Adit dan Gusti, dengan menghadirkan Rober Herman sebagai salah satu narasumber.
Melalui aplikasi tersebut, setiap paroki dapat melakukan pencatatan transaksi dan memantau perkembangan keuangan secara real time. Sistem ini menyediakan akun khusus bagi masing-masing paroki, mendukung integrasi data, serta memungkinkan pencatatan transaksi dalam kondisi luring atau offline.
Penerapan aplikasi diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pencatatan berbasis kertas sekaligus mempermudah akses terhadap informasi keuangan. Tim keuangan keuskupan pun dapat memantau perkembangan pengelolaan keuangan paroki dengan lebih mudah.
Dalam pemaparannya, Rober Herman menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi bertujuan menyederhanakan pekerjaan administratif agar para pelayan Gereja dapat menggunakan waktu dan tenaga secara lebih efektif.
Ia juga menegaskan komitmen BINUS University untuk terus mendampingi Keuskupan Labuan Bajo dalam membangun sistem tata kelola keuangan yang profesional, transparan, dan akuntabel.
Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari pelatihan pengelolaan keuangan paroki yang telah dilaksanakan pada April 2026.
Dorong Usaha Ekonomi Berbasis Potensi Lokal
Selain pembenahan administrasi keuangan, kegiatan ini memberikan perhatian khusus pada pengembangan usaha ekonomi paroki. Febby Chandra, pengelola inkubator bisnis BINUS University, mengajak para peserta melihat peluang usaha melalui pemanfaatan sumber daya yang telah tersedia.
Ia menekankan bahwa pengembangan usaha tidak selalu bergantung pada besarnya modal finansial. Kemampuan membaca peluang, membangun kolaborasi, dan mengoptimalkan potensi lokal justru menjadi faktor penting dalam membangun usaha yang berkelanjutan.
Dalam diskusi, para peserta menyoroti kekompakan, kolaborasi, dan kerja keras sebagai bentuk modal sosial yang dimiliki Gereja. Modal tersebut dapat menjadi fondasi untuk merancang usaha yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing paroki.
Para peserta juga diperkenalkan pada pendekatan ecosystem mapping dan business model canvas untuk memetakan ekosistem serta menyusun model bisnis. Melalui pendekatan ini, paroki diajak mengidentifikasi para pemangku kepentingan, sumber daya yang tersedia, aliran nilai ekonomi, serta kesenjangan yang perlu diatasi.
Sejumlah sektor potensial yang dapat dikembangkan meliputi pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan perencanaan yang tepat, aset Gereja diharapkan tidak hanya terpelihara, tetapi juga menjadi sumber daya produktif yang mendukung keberlangsungan karya pastoral dan pemberdayaan ekonomi umat.
Uskup Labuan Bajo: Kejujuran Menjadi Fondasi Pengelolaan Keuangan
Puncak kegiatan ditandai dengan peluncuran Aplikasi Jurnal Keuangan Paroki oleh Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, disaksikan Kuria Keuskupan, para pastor paroki, dan bendahara paroki.
Dalam sambutannya, Uskup mengapresiasi pelatihan tersebut sebagai momentum untuk memperbarui sistem pengelolaan aset dan keuangan Gereja demi memperkuat pelayanan pastoral.
Mgr. Maksimus mengingatkan bahwa pengelolaan sumber daya untuk kepentingan bersama telah menjadi bagian dari kehidupan Gereja sejak zaman para rasul. Ia juga mengangkat kisah penggandaan roti oleh Yesus sebagai inspirasi tentang pentingnya mengelola sumber daya secara baik untuk memenuhi kebutuhan banyak orang.
Dalam konteks pengelolaan keuangan paroki, ia menegaskan bahwa integritas dan kejujuran merupakan kualitas mendasar yang harus dimiliki para pelayan Gereja.
“Kadang kepercayaan datang lebih dahulu daripada pengawasan. Karena itu, kita membutuhkan bendahara yang jujur, bukan sekadar bendahara yang pintar. Sistem dan aplikasi ini dimaksudkan untuk membantu kita menjaga kepercayaan tersebut,” tegasnya.
Menurut Uskup, penerapan aplikasi keuangan merupakan langkah progresif untuk membangun tata kelola yang terintegrasi, transparan, modern, dan mudah diakses. Namun, keberhasilan pembenahan tersebut tidak semata-mata diukur dari besarnya dana yang dikelola, melainkan dari tanggung jawab dan kemampuan mempertanggungjawabkan setiap sumber daya yang dipercayakan.
Ia menegaskan bahwa teknologi harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter, integritas, dan kesadaran bahwa seluruh aset Gereja diperuntukkan bagi pelayanan dan kesejahteraan umat.
Pada kesempatan tersebut, Mgr. Maksimus juga menyampaikan terima kasih kepada BINUS University atas kerja sama dan kesediaannya mendampingi Keuskupan Labuan Bajo dalam memperkuat fondasi tata kelola keuangan Gereja.
Menuju Gereja yang Sinodal, Solid, dan Solider
Peluncuran Aplikasi Jurnal Keuangan Paroki menandai langkah baru Keuskupan Labuan Bajo dalam membangun sistem pencatatan keuangan yang terintegrasi. Inisiatif ini sekaligus memperkuat upaya pengembangan aset dan usaha ekonomi paroki sebagai bagian dari pelayanan Gereja yang berkelanjutan.
Meski demikian, keberhasilan penerapan sistem tersebut tidak hanya bergantung pada teknologi. Konsistensi penggunaan aplikasi, komitmen para pastor dan bendahara, serta budaya kejujuran dan tanggung jawab menjadi faktor penting dalam memastikan sistem berjalan efektif.
Pembenahan tata kelola keuangan dan pengembangan potensi ekonomi pada akhirnya bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Keduanya merupakan sarana untuk memastikan sumber daya Gereja dikelola secara bertanggung jawab, aset menjadi semakin produktif, dan pelayanan pastoral semakin berdampak bagi kehidupan umat.
Melalui langkah ini, Keuskupan Labuan Bajo meneguhkan komitmennya untuk membangun Gereja yang sinodal, solid, dan solider: Gereja yang berjalan bersama, mengelola sumber daya dengan penuh tanggung jawab, serta menghadirkan pelayanan nyata bagi umat dan masyarakat.(AD)
Sumber Komsos Keuskupan Labuan Bajo
Via
Berita

Posting Komentar