Berita
Nasional
Pendidikan
Refleksi
MGMP PAKat Jakarta Selatan Gelar Rekoleksi, Ajak Guru Menebar Kasih dan Merawat Panggilan
JAKARTA SELATAN, Katolik Terkini - Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik (MGMP PAKat) tingkat menengah se-Jakarta Selatan menggelar rekoleksi dan refleksi bersama dengan tema “Menjadi Guru yang Menghidupkan: Menebar Kasih dan Merawat Panggilan” di Aula SMA Pangudi Luhur, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 hingga 17.00 WIB ini diikuti para guru Pendidikan Agama Katolik tingkat SMA/SMK se-Jakarta Selatan serta pegawai Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Katolik. Hadir dalam kegiatan tersebut Pengawas Pendidikan Agama Katolik, Barnabas Siswanto, M.Pd.; Penyelenggara, Victor Halomoan Habeahan, S.Ag., M.M.; serta Pembimas Katolik, Antonius Sinaga, S.S., M.M.
Rekoleksi dibawakan oleh RD Benedictus Rahawarin yang mengajak para guru mendalami kembali makna panggilan sebagai pendidik yang menghadirkan kasih dan kehidupan bagi peserta didik, dengan menjadikan Yesus Kristus sebagai Guru Utama.
Dalam materinya, RD Benedictus menegaskan bahwa Yesus tidak hanya mengajarkan kehidupan melalui kata-kata, tetapi juga menyentuh dan mengubah kehidupan manusia secara nyata. Karena itu, menjadi guru bukan sekadar menjalankan profesi, melainkan panggilan yang harus terus dirawat dan diperbarui.
Ia juga mengajak para guru untuk menerapkan ketegasan yang tetap menghargai martabat peserta didik. Guru perlu bersikap tegas terhadap perilaku yang tidak tepat, tetapi tetap menerima dan menghormati anak sebagai pribadi yang berharga.
Usai sesi rekoleksi, para guru mengikuti refleksi dan sharing dalam kelompok. Mereka mendiskusikan berbagai tantangan dalam proses pembelajaran, berbagi pengalaman, serta merumuskan solusi dan komitmen bersama untuk diterapkan dalam tugas pelayanan di sekolah masing-masing.
Guru Dipanggil Menghidupkan Iman dan Menebarkan Kasih
Dalam sambutannya, Pengawas Pendidikan Agama Katolik, Barnabas Siswanto, M.Pd., menekankan tiga aspek utama dalam panggilan seorang guru, yakni menghidupkan iman, menebarkan kasih Kristus, dan merawat panggilan hidup.
Pertama, guru dipanggil untuk menjadi pribadi yang menghidupkan iman peserta didik. Tugas guru tidak berhenti pada penyampaian materi melalui kata-kata, tetapi juga menghadirkan iman dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah perkembangan teknologi dan berbagai tantangan zaman. Hal ini sejalan dengan sabda Yesus dalam Injil Yohanes 10:10 bahwa Ia datang agar manusia mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Kedua, guru dipanggil untuk menebarkan kasih Kristus. Di tengah dunia yang penuh persaingan dan tantangan, guru diharapkan mampu menghadirkan kasih melalui kesabaran, kesediaan mendengarkan, dan sikap yang tidak mudah menghakimi. Senyuman tulus dan sapaan hangat dari seorang guru, menurutnya, dapat memberikan makna mendalam bagi kehidupan peserta didik.
Ketiga, guru perlu terus merawat panggilannya. Bapak Barnabas mengibaratkan panggilan menjadi guru seperti tanaman yang harus disiram dan dipelihara agar tidak layu. Kesadaran, semangat, dan penyegaran diri secara berkelanjutan diperlukan agar guru tetap memiliki kepedulian dan keramahan dalam mendampingi peserta didik.
Sementara itu, Penyelenggara Katolik, Victor Halomoan Habeahan, S.Ag., M.M., mengajak para guru Pendidikan Agama Katolik agar tidak membatasi penerapan ajaran kasih hanya di lingkungan sekolah. Menurutnya, nilai-nilai kasih perlu dihadirkan dan dihidupi di tengah masyarakat melalui perilaku serta kesaksian hidup para guru dan peserta didik.
“Kita semua yang telah dipanggil menjadi guru Pendidikan Agama Katolik, khususnya di tingkat menengah, menghadirkan ajaran itu di tengah masyarakat, tidak harus di sekolah saja. Maka, kurikulum cinta itu boleh disosialisasikan, bahkan dihidupkan supaya anak-anak didik kita di mana pun mereka berada hidup dengan cinta, bukan dengan benci,” ungkap bapak Victor.
Ia berharap pendidikan berbasis kasih dapat membantu peserta didik bertumbuh dalam iman dan nilai-nilai moral, sehingga mampu membangun kehidupan yang dilandasi cinta kasih, bukan permusuhan.
Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan keterlibatan para guru dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani secara konsisten, baik melalui pembelajaran di kelas maupun melalui keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil Refleksi Diharapkan Menjadi Langkah Nyata
Pembimas Katolik, bapak Antonius Sinaga, S.S., M.M., dalam sambutannya menegaskan bahwa rekoleksi dan sharing bersama tidak boleh berhenti sebagai kegiatan reflektif semata. Kegiatan tersebut diharapkan menghasilkan dampak nyata bagi para guru dalam menjalankan panggilan dan tanggung jawab pendidikan.
Ia menyampaikan rencana untuk menghimpun hasil refleksi para guru ke dalam sebuah buku yang memuat berbagai tantangan dalam pelaksanaan tugas serta langkah-langkah konkret yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
“Kemarin Pak Barnabas melaporkan, kami akan mengubah tulisan, menjadikan satu buku refleksi bersama tentang apa saja tantangan dan langkah-langkah konkret yang akan diterapkan di sekolah masing-masing,” tegasnya.
Rencana tersebut diharapkan menjadi sarana dokumentasi sekaligus bahan pembelajaran bersama bagi para guru untuk terus memperbarui semangat pelayanan dan meningkatkan kualitas pendampingan terhadap peserta didik.
Ditutup dengan Perayaan Ekaristi
Rangkaian kegiatan rekoleksi dan refleksi bersama ditutup dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD Petrus Serin.
Dalam homilinya, RD Petrus Serin mengajak para guru untuk menjadi pribadi yang bijaksana dalam bertutur kata serta mampu menegur tanpa merendahkan orang lain. Menurutnya, keteladanan seorang guru tidak hanya tampak dari pengetahuan yang disampaikan, tetapi juga dari cara berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama.
Ia juga mengajukan dua pertanyaan reflektif kepada para guru: apakah mereka sudah menjadi guru yang sempurna dan apakah mereka telah mampu melaksanakan apa yang dikehendaki Tuhan dalam kehidupan serta tugas pelayanan mereka.
Pertanyaan tersebut menjadi ajakan bagi para guru untuk terus melakukan evaluasi diri, memperbarui komitmen, dan menjalankan panggilan sebagai pendidik dengan penuh tanggung jawab.
Kegiatan MGMP PAKat tingkat menengah se-Jakarta Selatan ini diakhiri dengan foto bersama. Melalui rekoleksi dan refleksi tersebut, para guru diharapkan semakin diteguhkan untuk menjadi pendidik yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menghidupkan iman, menebarkan kasih, dan merawat panggilan demi pertumbuhan peserta didik secara utuh.(AD)
Via
Berita




Posting Komentar