-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Artikel Berita Inspirasi Internasional Sosok Wafat di Usia 108 Tahun, Kisah Pastor Benedict Chao Mengajarkan Arti Kesetiaan
Artikel Berita Inspirasi Internasional Sosok

Wafat di Usia 108 Tahun, Kisah Pastor Benedict Chao Mengajarkan Arti Kesetiaan

Katolik terkini
Katolik terkini
13 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Katolik Terkini - Ada orang yang dikenang karena apa yang mereka capai. Ada pula orang yang dikenang karena apa yang mereka tetap lakukan ketika segala sesuatu direnggut dari mereka. Pastor Benedict Chao termasuk yang kedua.

Ia wafat pada 31 Juli 2026 di usia 108 tahun, di Abbey of Our Lady of Joy, Pulau Lantau, Hong Kong. Selama 79 tahun ia menjalani hidup sebagai biarawan dan selama 77 tahun sebagai imam. Namun panjangnya usia bukanlah hal paling mengesankan dari kisahnya.

Yang membuat hidupnya begitu berarti adalah kesetiaannya melewati badai sejarah.

Ia pernah kehilangan rumah. Ia pernah mengalami penganiayaan. Ia pernah terusir dari tanah airnya. Tetapi ia tidak kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu arah hidupnya. Dan di situlah kisahnya menjadi relevan bagi kita.

Tidak semua kehilangan berarti akhir


Benedict Chao lahir pada 1918 di Chengting, Hebei, Tiongkok. Pada usia 23 tahun, ia masuk Biara Our Lady of Joy. Pada 1947 ia mengucapkan kaul kekal, dan dua tahun kemudian ditahbiskan menjadi imam.

Namun justru pada masa ketika ia mengikrarkan kesetiaan seumur hidup, dunia di sekitarnya sedang berubah secara brutal.

Komunitas-komunitas Trappist di Tiongkok mengalami penganiayaan. Biara diserang, para biarawan disiksa, dan sebagian dari mereka dibunuh. Komunitas Chao sendiri akhirnya tidak dapat bertahan di tengah tekanan tersebut. Chao terpaksa meninggalkan Tiongkok.

Bayangkan situasinya. Seseorang telah memilih sebuah tempat untuk menghabiskan hidupnya. Ia telah mengucapkan janji. Ia telah membangun komunitas. Lalu tiba-tiba semuanya harus ditinggalkan.

Bagi banyak orang, keadaan seperti itu mungkin terasa seperti kehancuran. Tetapi hidup Benedict Chao menunjukkan satu hal penting, yaitu kehilangan sebuah tempat tidak selalu berarti kehilangan panggilan.

Kadang-kadang kehidupan memaksa kita meninggalkan sesuatu yang sangat kita cintai. Rumah, pekerjaan, rencana, lingkungan, bahkan impian.

Tetapi selama kita masih tahu untuk apa kita hidup, kita masih dapat memulai kembali.

Ketika jalan hidup berubah, kesetiaan tetap bisa dipertahankan


Setelah terusir dari Tiongkok, Chao pergi ke Kanada dan bergabung dengan komunitas Trappist di Manitoba.

Para biarawan yang berada dalam pengasingan itu kemudian mempelajari berbagai keterampilan praktis, termasuk pekerjaan peternakan dan produksi susu, keju, serta mentega. Keterampilan itu kelak berguna ketika mereka membangun kehidupan baru di Hong Kong.

Ada pelajaran sederhana tetapi mendalam di sini. Kita tidak selalu dapat memilih keadaan yang datang kepada kita. Tetapi kita masih dapat memilih bagaimana menghadapinya.

Pengasingan tidak membuat Chao berhenti hidup. Kehilangan tidak membuatnya menyerah. Ia belajar. Ia bekerja. Ia menyesuaikan diri. Dan ia terus berjalan.

Sering kali kita mengira kesetiaan berarti tetap berada di tempat yang sama. Padahal tidak selalu demikian.

Kadang-kadang kesetiaan justru berarti tetap membawa nilai dan panggilan yang sama meskipun tempat kehidupan kita berubah.

Pada 1950-an, para Trappist yang terusir mulai membangun kembali komunitas mereka di Hong Kong.

Dengan dukungan Uskup Enrico Valtorta, mereka memperoleh sebidang tanah di kawasan perbukitan Pulau Lantau. Delapan orang biarawan kemudian membangun biara baru dengan tangan mereka sendiri. Biara itu diresmikan pada 1956.

Delapan orang. Bukan pasukan besar. Bukan kelompok dengan sumber daya berlimpah.

Hanya sekelompok kecil yang pernah kehilangan rumah dan sekarang berani membangun kembali. Bukankah kehidupan kita juga sering seperti itu?

Kita mungkin pernah merasa bahwa sesuatu telah hancur terlalu parah untuk diperbaiki. Sebuah keluarga yang retak. Sebuah usaha yang gagal. Sebuah cita-cita yang tidak tercapai. Sebuah kesempatan yang hilang. Sebuah masa lalu yang tidak dapat diulang.

Tetapi kisah para Trappist di Hong Kong mengingatkan kita bahwa memulai kembali tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Kadang-kadang cukup dengan beberapa orang. Kadang-kadang cukup dengan satu keputusan. Kadang-kadang cukup dengan berkata kepada diri sendiri, "Saya belum selesai."

Kesabaran yang bekerja dalam keheningan


Kehidupan seorang Trappist mungkin tampak jauh dari kehidupan modern. Tidak ada panggung besar. Tidak ada sorotan. Tidak ada ambisi untuk menjadi terkenal. Hidup mereka berakar pada doa, keheningan, kerja, dan kehidupan bersama.

Namun justru dalam keheningan itulah ketahanan dibentuk. 

Benedict Chao hidup selama puluhan tahun tanpa mengetahui seperti apa dunia akan berubah. Ia tidak dapat meramalkan apakah komunitasnya akan bertahan. Ia tidak tahu apakah biara yang mereka bangun kembali akan terus ada.

Ia hanya menjalankan apa yang harus dilakukan hari itu. Berdoa. Bekerja. Melayani. Bertahan. Besok melakukan hal yang sama. Dan lusa mengulanginya lagi.

Mungkin inilah salah satu rahasia ketekunan yang sering kita lupakan. Kita tidak harus menyelesaikan seluruh hidup kita hari ini. Kita hanya perlu setia pada langkah yang ada di depan kita.

Hidup lebih panjang daripada masa-masa sulit


Benedict Chao hidup selama 108 tahun. Artinya, masa penganiayaan yang pernah dialaminya bukanlah keseluruhan hidupnya.

Itu hanya salah satu bab. Ada masa sebelum penderitaan. Ada masa ketika ia harus pergi. Ada masa ketika ia membangun kembali. Ada puluhan tahun kehidupan dalam komunitas. Ada doa, pekerjaan, persahabatan, dan pelayanan. Dan akhirnya ada usia tua yang panjang.

Pelajaran ini sangat penting bagi kita. Ketika sedang mengalami kesulitan, kita mudah menganggap bahwa masa sulit adalah seluruh kehidupan kita.

Padahal tidak. Kesedihan adalah sebuah bab, bukan seluruh buku. Kegagalan adalah sebuah bab, bukan seluruh buku. Kehilangan adalah sebuah bab, bukan seluruh buku. 

Bahkan penderitaan yang berlangsung bertahun-tahun tetap bukan keseluruhan cerita. Kita belum tahu halaman berikutnya.

Yang bertahan bukan hanya sebuah biara


Dengan wafatnya Benedict Chao, berakhirlah generasi terakhir Trappist yang secara langsung mengalami penganiayaan terhadap komunitas mereka di Tiongkok pada masa Mao. Namun biara yang mereka bangun kembali di Lantau tetap berdiri.

Di sinilah makna warisan menjadi sangat indah. Warisan tidak selalu berupa buku. Tidak selalu berupa uang. Tidak selalu berupa nama besar.

Kadang-kadang warisan adalah sesuatu yang kita bangun sehingga orang lain dapat melanjutkannya.

Para biarawan itu kehilangan biara lama mereka. Tetapi mereka membangun yang baru. Mereka kehilangan tanah air. Tetapi mereka tidak kehilangan komunitas.

Mereka kehilangan keamanan. Tetapi mereka tidak kehilangan harapan.

Dan seorang anak muda bernama Benedict Chao yang masuk biara pada usia 23 tahun akhirnya hidup cukup lama untuk melihat apa yang dibangun kembali itu bertahan hingga masa tuanya.

Kesetiaan tidak selalu terlihat heroik


Kita sering membayangkan orang yang hebat sebagai seseorang yang melakukan sesuatu yang luar biasa.

Namun kehidupan Benedict Chao menawarkan definisi yang berbeda. Mungkin kepahlawanan terbesar bukan selalu melakukan sesuatu yang spektakuler.

Kadang-kadang kepahlawanan adalah tidak berhenti melakukan yang benar ketika tidak ada yang melihat.

Tetap berdoa ketika doa terasa sunyi. Tetap bekerja ketika hasil belum terlihat. Tetap mengasihi ketika hidup mengecewakan.

Tetap memulai ketika kita pernah gagal. Tetap setia ketika keadaan berubah. Itulah jenis keberanian yang tidak selalu masuk berita.

Tetapi justru keberanian seperti itulah yang sering membangun kehidupan yang kokoh.

Benedict Chao tidak mungkin mengetahui pada 1941 bahwa ia akan hidup hingga usia 108 tahun.

Ia juga tidak mungkin mengetahui bahwa biara yang ditinggalkannya di Tiongkok suatu hari akan memiliki sejarah panjang, atau bahwa komunitas mereka akan dibangun kembali di Hong Kong.

Ia hanya tahu langkah berikutnya. Dan mungkin itu cukup. Kita pun demikian.

Kita tidak perlu mengetahui bagaimana seluruh hidup kita akan berakhir.

Kita tidak perlu mengetahui apakah semua perjuangan kita akan langsung menghasilkan sesuatu. Kita tidak perlu memiliki semua jawaban. 

Yang diperlukan adalah keberanian untuk melakukan langkah yang benar hari ini. Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi.

Pada akhirnya, yang penting adalah kesetiaan


Benedict Chao pergi meninggalkan dunia setelah 108 tahun kehidupan. Namun kisahnya menyampaikan pesan yang jauh lebih panjang daripada usianya, bahwa hidup tidak selalu memberi kita jalan yang mudah. Tetapi kita tetap dapat memilih untuk berjalan dengan setia.

Ia kehilangan tanah air, tetapi tidak kehilangan panggilan. Ia kehilangan biara, tetapi tidak kehilangan komunitas.

Ia mengalami penganiayaan, tetapi tidak membiarkan penderitaan menentukan seluruh hidupnya.

Ia harus memulai kembali, dan ia melakukannya. Mungkin itulah yang paling kita butuhkan ketika hidup terasa berat.

Bukan kepastian bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Melainkan keyakinan bahwa kita masih dapat melangkah meskipun rencana kita telah berubah.

Sebab pada akhirnya, kehidupan yang bermakna bukanlah kehidupan tanpa badai.

Kehidupan yang bermakna adalah kehidupan seseorang yang, setelah diterpa badai, tetap memilih untuk membangun kembali.

Dan mungkin, seperti Benedict Chao, kita akan menemukan bahwa kesetiaan yang dilakukan sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun dapat menjadi warisan yang jauh lebih besar daripada yang pernah kita bayangkan.(AD)

Disadurkan dari Aleteia

Via Artikel
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Wafat di Usia 108 Tahun, Kisah Pastor Benedict Chao Mengajarkan Arti Kesetiaan

Katolik terkini- Agustus 13, 2026 0
Wafat di Usia 108 Tahun, Kisah Pastor Benedict Chao Mengajarkan Arti Kesetiaan
Katolik Terkini - Ada orang yang dikenang karena apa yang mereka capai. Ada pula orang yang dikenang karena apa yang mereka tetap lakukan ketika segala sesuat…

Most Popular

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026
Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Agustus 07, 2026
Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Agustus 07, 2026
Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Agustus 09, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025

Popular Post

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026
Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Agustus 07, 2026
Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Agustus 07, 2026
Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Agustus 09, 2026

Populart Categoris

  • Berita963
  • Cerpen7
  • Doa88
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional368
  • Jelajah115
  • Lifestyle210
  • Nasional167
  • Pelayanan Sosial139
  • Puisi2
  • Refleksi389
  • Sosok326
  • Teologi73
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini