-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Artikel Berita Humaniora Opini Festival Golo Koe 2026: Sinergi Religi dan Budaya
Artikel Berita Humaniora Opini

Festival Golo Koe 2026: Sinergi Religi dan Budaya

Katolik terkini
Katolik terkini
13 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh : RD Stephanus Turibius Rahmat (Imam Keuskupan Labuan Bajo)

Opini, Katolik Terkini - Ketika "Golo Koe", Bukit Kecil itu menggerakkan Perubahan Besar untuk Labuan Bajo.

Di ujung barat Pulau Flores, ada sebuah bukit kecil bernama Golo Koe. Namanya sederhana. Tapi tahun ini, bukit kecil itu menjadi panggung besar bagi harapan besar, Festival Golo Koe 2026.

Festival ini bukan sekadar pesta rakyat. Ini adalah ruang perjumpaan komunal dan perjalanan kolaboratif lintas sektor - antara Gereja, pemerintah, pelaku wisata, seniman, pemuda, dan masyarakat adat Manggarai. Di sini, doa bertemu tarian. Iman bertemu ekologi. Tradisi bertemu masa depan.

Dan di tengah gemuruh pariwisata premium Labuan Bajo, Festival Golo Koe hadir sebagai pengingat: pembangunan tidak boleh meninggalkan orang lokal.

Sinergi Religi: Menguatkan Iman di Tanah Missionaris

Labuan Bajo lahir dari rahim misi. Nilai-nilai Katolik sudah mendarah daging di tanah Manggarai. 

Festival Golo Koe 2026 menjadi ruang untuk menguatkan iman umat Katolik bukan dengan khotbah panjang, tapi dengan perayaan. Misa di alam terbuka, doa bersama untuk laut dan hutan, prosesi yang memadukan kidung rohani dengan musik gong

Iman tidak disimpan di dalam gereja saja. Iman dirayakan bersama, di bawah langit yang sama, di tanah yang sama. Festival ini mengingatkan kita: menjadi Katolik berarti menjadi penjaga sesama dan penjaga ciptaan

Budaya Manggarai: Cinta yang Dirayakan, Bukan Disewa

Pariwisata sering membuat budaya jadi "atraksi". Ditarikan kalau ada tamu, dilupakan kalau tidak ada.

Golo Koe menolak itu. Di sini cinta akan budaya Manggarai dirayakan oleh orang Manggarai sendiri, untuk orang Manggarai sendiri, dan dibagikan kepada dunia. 

Tarian Caci, tenun, syair Tutur, masakan lokal - semuanya naik panggung bukan sebagai komoditas, tapi sebagai identitas. Anak-anak muda diajak menjadi pelaku, bukan hanya penonton. Tetua adat menjadi guru, bukan hanya simbol.

Karena budaya yang hidup adalah budaya yang dipakai, dirayakan, dan diwariskan. Bukan dipajang

Ekologi: "Bagian Kecil" yang Menyelamatkan Bumi

Nama "Golo Koe" - Bukit Kecil - punya makna teologis dan ekologis yang dalam. 

Seperti biji sesawi, sesuatu yang kecil bisa membawa dampak besar bagi kehidupan. Festival ini dengan tegas menjadi promotor nilai-nilai keberlanjutan ekologis. 

Festival Golo Koe 2026 berkomitmen "Segala aktivitas yang mengancam lingkungan berlawanan dengan itikad kita bersama menjaga keutuhan ciptaan."

Tidak ada plastik sekali pakai. Sampah diolah. Panggung memakai bahan lokal. Energi seminimal mungkin. Bahkan ada aksi penanaman dan bersih pantai sebagai bagian dari liturgi festival.

Ini pesan penting untuk pariwisata premium Labuan Bajo: mewah boleh, tapi tidak boleh merusak. Wisatawan datang untuk melihat keindahan, bukan untuk meninggalkan luka.

Dampak Konstruktif: Agar Orang Lokal tidak Tertinggal

Inilah inti dari Festival Golo Koe. Pariwisata premium sering dituduh hanya menguntungkan investor dari luar. Tapi melalui festival ini, arus pembangunan dibelokkan pulang ke kampung.

UMKM lokal jadi vendor resmi. Pemuda lokal jadi pemandu dan pengisi acara. Hasil penjualan tenun langsung ke penenun. Dana sebagian untuk beasiswa dan pelestarian hutan adat.

Festival ini membuktikan: pariwisata bisa berkeadilan. Bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian budaya, iman, dan alam bisa berjalan bersama.

Dari Bukit Kecil untuk Indonesia Besar

Festival Golo Koe 2026 mengajari kita 3 hal, yaitu, Pertama, Religi tanpa budaya jadi kering. Kedua, Budaya tanpa ekologi jadi merusak. Ketiga, Pariwisata tanpa keadilan jadi penjajahan baru. 

Dari sebuah "Bukit Kecil", kita belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal kecil: satu doa, satu tarian, satu pohon yang ditanam, satu anak muda yang bangga jadi orang Manggarai.

Semoga Golo Koe bukan hanya jadi agenda tahunan. Semoga ia menjadi gerakan. Gerakan yang membuat Labuan Bajo bukan hanya destinasi wisata dunia, tapi juga rumah yang layak dan membanggakan bagi tuan rumahnya sendiri.

Selamat merayakan persaudaraan bernuansa religi dan budaya di Festival Golo Koe 2026. Sebab, di sini, yang kecil membawa harapan besar.

Via Artikel
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Munas ISKA 2026 di Balikpapan, Teguhkan Peran Sarjana Katolik untuk Gereja dan Bangsa

Katolik terkini- September 06, 2026 0
Munas ISKA 2026 di Balikpapan, Teguhkan Peran Sarjana Katolik untuk Gereja dan Bangsa
BALIKPAPAN, Katolik Terkini - Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ISKA 2026 pada 11–13 September 2026 di Balikpapan,…

Most Popular

Julie Laiskodat Temui Uskup Agung Ende, Bahas Pemulihan Umat Terdampak Gempa Flores

Julie Laiskodat Temui Uskup Agung Ende, Bahas Pemulihan Umat Terdampak Gempa Flores

Agustus 31, 2026
134 Guru Agama Dikukuhkan sebagai Pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru Kementerian Agama Periode 2026–2030

134 Guru Agama Dikukuhkan sebagai Pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru Kementerian Agama Periode 2026–2030

Agustus 21, 2026
Kolaborasi Pulihkan Flores

Kolaborasi Pulihkan Flores

September 03, 2026
Scholas Occurrentes: Pendidikan yang Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

Scholas Occurrentes: Pendidikan yang Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

September 02, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025

Popular Post

Julie Laiskodat Temui Uskup Agung Ende, Bahas Pemulihan Umat Terdampak Gempa Flores

Julie Laiskodat Temui Uskup Agung Ende, Bahas Pemulihan Umat Terdampak Gempa Flores

Agustus 31, 2026
134 Guru Agama Dikukuhkan sebagai Pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru Kementerian Agama Periode 2026–2030

134 Guru Agama Dikukuhkan sebagai Pengurus Konfederasi Organisasi Profesi Guru Kementerian Agama Periode 2026–2030

Agustus 21, 2026
Kolaborasi Pulihkan Flores

Kolaborasi Pulihkan Flores

September 03, 2026
Scholas Occurrentes: Pendidikan yang Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

Scholas Occurrentes: Pendidikan yang Mengajarkan Kita Menjadi Manusia

September 02, 2026

Populart Categoris

  • Berita992
  • Cerpen7
  • Doa88
  • Film20
  • Filsafat12
  • Internasional369
  • Jelajah115
  • Lifestyle211
  • Nasional174
  • Pelayanan Sosial153
  • Puisi2
  • Refleksi393
  • Sosok326
  • Teologi73
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini