-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Berita Daerah Traveling Uskup Maksimus Regus: Jangan Sampai Labuan Bajo Dikagumi Dunia, tetapi Warganya Kehilangan Tanah dan Alam
Berita Daerah Traveling

Uskup Maksimus Regus: Jangan Sampai Labuan Bajo Dikagumi Dunia, tetapi Warganya Kehilangan Tanah dan Alam

Katolik terkini
Katolik terkini
11 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Labuan Bajo, Katolik Terkini - Festival Golo Koe 2026 kembali menjadi ruang perjumpaan antara iman, budaya, pariwisata, dan kepentingan masyarakat lokal. Di tengah geliat Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata kelas dunia, Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus dan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sama-sama menekankan pentingnya memastikan pertumbuhan pariwisata berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.

Pesan tersebut mengemuka saat Festival Golo Koe 2026 dibuka di kawasan Marina Waterfront Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Senin (10/8/2026).

Uskup Labuan Bajo Mgr. Maksimus Regus mengatakan Festival Golo Koe tidak boleh berhenti sebagai perayaan keagamaan dan kebudayaan. Festival ini, menurut dia, harus menjadi ruang kolaborasi lintas sektor untuk merefleksikan arah pembangunan pariwisata Labuan Bajo dan Flores.

Tahun ini, Festival Golo Koe mengangkat tema “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan.”

Menurut Mgr. Maksimus, tema tersebut bukan sekadar slogan festival, melainkan ajakan untuk melihat secara kritis arah perubahan Labuan Bajo sebagai salah satu pusat pertumbuhan pariwisata dan ekonomi di kawasan timur Indonesia.

“Pertumbuhan untuk siapa?” menjadi salah satu pertanyaan mendasar yang diajukan Uskup Maksimus.

Ia mengingatkan agar perkembangan pariwisata tidak membuat masyarakat lokal justru merasa menjadi orang asing di tanahnya sendiri.

“Kita tidak boleh memiliki kawasan pariwisata yang semakin indah, tetapi masyarakat lokal perlahan merasa asing di tanahnya sendiri,” kata Mgr. Maksimus.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata tidak semata-mata diukur dari jumlah wisatawan, pembangunan hotel, investasi, atau peningkatan pendapatan. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu menghadirkan kehidupan yang layak dan adil bagi masyarakat setempat.

Karena itu, nelayan, petani, pelaku UMKM, perempuan, generasi muda, masyarakat adat, kelompok difabel, dan keluarga-keluarga sederhana harus menjadi bagian dari manfaat pembangunan pariwisata.

Sinergi lintas sektor


Mgr. Maksimus juga menekankan pentingnya persekutuan sinergis. Menurut dia, masa depan Labuan Bajo-Flores tidak dapat ditentukan oleh satu pihak saja.

Pemerintah, Gereja, masyarakat adat, dunia usaha, pelaku pariwisata, komunitas budaya, generasi muda, dan masyarakat sipil perlu berjalan sebagai mitra yang setara.

“Sinergi bukan sekadar duduk bersama dalam sebuah acara. Sinergi berarti keberanian untuk saling mendengarkan, saling mengoreksi, berbagi tanggung jawab, bahkan membatasi kepentingan sendiri demi kepentingan bersama,” ujarnya.

Ia mendorong model pembangunan yang tidak hanya cepat dan besar, tetapi juga tepat dan adil. Orientasi pembangunan, katanya, tidak boleh berhenti pada keuntungan hari ini, melainkan harus mempertimbangkan kehidupan generasi mendatang.

Pesan tersebut kemudian diperluas pada aspek ekologis.

Mgr. Maksimus mengingatkan bahwa eksploitasi alam selama ini lebih banyak berorientasi pada pengambilan daripada pemulihan. Tanah, air, hutan, laut, dan energi terus digunakan untuk menopang aktivitas ekonomi, sementara kemampuan alam memiliki batas.

Karena itu, Festival Golo Koe diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen ekologis.

“Jika kita mengambil pohon, kita harus menanamnya. Jika kita menggunakan air, kita harus menjaga sumbernya. Jika kita menikmati laut, kita harus melindungi pesisirnya. Jika kita menghasilkan sampah, kita harus bertanggung jawab atasnya,” tegasnya.

Budaya dan ruang religius tidak boleh hilang


Selain lingkungan, Mgr. Maksimus menyoroti pentingnya menjaga budaya dan ruang religius masyarakat dalam perkembangan pariwisata Flores.

Menurutnya, Flores tidak boleh hanya dipasarkan sebagai panorama alam. Di balik keindahan alam terdapat budaya, adat, bahasa, kampung, tanah leluhur, ritus, gereja, kapela, masjid, serta tradisi kehidupan masyarakat yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Ia mengingatkan agar pembangunan tidak membuat Labuan Bajo semakin dikenal dunia, tetapi pada saat yang sama kehilangan identitasnya.

“Jangan sampai pembangunan membuat kita semakin terkenal di dunia, tetapi justru membuat kita semakin kehilangan jati diri,” katanya.

Dalam pandangannya, Labuan Bajo-Flores harus mampu menjadi kawasan yang modern tanpa kehilangan akar budaya, terbuka kepada dunia tanpa tercerabut dari identitasnya, serta tumbuh secara ekonomi tanpa mengalami kemiskinan sosial dan spiritual.

Festival Golo Koe pun diposisikan sebagai bentuk “ziarah pertobatan bersama”, yakni ajakan untuk mengubah paradigma pembangunan dari eksploitasi menuju perawatan, dari dominasi menuju persaudaraan, serta dari orientasi keuntungan semata menuju kesejahteraan bersama.

Mgr. Maksimus bahkan menyatakan sikap tegas menolak kebijakan, rencana, maupun uji coba eksploitasi sumber daya alam secara tanpa batas di Pulau Flores, termasuk aktivitas ekstraktif dan panas bumi atau geotermal.

Ia juga berharap Festival Golo Koe yang telah menjadi agenda tahunan dapat terus masuk dalam Top 10 Karisma Event Nusantara (KEN) sekaligus menjadi salah satu penggerak promosi pariwisata yang membawa prinsip keberlanjutan ekologis.

Menpar: masyarakat lokal harus menjadi pelaku utama


Sejalan dengan pesan tersebut, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menilai keterlibatan masyarakat lokal merupakan kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan Festival Golo Koe.

Saat membuka festival, Menpar mengatakan Festival Golo Koe merupakan perayaan yang mempertemukan iman, tradisi, dan kehidupan masyarakat Manggarai dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja.

“Wisatawan hadir untuk experience Labuan Bajo secara lebih utuh, sementara masyarakat tetap menjadi pelaku utama yang menentukan bagaimana identitasnya diperkenalkan kepada dunia,” ujar Widiyanti.

Menurut dia, pengalaman wisata tidak selalu harus dibangun melalui kemegahan atraksi. Nilai spiritual, budaya, dan kemanusiaan yang tumbuh dari masyarakat juga dapat menjadi kekuatan utama pariwisata.

Festival Golo Koe 2026 kembali masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN). Tahun ini menjadi kali ketiga festival tersebut terpilih dalam KEN secara berturut-turut sejak 2024 dan untuk kedua kalinya masuk dalam jajaran Top 10 KEN.

Mengusung tema “Maria Assumpta Nusantara”, Festival Golo Koe memadukan prosesi religi, atraksi budaya, pameran UMKM, pertunjukan seni lokal, kegiatan ekonomi kreatif, hingga agenda ekologis.

Target 50 ribu pengunjung


Dari sisi ekonomi, Festival Golo Koe juga menunjukkan dampak yang cukup besar terhadap aktivitas pariwisata lokal.

Pada 2025, festival ini mencatat lebih dari 45 ribu kunjungan wisatawan. Penyelenggaraan tersebut melibatkan 173 pelaku UMKM dan 883 pekerja seni, serta menciptakan 1.473 kesempatan kerja dengan perputaran ekonomi mencapai Rp2,82 miliar.

Untuk 2026, penyelenggara menargetkan sekitar 50 ribu pengunjung dengan nilai perputaran ekonomi yang diharapkan melampaui capaian tahun sebelumnya.

Peningkatan kunjungan selama festival juga diperkirakan berdampak terhadap tingkat hunian hotel dan homestay di Labuan Bajo.

“Inilah pariwisata berkualitas, ketika pengalaman wisatawan tumbuh bersama manfaat ekonomi dan keberlanjutan kehidupan lokal,” ujar Widiyanti.

Ia mengapresiasi Keuskupan Labuan Bajo, Keuskupan Ruteng, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, serta seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Festival Golo Koe.

Menurut dia, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa sebuah festival dapat berkembang menjadi event unggulan nasional tanpa kehilangan akar budaya dan keterlibatan masyarakat.

Menpar juga berharap Festival Golo Koe ikut berkontribusi terhadap target pariwisata Indonesia pada 2026, yakni 16–17,6 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,18 miliar perjalanan wisatawan nusantara.

“Kiranya Festival Golo Koe terus mengiringi perjalanan Labuan Bajo sebagai destinasi kelas dunia yang maju bersama masyarakat dan tetap teguh pada akar budayanya,” kata Widiyanti.

Ketika iman bertemu pariwisata


Rangkaian Festival Golo Koe 2026 diisi berbagai agenda, mulai dari pentas seni budaya Nusantara, pameran ekonomi kreatif dan kuliner lokal, edukasi ekologis, aksi penanaman pohon, pertunjukan tari Caci, karnaval budaya, Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara, hingga ekaristi agung.

Salah satu agenda utama adalah Prosesi Akbar Maria Assumpta Nusantara. Dalam prosesi tersebut, patung Bunda Maria diarak menggunakan kapal pinisi melintasi perairan Labuan Bajo sebelum dibawa menuju Gua Maria di Golo Koe dari kawasan Marina Waterfront.

Ribuan peserta mengenakan busana adat Manggarai, antara lain kain songke, baju putih, selendang, dan berbagai atribut tradisional lainnya. Prosesi tersebut mempertemukan ekspresi iman Katolik dengan tradisi dan identitas budaya masyarakat Manggarai.

Di tengah transformasi Labuan Bajo menjadi destinasi wisata dunia, Festival Golo Koe menawarkan pesan yang lebih luas bahwa kemajuan pariwisata tidak harus berhadapan dengan iman, budaya, dan lingkungan.

Sebaliknya, ketiganya dapat menjadi fondasi bagi model pariwisata yang menempatkan manusia dan keberlanjutan sebagai bagian utama dari pertumbuhan.

Pada akhirnya, pesan Mgr. Maksimus dan Menpar bertemu pada satu titik, Labuan Bajo tidak cukup hanya menjadi destinasi yang dikagumi dunia, tetapi juga harus menjadi rumah yang tetap layak dihuni, diwarisi, dan dirawat oleh masyarakatnya.(AD)

Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo 

Via Berita
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Uskup Maksimus Regus: Jangan Sampai Labuan Bajo Dikagumi Dunia, tetapi Warganya Kehilangan Tanah dan Alam

Katolik terkini- Agustus 11, 2026 0
Uskup Maksimus Regus: Jangan Sampai Labuan Bajo Dikagumi Dunia, tetapi Warganya Kehilangan Tanah dan Alam
Labuan Bajo, Katolik Terkini - Festival Golo Koe 2026 kembali menjadi ruang perjumpaan antara iman, budaya, pariwisata, dan kepentingan masyarakat lokal. Di t…

Most Popular

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

Agustus 04, 2026
Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Agustus 05, 2026
 Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Agustus 04, 2026
Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025

Popular Post

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

Agustus 04, 2026
Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Agustus 05, 2026
 Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Agustus 04, 2026
Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026

Populart Categoris

  • Berita960
  • Cerpen7
  • Doa88
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional367
  • Jelajah115
  • Lifestyle210
  • Nasional167
  • Pelayanan Sosial139
  • Puisi2
  • Refleksi389
  • Sosok325
  • Teologi73
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini