BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI
Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat, Imam Keuskupan Labuan Bajo
Opini - Katolik Terkini - 81 tahun. Usia matang. Usia di mana kita seharusnya sudah tahu siapa diri kita dan ke mana arah langkah kita.
Begitu pula Indonesia. Di usia 81 tahun, kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan bendera dan lomba. Tema HUT ke-81, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” menampar kita: sudah berapa lama kita hanya menonton dari pinggir lapangan? Sudah berapa lama kita merasa jadi tamu di rumah sendiri?
Agustus adalah jeda. Jeda untuk melakukan retrospeksi, instrospeksi, dan proyeksi. Jeda untuk berhenti menonton, dan mulai membangun
BERDAULAT: RUMAH KITA MASIH MENYEWA
Berdaulat artinya mandiri. Menentukan pangan, energi, dan teknologi kita sendiri. UUD 1945 Pasal 1 ayat 2 tegas: "Kedaulatan berada di tangan rakyat".
Problem: Dapur kita masih impor. Jan-Mei 2026 impor beras 1,85 juta ton dan migas 12,3 juta barel. Di dunia digital lebih parah. 87% transaksi e-commerce dikuasai platform asing. Data 275 juta orang Indonesia jadi komoditas mereka. Politik kita merdeka, ekonomi kita masih menyewa.
Solusi: Berhenti jadi penonton berarti jadi produsen. Perluas hilirisasi ke pertanian, kelautan, dan farmasi. Bukan hanya nikel. Kuatkan 64,2 juta UMKM lewat regulasi yang berpihak. Di sekolah, "Bangga Buatan Indonesia" harus jadi gaya hidup, bukan slogan. Kedaulatan lahir saat anak muda memilih produk lokal dan percaya karya anak bangsa.
ADIL: TETANGGA KITA MASIH TERTINGGAL
Adil artinya akses yang sama untuk hukum, sekolah, kesehatan, dan peluang. Itu janji Sila ke-5 dan Pasal 27 UUD 1945.
Problem: Jurang masih dalam. Gini Ratio 0,381. 10% orang terkaya kuasai 47% kekayaan nasional. Indeks Persepsi Korupsi 2024 skor 37/100. Di 3T, 30% desa belum 4G. Di Papua rasio dokter 1:3.500. Ada 22,5% pemuda usia 15-24 tahun yang tidak sekolah, tidak kerja, tidak pelatihan. Mereka hilang dari radar pembangunan.
Solusi: Berhenti jadi penonton berarti menuntut negara hadir. Benahi DTKS agar bansos tidak salah alamat. Segera sahkan RUU Perampasan Aset. Hentikan pembangunan Jawa-sentris. Audit Dana Otsus Papua, NTT, Maluku dan libatkan masyarakat adat. Keadilan baru ada ketika anak di Wamena dan anak di Jakarta punya guru, sinyal, dan dokter yang setara.
MAKMUR: GRAFIK NAIK, PERUT MASIH KOSONG
Makmur bukan angka. Makmur adalah ibu di pasar pulang tanpa utang. Makmur adalah lulusan baru tidak takut PHK. Tujuan negara: "memajukan kesejahteraan umum".
Problem: Pertumbuhan Q1 2026 di angka 5,02%. Tapi PHK Jan-Juni 2026 tembus 78 ribu orang. 40% penduduk masih rentan miskin. Tax ratio 10,15% membuat negara kekurangan bahan bakar fiskal. Kita kaya raya, tapi rakyat masih antre sembako.
Solusi: Berhenti jadi penonton berarti ikut bekerja. Percepat reskilling dan upskilling untuk era AI dan energi hijau. Kejar swasembada pangan 2028 berbasis petani, bukan korporasi. Capai target bauran EBT 23% agar lepas dari impor BBM. Reformasi pajak harus adil: kejar pajak digital dan orang kaya. Dana rampasan korupsi kembalikan untuk sekolah dan rumah sakit rakyat.
PENUTUP: DARI PENONTON JADI PEMILIK
Negara tidak dibangun oleh pidato. Negara dibangun oleh guru yang tepat waktu, dokter yang tidak pungli, petani yang tanahnya tidak dirampas, dan pemuda yang tidak apatis.
Edisi HUT ini bertema "Bukan Tamu di Negeri Ini". Tepat. Karena tamu boleh pulang. Tamu tidak cuci piring. Tamu tidak perbaiki atap bocor.
Indonesia bukan hotel. Ini rumah kita.
Berhentilah jadi penonton. Berhentilah jadi tamu. Mulai hari ini jadilah pemilik, perawat, dan tukang yang memperbaiki.
Indonesia Berdaulat, Adil, Makmur bukan hadiah. Ia adalah hasil investasi diam-diam jutaan warga yang memilih tidak diam.
Dirgahayu RI ke-81. Bukan tamu. Ini rumah kita. Mari kita rawat bersama.

Posting Komentar