Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria
LABUAN BAJO, Katolik Terkini — Sebuah momen sederhana namun sarat makna terjadi dalam rangkaian ziarah Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara di wilayah Paroki Sok Rutung, Keuskupan Labuan Bajo. Seorang gadis Muslim berjilbab dengan penuh hormat menyematkan selendang pada Arca Bunda Maria yang sedang diarak menuju puncak Festival Golo Koe "Maria Assumpta Nusantara".
Aksi tersebut bukan sekadar bagian dari prosesi penyambutan, melainkan menjadi simbol nyata persaudaraan lintas agama yang hidup di tengah masyarakat Flores. Di hadapan umat Katolik yang mengiringi arca, gadis Muslim itu menunjukkan penghormatan kepada keyakinan yang berbeda tanpa harus meninggalkan identitas imannya. Sebaliknya, komunitas Katolik membuka ruang bagi keterlibatan saudara-saudari Muslim dalam sebuah perayaan religius.
Momen yang berlangsung saat arca memasuki wilayah Paroki Sok Rutung itu menjadi salah satu potret paling berkesan dalam perjalanan ziarah yang dimulai sejak 10 Juli 2026.
Ziarah yang Menjadi Ruang Perjumpaan
Sejak diberangkatkan dari titik awal perziarahan, Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara telah mengunjungi berbagai paroki di Keuskupan Labuan Bajo. Perjalanan ini bukan hanya menghubungkan komunitas-komunitas Katolik, tetapi juga mempertemukan beragam latar belakang budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat di setiap wilayah yang dilalui.
Memasuki kawasan Kevikepan Labuan Bajo, ziarah tersebut berkembang menjadi ruang dialog dan persaudaraan. Di berbagai titik, masyarakat Muslim turut menyambut kedatangan arca, berpartisipasi dalam prosesi, serta menunjukkan dukungan terhadap pelaksanaan Festival Golo Koe.
Penyematan selendang oleh seorang gadis Muslim di Paroki Sok Rutung menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak harus melahirkan sekat. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi ruang untuk saling mengenal, menghormati, memperkaya, dan membangun kehidupan bersama.
Festival Golo Koe Rayakan Harmoni Keberagaman
Festival Golo Koe selama ini dikenal bukan hanya sebagai perayaan religius, tetapi juga festival budaya yang mengangkat semangat persaudaraan dan kemajemukan. Berbagai pertunjukan seni, pameran budaya, kuliner lokal, hingga prosesi Maria Assumpta Nusantara menjadi bagian dari perayaan yang mempertemukan masyarakat lintas agama dan budaya.
Sebagai salah satu agenda Top Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, festival ini menghadirkan wajah pariwisata yang tidak hanya menawarkan panorama alam Labuan Bajo, tetapi juga pengalaman sosial dan budaya yang inklusif.
Festival tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata dapat menjadi sarana membangun dialog, mempererat relasi antarkelompok masyarakat, sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan. Labuan Bajo tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat dirawat sebagai kekayaan bersama.
Dari Koeksistensi Menuju Proeksistensi
Vikep Labuan Bajo, Rm. Yuvens Rugi, menyebut Festival Golo Koe sebagai "mozaik persaudaraan universal". Menurutnya, kebersamaan lintas agama yang tumbuh selama festival tidak berhenti pada hidup berdampingan, tetapi berkembang menuju hubungan yang saling mendukung dan menguatkan.
"Kebersamaan lintas iman ini tidak hanya diperlihatkan dalam seremoni budaya, tetapi juga dalam perayaan iman," ujar Rm. Yuvens, Minggu (3/8/2026).
Ia memperkenalkan konsep proeksistensi, yaitu kehidupan bersama yang tidak hanya mengakui keberadaan pihak lain, tetapi juga mendorong setiap orang untuk berkembang secara kreatif melalui relasi yang saling menopang.
Menurutnya, toleransi tidak cukup dimaknai sebagai tidak saling mengganggu, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata untuk membantu sesama bertumbuh bersama.
Perbedaan Menjadi Jalan Memperkaya
Pandangan senada disampaikan Pastor Paroki Sok Rutung, Rm. Ferdy Mayus. Ia menilai keterlibatan umat Muslim dalam prosesi Arca Bunda Maria merupakan pengalaman religius yang sangat bermakna.
"Perbedaan bukan pertentangan, tetapi sarana untuk mengenal semakin dekat dan memperkaya satu sama lain," ungkapnya, Sabtu (2/8/2026).
Menurutnya, penghormatan terhadap keyakinan orang lain tidak menuntut seseorang meninggalkan iman yang dianutnya. Sebaliknya, kedewasaan beragama justru tampak dalam keterbukaan menerima keunikan sesama.
Nilai tersebut tercermin dalam tindakan sederhana seorang gadis Muslim yang menyematkan selendang pada Arca Bunda Maria. Sebuah tindakan yang melampaui simbol seremonial dan menjadi pesan kuat tentang persaudaraan.
Sejalan dengan Semangat Persaudaraan Universal
Semangat yang tumbuh dalam Festival Golo Koe dinilai sejalan dengan Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama (Human Fraternity for World Peace and Living Together) yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar, Sheikh Ahmad Al-Tayeb, pada 2019.
Pesan utama dokumen tersebut adalah membangun relasi harmonis antarmanusia tanpa memandang perbedaan agama, budaya, maupun identitas
Festival Golo Koe menerjemahkan nilai itu melalui pengalaman nyata: mempertemukan masyarakat, membuka ruang dialog, merawat budaya lokal, dan menumbuhkan persaudaraan lintas iman.
Di tengah dunia yang kerap terpolarisasi oleh perbedaan identitas, Labuan Bajo justru memperlihatkan bahwa keberagaman dapat menjadi jembatan, bukan tembok pemisah.
Menuju Puncak Festival
Saat ini Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara telah memasuki wilayah Kota Labuan Bajo setelah menempuh perjalanan panjang mengunjungi paroki-paroki di Keuskupan Labuan Bajo.
Perjalanan tersebut akan berakhir pada puncak Festival Golo Koe yang dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026.
Bagi penyelenggara, berakhirnya ziarah bukan sekadar penutup sebuah prosesi, melainkan puncak dari seluruh pengalaman perjumpaan yang telah terjalin antara umat, masyarakat, budaya, alam, dan berbagai komunitas yang hidup berdampingan di Flores.
Melalui Festival Golo Koe, Labuan Bajo tidak hanya mengajak wisatawan menikmati keindahan alam dan budaya, tetapi juga menawarkan pengalaman tentang pentingnya hidup dalam persaudaraan. Pesan yang terus bergema dari perjalanan Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara adalah bahwa perbedaan iman tidak menghalangi manusia untuk berjalan bersama dalam semangat kemanusiaan dan saling menghormati.
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan

Posting Komentar