Sambut 100 Tahun Kolese Kanisius, Siswa Project AS2 Gelar Aksi Sosial untuk Anak-anak dan Penyandang Disabilitas
Katolik Terkini - Menyambut perayaan 100 tahun Kolese Kanisius yang akan diperingati pada tahun 2027, sekelompok siswa yang tergabung dalam Project AS2 menginisiasi program sosial bertajuk Aksi 100 Tahun Kolese Kanisius.
Melalui program tersebut, para siswa berupaya menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat melalui dua kegiatan sosial yang berfokus pada pelayanan kesehatan dan kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan pertama dilaksanakan pada 31 Mei 2026 di Rumah Teduh Suryo dengan melibatkan 34 pasien. Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan pelatihan dan terapi akupresur yang dipandu oleh dokter spesialis akupunktur dari Klinik Esaka. Selain pelayanan kesehatan, para siswa juga mengadakan berbagai aktivitas hiburan untuk memberikan semangat dan keceriaan kepada anak-anak yang sedang menjalani perawatan.
Ketua pelaksana Project AS2, Kurniawan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga memberikan dukungan emosional bagi para pasien.
“Kami melakukan pengobatan akupuntur dan menghibur anak-anak yang ada di area tersebut. Selain itu, kami membantu mereka menjadi lebih senang dan lebih ekspresif dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Sementara itu, kegiatan kedua berupa bakti sosial pemeriksaan dan pengobatan gigi gratis yang dilaksanakan di SLBN 02 Jakarta pada Kamis (18/6/2026). Kegiatan ini menyasar seluruh jenjang pendidikan di sekolah tersebut, mulai dari SDLB, SMPLB, hingga SMALB, serta para guru dan tenaga kependidikan.
Jumlah penerima manfaat dalam kegiatan ini mencapai lebih dari 300 orang, terdiri atas 87 siswa SDLB, 77 siswa SMPLB, 74 siswa SMALB, 53 guru, serta 9 tenaga kependidikan. Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan, sebanyak 40 dokter gigi dan 32 siswa Project AS2 turut terlibat sebagai relawan.
![]() |
| Siswa-siswi SLB Negeri 02 Jakarta |
Pelayanan yang diberikan meliputi penyuluhan cara menyikat gigi yang benar, pemeriksaan kesehatan gigi, pencabutan gigi sederhana, serta penambalan gigi sederhana. Khusus siswa SDLB, kegiatan difokuskan pada edukasi kesehatan gigi dan pemeriksaan awal, sementara siswa SMPLB, SMALB, dan para guru mendapatkan pelayanan medis yang lebih lengkap.
Guru Kolese Kanisius, Corri Silviani, menjelaskan bahwa kegiatan sosial ini merupakan bagian dari rangkaian panjang perayaan satu abad Kolese Kanisius.
“Latar belakang kegiatan ini adalah perayaan 100 tahun Kanisius yang akan dirayakan tahun depan. Masih banyak kegiatan lain yang dilaksanakan oleh para Kanisian, salah satunya hari ini,” jelasnya.
Menurut Corri, kegiatan tersebut melibatkan berbagai pihak, mulai dari siswa, orang tua, tenaga medis, hingga para donatur.
“Kegiatan hari ini berlangsung sejak pagi. Yang terlibat tentunya para Kanisian yang menginisiasikan kegiatan ini, dibantu oleh orang tua, dokter, dan para donatur,” tambahnya.
Panitia Dokumentasi Project AS2, Nicolas Sinaga, menuturkan bahwa kegiatan pemeriksaan gigi di SLBN 02 Jakarta dipilih karena para siswa ingin memberikan manfaat langsung bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kita melaksanakan kegiatan kedua dari Project AS2, yaitu penyuluhan dan pemeriksaan gigi gratis kepada murid-murid SLB Negeri 02 Jakarta. Kita melakukan penyuluhan bagaimana cara menyikat gigi dengan benar, pemeriksaan gigi, pencabutan gigi, dan penambalan sederhana,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sekolah tersebut dipilih secara khusus sebagai bentuk pelayanan tulus kepada para siswa penyandang disabilitas.
“Sekolah ini merupakan pilihan utama kami. Kami tulus ingin memberikan pelayanan berupa penyuluhan dan pemeriksaan gigi gratis agar ke depannya mereka bisa menjadi anak-anak yang lebih sehat,” ujarnya.
![]() |
| Kurniawan dan Nicolas, dua siswa Kolese Kanisius |
Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari para orang tua siswa. Salah seorang ibu mengaku sangat terbantu karena dapat mengetahui kondisi kesehatan gigi anaknya secara lebih detail.
“Tanggapan saya mengenai acara penyuluhan ini sangat bagus karena kita jadi bisa mengetahui kondisi gigi anak kita. Yang kita pikir giginya baik ternyata ada yang masih goyang dan ada yang berlubang. Jadi kita lebih sadar tentang kesehatan gigi anak-anak,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh salah satu dokter gigi yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia menilai seluruh rangkaian acara berjalan dengan baik berkat kerja sama semua pihak.
“Puji Tuhan kegiatan hari ini berjalan lancar. Anak-anak terlihat cukup kooperatif saat menjalani pemeriksaan dan mereka juga senang sekali dengan kedatangan kami,” tuturnya.
Bagi para siswa Kanisius, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga yang memberikan banyak pelajaran hidup. Salah seorang peserta mengaku bersyukur dapat terlibat secara langsung dalam pelayanan kepada sesama.
“Saya sangat senang karena bisa membantu mereka. Sebenarnya mereka juga sama seperti kita, sehingga kita harus saling membantu,” ujarnya.
![]() |
| Pemeriksaan gigi oleh para dokter, yang ikut dalam kegiatan sosial Project AS2 |
Menurut Nicolas Sinaga, pengalaman berinteraksi dengan anak-anak penyandang disabilitas memberikan pelajaran penting mengenai rasa syukur dan kepedulian sosial.
“Dari kegiatan ini kami belajar untuk bersyukur karena masih banyak anak-anak yang memiliki disabilitas. Kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki dan belajar membantu semua orang, terutama mereka yang mengalami kesulitan,” ungkapnya.
Kurniawan pun mengajak generasi muda untuk terus menumbuhkan semangat pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Marilah kita sering membantu dan melayani orang lain. Bukan hanya ingin dilayani, tetapi juga mau melayani sesama,” pesannya.
Nicolas menambahkan bahwa ketulusan dan pengorbanan merupakan nilai penting yang perlu terus ditanamkan.
“Kita harus menjadi orang yang tulus dan rela berkorban untuk membantu anak-anak Indonesia yang memiliki disabilitas atau sedang mengalami kesusahan,” ujarnya.
Ibu Corri Silviani mengaku terharu melihat semangat para siswa yang rela meluangkan waktu di tengah kesibukan mereka untuk melayani sesama.
“Saya cukup terharu karena di tengah kesibukan dan hari libur seperti ini mereka mau terlibat. Mereka berinisiatif membantu para dokter dan melihat secara langsung bagaimana pelayanan kesehatan dilakukan,” katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat memperluas wawasan para siswa mengenai realitas sosial di luar lingkungan sekolah.
“Saya senang karena anak-anak mau terlibat dan belajar mengenal situasi yang ada di luar. Mereka tidak hanya belajar di dalam Kanisius, tetapi juga belajar dari kehidupan nyata sebagai seorang Kanisian yang peduli kepada sesama,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan ini, para panitia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang telah berkontribusi, antara lain Lemonilo, Khong Guan, Natrindo Prima, Wings, Kroopoo, dan Zee.
Salah seorang orang tua siswa SLBN 02 Jakarta turut menyampaikan rasa terima kasih atas kepedulian yang diberikan.
“Kami mengucapkan terima kasih atas program dari Kanisius yang bekerja sama dengan Ciptaden sehingga anak-anak menjadi lebih kuat dan kesehatan mulut mereka lebih terjaga,” katanya.
Menutup kegiatan tersebut, Corri berpesan kepada generasi muda agar terus belajar, rendah hati, dan terbuka terhadap berbagai pengalaman hidup.
“Tetaplah belajar, rendah hati, dan ambillah pelajaran dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Banyak pengalaman berharga yang bisa membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik,” tegasnya.
Melalui Aksi 100 Tahun Kolese Kanisius, para siswa Project AS2 tidak hanya merayakan perjalanan panjang sekolah mereka, tetapi juga menunjukkan bahwa semangat pendidikan sejati diwujudkan melalui kepedulian, pelayanan, dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan.(AD)





Posting Komentar