Kebersihan Makam Yesus: Kebersihan Hati - Kebersihan Ekologis
Oleh: Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM
Cagait – Friary of Portiuncula – Paskah, 4 April 2026
Katolik Terkini - Salah satu tema menarik untuk direfleksikan pada peristiwa kebangkitan Yesus ialah tema makam yang kosong. Pada makam yang kosong itu tampak jelas realitas kebersihan dan keteraturannya. Bertitik tolak dari kebersihan makam itu, kami merenungkan lebih lanjut tentang kebersihan hati dan kebersihan ekologis sebagai salah satu pesan Paskah bagi kita.
Ketertarikan pada pokok kebersihan ini diinspirasikan oleh perjalanan fisik yang kami lakukan dengan berlayar dari satu pulau ke pulau lain di bagian selatan Filipina. Kami menyaksikan keindahan alam dan kebersihan laut sebagai hasil usaha serta kesadaran manusia yang mendiami pantai-pantai tersebut.
Makam Yesus yang tertinggal rapi dan bersih
Kisah kebangkitan Yesus dituturkan oleh keempat penginjil. Satu hal yang sama tertulis di sana ialah para perempuan serta rasul Petrus dan Yohanes menemukan kubur yang kosong; jenazah Yesus tidak lagi ada di sana.
Penginjil Yohanes bertutur: “Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung” (Yoh 20:3–7).
Selain makam yang kosong namun tetap bersih dan rapi, penginjil Matius juga menceritakan ketakutan para penjaga makam, yakni serdadu sewaan Herodes (bdk. Mat 28:4). Ada pula malaikat Allah yang memberitahukan kepada Maria Magdalena dan Maria yang lain yang datang ke kubur (bdk. Mat 28:1) dengan berkata: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia.”
Kisah para penginjil mengungkapkan keadaan makam setelah Yesus bangkit. Ada kerapian dan kebersihan yang disaksikan oleh para perempuan dan para rasul yang datang ke makam pada pagi itu. Pada kesempatan Paskah 2026 ini, kami menguraikan secara istimewa kebersihan atau keteraturan makam Yesus, yang kami kaitkan dengan kebersihan hati dan kebersihan ekologis.
Kebersihan makam Yesus digambarkan secara khusus oleh penginjil Yohanes, yang menuturkan secara rinci keberadaan kain-kain yang digunakan untuk menyelimuti jenazah Yesus. Terlihat jelas tidak terjadi kekacauan, walaupun terjadi gempa bumi hebat saat peristiwa kebangkitan (bdk. Mat 28:2). Kain kapan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya menutup kepala Yesus berada di samping dan sudah tergulung rapi (lih. Yoh 20:7).
Ada kerapian, ada kebersihan dalam makam. Tentu saja peristiwa kebangkitan serta segala keteraturan dan kerapian (kebersihan makam) merupakan karya Allah. Karya-Nya selalu menghasilkan yang baik, sebagaimana dalam kisah penciptaan: “Semua yang diciptakan, semuanya baik.” Demikianlah, peristiwa kebangkitan meninggalkan keadaan yang rapi, bersih, dan teratur di ruang makam yang kosong tanpa jasad Yesus.
Kebersihan ekologis pantai Coron, Palawan, Coluan, Cagait
Refleksi sederhana tentang kebersihan makam Yesus ini menghantar kami untuk berefleksi tentang kebersihan ekologis. Merayakan Paskah Kebangkitan Yesus semestinya meneguhkan kita untuk tekun meneruskan misi pewartaan ekologis. Misi ini terkait dengan usaha-usaha konkret manusia untuk merawat bumi serta lingkungan hidup, dan menjaga keutuhan seluruh ciptaan Tuhan: bumi, udara, laut, hutan, dan air.
Dengan kata lain, iman akan kebangkitan Kristus mesti mempengaruhi perilaku manusia terhadap alam semesta dan lingkungan hidupnya. Manusia beriman dipanggil untuk mengembangkan aksi nyata dalam menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan, dengan inspirasi yang ditimba dari kebersihan makam Yesus yang kosong itu. Manusia Paskah dipanggil untuk mewujudkan persaudaraan dengan menjaga serta melestarikan lingkungan hidupnya.
Pengalaman akan kebersihan ekologis ini kami temukan ketika melakukan perjalanan dari pulau ke pulau di selatan Filipina. Dengan semangat Paskah, kami melihat implikasi iman itu dalam usaha menciptakan dan merawat kebersihan alam.
Berangkat menggunakan perahu kecil bermesin dua, kami meninggalkan kota Coron–Palawan menuju kota Coluan, lalu ke kampung kecil Cagait. Sambil menunggu perahu penuh penumpang (harus 34 orang), kami bercakap-cakap di tempat penantian di pelabuhan Coron. Kendati tempat itu sederhana dan dihuni oleh masyarakat kecil, para penjual makanan ringan di warung sederhana, air laut di pelabuhan tempat perahu-perahu bersandar tampak bersih, bening, dan bebas sampah.
Tidak terlihat sampah plastik, botol, atau sisa-sisa barang rumah tangga seperti kasur dan bantal rusak. Pemandangan kebersihan pantai dan air laut itu sungguh mengherankan kami. Kami justru sering menyaksikan pantai-pantai yang didiami penduduk di Indonesia umumnya kotor, tidak bersih, dan dipenuhi sampah berserakan.
Pemandangan kebersihan ini tidak hanya ditemukan di Coron. Ketika kami berlayar menuju Coluan, kami menemukan keadaan yang sama. Pantai Coluan yang dihuni para nelayan sederhana tetap bersih; tidak tampak sampah berserakan.
Kami pun mengamati lebih dekat. Kami berkesempatan singgah di rumah Bapak Andi dan istrinya, Ibu Richi, umat di kota kecil Coluan. Bapak Andi adalah mantan OFM yang kini menjadi pengusaha roti. Rumahnya berdiri hingga ke bibir pantai, bahkan sebagian dibangun di atas laut. Rumah para tetangganya pun demikian.
Namun, kami tidak menemukan sampah. Air lautnya bersih dan jernih. Keadaan ini sangat berbeda dengan banyak pantai di Indonesia, di mana sampah plastik, gelas sekali pakai, dan limbah rumah tangga kerap terlihat di mana-mana, baik di pulau besar maupun kecil seperti Pulau Padar, Pulau Kelor di perairan Komodo, atau Kepulauan Seribu di Ancol. Kebersihan pantai terasa sulit ditemukan di negeri kita tercinta.
Formasi kebersihan hati dan kebersihan ekologis
Pertanyaan pun muncul dalam diri kami: mengapa pantai-pantai di wilayah selatan Filipina ini begitu bersih? Apakah ada aturan ketat dari pemerintah atau Gereja?
Secara sosial, masyarakat Indonesia dan Filipina tidak jauh berbeda. Keduanya merupakan negara kepulauan, bahkan Indonesia memiliki jumlah pulau yang lebih banyak. Namun mengapa dalam hal kebersihan pantai dan laut terdapat perbedaan yang begitu mencolok?
Perbedaan itu tampak dalam perilaku manusianya. Di Coron, Coluan, dan Cagait, relasi manusia dengan alam tampak lebih terjaga. Sampah-sampah yang biasa terlihat di pantai Indonesia tidak ditemukan di sana, bahkan di tempat wisata seperti Laguna Kayangan. Air lautnya bening, pantainya bersih dari plastik dan limbah lainnya.
Kebiasaan membuang sampah sembarangan tampaknya menjadi titik pembeda utama. Dari pengalaman beberapa hari tinggal di sana, kami sungguh kagum pada saudara-saudari kita di Filipina. Mereka mampu menjaga kebersihan ekologis, meskipun hidup dalam kesederhanaan ekonomi.
Perilaku ini tentu merupakan buah dari formasi hati, budi, pikiran, dan tindakan. Maka muncul pertanyaan: model formasi seperti apa yang dijalankan oleh pemerintah, masyarakat, dan komunitas setempat sehingga kebersihan ekologis itu begitu nyata?
Persoalan kemiskinan, korupsi, dan kesenjangan sosial mungkin serupa dengan Indonesia. Namun perbedaan yang mencolok adalah kebersihan ekologis yang nyata di pantai dan laut mereka. Apakah ini juga berkaitan dengan kebersihan hati?
Semoga kebersihan makam Yesus menginspirasi kita semua untuk membangun kebersihan hati dan kebersihan ekologis dalam merayakan Paskah 2026.
Selamat Paskah dari Cagait – Mission Station of OFM Manila.

Posting Komentar